Tidak Ada Toleransi bagi Pedagang Miras Tradisional

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram tidak akan memberikan toleransi bagi pedagang minuman keras (miras) tradisional. Pasalnya, pedagang sudah berulangkali diperingati bahkan diberikan kompensasi dalam bentuk bantuan modal usaha.

Kepala Bidang Trantibum Satpol PP Kota Mataram, Bayu Pancapati menyampaikan, Pemkot Mataaram beberapa pekan lalu sudah memberikan bantuan berupa kompensasi kepada pedagang minuman keras. Kompensasi tersebut berdasarkan data diserahkan oleh kelurahan kepada pemerintah. Dengan harapan bahwa pedagang beralih profesi.

Pun demikian, pedagang diingatkan serta diberikan kompensasi tapi tidak mau berubah. Pihaknya tidak akan mentolerir lagi. “Sudah tidak ada tolerir lagi. Barang dagangannya kita angkut,” tegas Bayu, Jumat, 30 Desember 2016.

Pemkot Mataram memiliki itikad baik memberikan peringatan agar pedagang tidak berjualan secara demonstratif. Demikian juga dengan pemberian kompensasi.

Pemberian modal bantuan ini kata Bayu, bukan diartikan untuk menambah usaha miras mereka. Melainkan masyarakat beralih profesi dari sebelumnya menjual miras. “Kan bisa jual – jual kopi,” cetusnya.

Pihaknya memberikan waktu kepada lurah maupun camat, untuk memberikan permakluman kepada warganya. Kalau masih membandel akan langsung ditertibkan.

Sebagai tambahan, belum lama ini Pemkot Mataram memberikan kompensasi bantuan ekonomi kreatif antara Rp 4 juta – Rp 10 juta. Kompensasi bagi 185 pedagang tuak itu mencapai Rp 300 juta lebih.

Nyatanya, aktivitas pedagang tuak di Kota Mataram masih saja ditemukan. Seperti di Jalan Bung Karno Kelurahan Pagutan dan Pagutan Barat. Kelurahan Cakra Barat, Kelurahan Mataram Timur serta sejumlah titik lainnya. (cem)