Gelombang Pasang dan Angin Kencang, Nelayan di Ampenan Absen Melaut

Mataram (Suara NTB) – Cuaca ekstrem seperti gelombang pasang dan angin kencang terjadi pekan ini mengakibatkan sejumlah nelayan di Ampenan absen melaut.

Kepala Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Kota Mataram, Ir. H. Muttawali mengakui nelayan sekarang hanya mengandalkan ikan yang disimpan cold storage. Pasalnya, gelombang setinggi 2,5 – 3 meter ditambah angin kencang mengakibatkan nelayan tidak bisa melaut.

“Nelayan saat ini fokus mengamankan perahu serta memperbaiki hasil jaring mereka,” kata Muttawali.

Faktor cuaca ini juga mempengaruhi harga ikan di pasaran. Misalnya harga ikan tongkol sebelumnya Rp 7.000 melonjak drastis menjadi Rp 25 ribu/kilogram. “Ikan sudah pada mahal semua sekarang,” akunya.

Sejauh ini, belum ada laporan kerusakan hasil tangkap maupun perahu nelayan. Tim pengawas pantai disiagakan tetap mengontrol perkembangan dan situasi di sepanjang pesisir Pantai Ampenan.

Baca juga:  BMKG : Ada Daerah Belokan Angin di NTB

Muttawali mengungkapkan, pemerintah telah memikirkan penanganan jangka panjang nasib nelayan. Diantaranya dengan memberikan program pelatihan bagi istri nelayan serta memberikan bantuan alat pengolah ikan.

Program berjalan ketika berlangsung pelatihan. Setelah itu, tidak ada tindaklanjut dari masyarakat. Tidak mungkin kata dia, pemerintah mengawasi secara terus menerus. Sebab, fasilitas maupun sarana prasarana telah dipenuhi. “Kan sudah ada koperasi dan kelompok usaha bersama. Ndak bisa kita tongkrongin mereka setiap hari,” katanya.

Karena menganggap program ini tak efektif, pihaknya memikirkan solusi jangka panjang. Barangkali nelayan tidak lagi menjual hasil tangkap secara konvesional. Artinya, ikan didapatkan sebagian diolah dan sebagian pula diolah menjadi produk makanan.

Baca juga:  Pemkot Antisipasi Cuaca Ekstrem

Seorang nelayan Lingkungan Bintaro Jaya, Ruslan menganggap gelombang pasang dan angin kencang sebenarnya sudah biasa dihadapi oleh nelayan. Hanya saja, ia tidak melaut selama tiga hari karena hasil tangkap minim. Sementara, pengeluaran lebih banyak dibandingkan pendapatan. “Kalau situasi angin seperti ini kan sudah biasa kita. Tapi ikannya yang ndak ada,” ucapnya.

Saat absen melaut seperti saat ini, ia manfaatkan memperbaiki jaring dan peralatan lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, ia mengandalkan hasil tangkap sebelumnya. (cem)