Warga Protes Sampah Tak Terangkut Selama Tiga Bulan

Mataram (suarantb.com) – Sampah Pasar Kebon Roek yang makin menumpuk dan membusuk di jalan samping bangunan pasar diprotes warga sekitar. Warga meminta lokasi pembuangan sampah pasar dipindahkan. Pasalnya lokasi tersebut merupakan area jalan milik kampung, dan bukan area pasar.

Salah seorang warga setempat, Tahir, mengaku sudah beberapa kali mengajukan protes kepada Pemkot Mataram mengenai gangguan sampah tersebut, baik melalui surat tembusan kepada Walikota hingga melakukan aksi protes langsung kepada petugas Dinas Kebersihan Kota Mataram yang bertugas di lokasi tersebut. Namun hingga saat ini belum ada tanggapan atas keluhan warga.

“Kita merasa diperolok. Kita protes, penumpukan sampah malah semakin menggunung. Percuma saja kita bersurat, kita tidak pernah didengarkan,” akunya kepada suarantb.com, Sabtu, 3 September 2016.
Sekalipun warga sering melakukan protes pembuangan sampah tersebut, namun tidak ada tindakan dari pihak berwenang untuk menghentikan adanya penumpukan sampah.

Tahir mengaku kesal karena pemerintah tidak mendengarkan aspirasi masyarakat. Ia mengungkapkan belakangan ini sudah tidak membuka rukonya yang berhadapan dengan lokasi pembuangan sampah. Sebab khawatir dampak pembusukan sampah tersebut mengganggu kesehatan anak dan isterinya.

Baca juga:  Pemadaman Habiskan Rp750, Kebakaran TPA Kebon Kongok Jadi Pembelajaran

Seorang warga yang tinggal di wilayah tersebut, Hamzanwadi, yang juga membuka ruko sembako mengakui sangat terganggu dengan penumpukan sampah yang baunya sangat menyengat. Menurutnya, warga yang berjualan di sekitar lokasi pembuangan bahkan terkena biaya pengangkutan sampah.

amun pada kenyataannya, sampah di lokasi tersebut tidak pernah diatasi. Bahkan tumpukan-tumpukan sampah kian bertambah banyak dan beberapa diantaranya belum pernah diangkut selama tiga bulan terakhir.

“Tumpukan sampah ini belum pernah diangkut sejak sebelum puasa sampai saat ini. Yang diangkut

hanya sampah di kontainer saja. Bahkan yang di kontainer pun kadang-kadang dua hari didiamkan tidak diangkut,” ungkapnya.

Seorang pedangang sembako, Riri, yang juga berjualan di sekitar lokasi mengaku khawatir dengan keberadaan sampah yang makin hari makin bertambah banyak. Selain sampah yang berasal dari limbah produksi pasar, sampah tersebut juga merupakan limbah rumah tangga yang dibuang oleh warga sekitar. Menurutnya, keberadaan sampah tersebut dapat mengancam pendapatan pedagang. Sebab, keberadaan sampah di lokasi tersebut menyebabkan pembeli malas untuk mengunjungi lokasi sekitar pembuangan.

Baca juga:  Pemkot Wacanakan Bangun TPA Sendiri

“Apalagi pembeli. Kita saja yang berjualan di sini tidak tahan dengan baunya. Terutama di musim hujan, selain bau busuk, jalannya juga becek luar biasa. Orang jadi malas ke sini,” ungkapnya.
Pantauan suarantb.com, kondisi jalan kampung tersebut cukup memprihatinkan.

Selain begitu banyaknya sampah berserakan dan menumpuk di sisi-sisi jalan, badan jalan yang kian menyempit juga sudah berlubang dan tidak diaspal. Akibatnya, jika musim penghujan akan menimbulkan genangan air yang makin memperparah kondisi di lokasi tersebut.

Warga mengakui, akibat pembusukan sampah di musim penghujan, tidak jarang ditemui banyak ulat dan belatung di sepanjang jalan dan tumpukan sampah. Warga meminta pemerintah untuk memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar area jalan kampung tersebut. Baik dengan penertiban pembuangan sampah, serta memperbaiki struktur jalan demi kenyamanan penduduk.

“Kita minta kontainer-kontainer sampah ini dipindah agar akses jalan kampung lebih tertib. Paling tidak, hanya ada satu kontainer yang ditempatkan di sini, agar tidak ada penumpukan sampah,” pungkas Tahir. (rdi)