Banyak Pejabat Mengaku Dekat dengan Kepala Daerah

Advertisement

Mataram (Suara NTB) -Pelaksanaan panitia seleksi (pansel) Kota Mataram diterpa isu tak sedap. Sejumlah nama diduga telah dipersiapkan mengisi posisi. Sehingga, pansel jabatan pimpinan tinggi (JPT) pratama disinyalir sekedar formalitas.

10 posisi kosong itu diantaranya, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah, Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM, Dinas LH, Badan Penelitian dan Pengembangan, Dinas PMK, Dinas Perdagangan, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dispora. Selanjutnya, dua posisi staf ahli.

Pembiayaan pansel ini melalui dana anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kota Mataram. Nilainya sekitar Rp 200 juta.

Kepala Sekretariat Pansel, Taufik Priyono menyangkal tudingan pansel hanya formalitas. Menurutnya, semua pegawai yakin memiliki kedekatan dengan kepala dan wakil kepala daerah. Tapi di balik itu kembali ke masing – masing individu. Apakah mampu atau tidak serta memiliki kompeten di bidang tersebut.

“Boleh mereka pede bilang dekat dengan pejabat. Tapi semuanya kembali kebijakan pimpinan,” katanya, Rabu, 25 Januari 2017.

Pola perengkingan jadi standar diserahkan ke walikota. Pejabat pembina kepegawaian tetap memilih satu dari tiga pejabat tersebut. Tidak serta merta katanya, pimpinan memilih orang disinyalir menempati posisi tersebut.

“Pejabat harus bisa serius, Tidak ada formalitas,” tegasnya.

Anggota pansel, Dr. MA. Muazzar Habibi menanyakan apakah ada sesuatu harus digaris bawahi. Yoyok menyampaikan, kemungkinan kebijakan semua diberlakukan sama. Berarti pansel bekerja tidak di bawah tekanan.

“Proses seleksi tetap transpran dan media dipersilahkan meliput setiap pelaksanaan,” bebernya.

Penegasan sama disampaikan Dr. MA. Muazzar Habibi. Pansel sampai saat ini belum mengetahui nama – nama yang mendaftar seleksi JPT Pratama. Sehingga, asumsi formalitas tidak mungkin. Apalagi pejabat dari Kabupaten Lombok Barat ikut mendaftar.

“Kami belum jelas mana pejabat yang mengambil apa kita tidak tahu. Belum tentu mereka dinyatakan lulus. Kecuali, kalau sudah tahu kemudian ada asumsi tersebut,” katanya.

Proses seleksi dilakukan secara terbuka. Bedanya pada proses wawancara personal dilakukan langsung. Tapi sebelum itu, didahului dengan persentasi makalah. Tahap berikutnya, kandidat dilakukan wawancara materi sekaligus wawancara personal.

“Nanti satu lawan satu. Satu peserta lewati lima pansel. Tidak mungkin disetting,” ujarnya.

Penilaian masing – masing pansel akan dirembukan. Ini menghindari hal – hal tidak diinginkan. Kalaupun nama diasumsikan memperoleh nilai bagus, itu hanya kebetulan dan tidak ada permainan.

Tiga pansel berasal dari independen akan menetralisir dua pansel dari internal. “Makanya kenapa itu harus ganjil. Tiga pansel itu untuk netralitas. Kalau nilai tiga ini rendah, tidak mungkin dikatrol. Nilai tidak bisa diubah, kecuali belum assessment,” ujarnya. (cem)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.