Pasukan Biru Keluhkan Rendahnya Kesadaran Masyarakat

Mataram (Suara NTB) – Untuk mengantisipasi genangan maupun banjir di Kota Mataram, setiap hari para anggota pasukan biru turun membersihkan saluran maupun sungai dari tumpukan sampah. Ratusan anggota pasukan biru Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram ini menyebar ke berbagai lokasi melakukan pembersihan saluran. Salah satu saluran yang tiap hari dibersihkan ialah yang berada di Jalan Catur Warga, atau di dekat Kantor BKKBN NTB.

Salah seorang anggota pasukan biru, Syamsul Hadi mengeluhkan di dalam saluran tersebut terdapat pipa yang melintang. Kelancaran air kerap terganggu, sampah tak bisa mengalir akibat terhalang pipa.

“Tiap hari banjir (air meluap) di sini. Karena di bawah saluran itu ada pipa. Sampah enggak bisa lancar mengalir. Ada dua pipa di sana, besar-besar,” katanya kepada Suara NTB ditemui sembari mengangkat sampah dari saluran, Rabu, 8 Februari 2017.

Baca juga:  Relokasi Korban Banjir Naik Penyidikan

Volume sampah yang diangkat dari saluran tersebut tiap hari bisa mencapai satu sampai dua truk. Banyaknya sampah yang berada di saluran ini karena masih rendahnya kesadaran warga membuang sampah dengan tertib di tempat yang telah disediakan. Syamsul pun sangat menyayangkan hal ini. Ia juga kerap menegur warga yang ditemukan membuang sampah ke dalam saluran.

“Orang yang dilarang malah lebih ganas. Di sini juga

sering kami temui orang buang sampah, tapi mereka ndak mau dilarang. Kita sudah bosan menegur. Mereka sudah tahu tempat yang seharusnya untuk buang sampah,” tuturnya.

Agar aliran air tetap lancar dan saluran tak tersumbat, dua hari dalam sepekan anggota pasukan biru juga masuk ke dalam saluran untuk mengangkat sampah. “Makanya kita tetap masuk ke dalam saluran, merangkak caranya,” ujar anggota pasukan biru lainnya, Maldi.

Baca juga:  Pemadaman Habiskan Rp750, Kebakaran TPA Kebon Kongok Jadi Pembelajaran

Maldi harus masuk ke dalam saluran tiap Selasa dan Jumat. Jika tidak, maka sampah yang terhalau pipa di dalamnya akan menghalangi kelancaran aliran air sehingga dapat memicu genangan.

“Tapi kalau lagi banjir, tetap harus masuk mengambil sampah yang tersendat karena pipa,” ujarnya. Pekerjaan tersebut cukup membahayakan. Untuk itu harus ada anggota lainnya berjaga di luar saluran untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu arus air semakin deras. “Kalau ndak ada yang jaga bisa mati kita di dalam,” kata Maldi.

Ia juga merasa heran dengan masih banyaknya warga yang membuang sampah ke dalam saluran. Ia juga kerap menemukan kasur busa yang dibuang ke dalam saluran.

“Kadang kita temukan kasur di dalam saluran. Semua dibuang di sini. Makanya saya bilang orang ndak punya otak, buang sampah sembarangan,” sesalnya. (ynt)