Cidomo, Angkutan Tradisional yang Tak Lekang oleh Modernisasi

Mataram (Suara NTB) – Telah begitu lama cidomo menjadi alat transportasi tradisional di daerah ini. Bahkan di Kota Mataram, kendati muncul berbagai bentuk alat transportasi modern, angkutan tradisional dengan memanfaatkan tenaga kuda ini tetap bertahan dan memiliki pelanggan tersendiri.

Menurut salah seorang kusir cidomo asal Pelembak, Mataram, Ahmad Aniyah (63), cidomo sulit terhapuskan kendati muncul banyak alternatif angkutan modern seperti angkot, bus trans Mataram (BRT), taksi, ojek, dan lainnya.

“Ini kan tradisi. Sulit mau dihapus,” ujarnya kepada Suara NTB di Pasar Kebon Roek, Ampenan belum lama ini. Aniyah sendiri telah puluhan tahun melakoni hidup menjadi kusir cidomo atau sejak 1971. Dengan cidomo itulah ia menghidupi keluarganya. Kendati penghasilannya tak banyak dalam sehari, namun ia dengan sepenuh hati menjalankan cidomonya setiap hari dengan mangkal di Pasar Kebon Roek.

Baca juga:  Parkir Sembarangan, Dishub Kembali Gembok Ranmor

Ia menceritakan dulu di Pelembak jumlah kusir cidomo cukup banyak. Sebagian besar warga Pelembak bekerja sebagai kusir cidomo. Tapi kini jumlahnya terus berkurang. “Dulu banyak di Pelembak, sekarang tinggal sekitar 25 persen atau sekitar 20 orang. Kalau dulu hampir 100 orang,” cerita kakek sembilan cucu ini. Semakin berkurangnya jumlah kusir cidomo karena kebanyakan dari mereka beralih pekerjaan. “Banyak yang jadi TKI,” imbuhnya.

Aniyah sendiri mengaku tetap menjadi kusir cidomo di usia senjanya karena hanya itulah yang bisa ia kerjakan. “Usia yang tidak mengizinkan untuk pekerjaan lain,” ujarnya. Penghasilannya dalam sehari tak menentu, tergantung jumlah penumpang. Biasanya setengah hari dari pagi sampai pukul 13.00 ia mengantongi Rp 50 ribu. Pendapatan tersebut kemudian ia sisihkan untuk membeli dedak sebagai makanan kuda dan rumput. “Dedaknya Rp 15 ribu sehari. Kalau rumput nyabit sendiri, tapi kalau beli Rp 15 ribu satu karung, jadi sehari biayanya Rp 30 ribu,” sebutnya. Selain itu tiap dua pekan, ia harus mengganti sepatu kuda dengan biaya Rp 24 ribu. Walaupun demikian, ia tetap bersyukur dengan hidupnya. “Cukup-cukupin dengan hasil cidomo ini. Kita harus bersyukur dalam hidup ini. Namanya juga ikhtiar. Siapa juga yang ndak mau hidup mewah?” kata Aniyah.

Baca juga:  Pemprov NTB Desak Perbaikan Dermaga II Padangbai Dipercepat

Ia juga kerap mengantar wisatawan asing ke beberapa objek wisata. Menurutnya wisatawan asing sangat tertarik menggunakan cidomo. “Turis senang juga naik cidomo. Biasanya saya antar ke Pantai Ampenan, ke Loang Baloq, keliling kota,” ujarnya. Cidomo juga pernah diwacanakan akan menjadi angkutan wisatawan oleh Dinas Pariwisata Kota Mataram sejak beberapa tahun lalu namun hingga kini belum terwujud. (ynt)