Kantor Kemenag Mataram Serahkan Koper Jemaah yang Meninggal di Tanah Suci

Mataram (suarantb.com) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mataram menyerahkan koper jemaah haji yang meninggal di tanah suci atas nama Hj. Huriah binti H. Abdul Rasyid. Bersama pejabat perwakilan Pemkot Mataram, dokter kloter, paramedis, dan pembimbing ibadah haji, Kepala Kantor Kemenag Kota Mataram, H. Burhanul Islam menyerahkan langsung kepada pihak keluarga barang bawaan jemaah yang tersimpan di dalam koper dan tas jinjing, Jumat, 7 Oktober 2016 pagi.

Hj. Huriah binti H. Abdul Rasyid merupakan warga asal Lingkungan Karang Jangkong, Kelurahan Cakranegara Barat. Ia berangkat ke tanah suci pada 23 Agustus lalu bersama kloter dua. Selain menyerahkan koper dan tas jinjing yang terkunci, Kantor Kemenag Kota Mataram juga menyerahkan tas kecil yang digunakan para jemaah haji menyimpan dokumen perjalanannya, serta lima liter air zam-zam yang merupakan hak setiap jemaah.

Terkait asuransi jiwa bagi jemaah yang meninggal ini, Burhanul Islam menyampaikan akan diurus kemudian setelah semua jemaah embarkasi Lombok tiba di tanah air. “Kami akan menghubungi keluarga nanti untuk menyiapkan administrasi berkaitan dengan asuransi,” jelasnya.

Pihaknya mengakui tak bisa memastikan nilai asuransi yang akan diperoleh keluarga jemaah. Menurut Burhanul, hal tersebut menjadi kewenangan penuh pihak asuransi. Kemenag Kota Mataram hanya membantu persiapan kelengkapan administrasi dan pengusulan ke Kanwil Kemenag NTB.

“Asuransi ini langsung diterima oleh pihak keluarga. Jadi kita tidak tahu berapa jumlah pastinya,” ungkapnya.

Berdasarkan penuturan dokter kloter dua jemaah haji Kota Mataram, dr. H. Januarman, Huriah meninggal akibat serangan jantung dalam perjalanan ke Mina saat akan melontar jumrah. Perjalanan yang ditempuh dari perkemahan ke Mina cukup jauh, sekitar tujuh kilometer. Inilah yang menyebabkan jemaah tersebut kelelahan dan meninggal di perjalanan.

Menurut Januarman, Hj. Huriah telah diberi gelang merah yang menandakan bahwa yang bersangkutan merupakan jemaah dengan resiko tinggi. Selain berusia di atas 60 tahun, Huriah juga memiliki penyakit bawaan. Kendati telah diingatkan untuk berangkat bersamaan dengan petugas medis,  waktu itu Huriah bersikeras berangkat bersama rombongannya. Januarman menuturkan Huriah meyakinkan dirinya bahwa ia mampu berjalan bersama rombongan yang lain. Namun sayang, Tuhan berkehendak lain, Huriah akhirnya meninggal dunia setelah kelelahan di terowongan dua. Ia meninggal dunia pada 12 September 2016 sekitar pukul 08.00 waktu Arab Saudi. (rdi)