Yaser Arafat, Si Bocah Tangguh Sempat Hilang di Tengah Banjir Bima

Kota Bima (Suara NTB) – Mencari sosok M. Yaser Arafah (12) di mesjid Baitul Hamid Penaraga, salah satu titik posko penggungsian banjir Kota Bima, tidaklah sulit. Sebab nama itu cukup dikenal oleh teman sebayanya dan para ibu-ibu di tempat penggungsian.

Sejak banjir melanda kota setempat belum lama ini, Yaser harus mengurus dua adiknya yang masih balita. Alfian berusia tiga tahun dan Ardiansyah yang masih berusia sembilan bulan. Dari membuat hingga memberikan susu formula untuk adiknya.

Bahkan saat terjadinya banjir, Yaser bersama kedua adiknya, dititipkan sementara di rumah bibinya, yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Karena merasa tempat tersebut aman dari terjangan banjir.

“Saat banjir kami sedang tidur siang, tapi karena air perlahan naik, mama mengamankan Yaser dan dua adik saya ke rumah bibi. Setelah itu mama kembali pulang ke rumah,” kata kakak kandung Yaser, Sri Muliana (17).

Hanya saja, rumah bibinya itu juga mengalami nasib serupa. Yaser sempat dinyatakan hilang dan dicari selama dua hari. Rupanya, kata Sri, Yaser dan dua adiknya menggungsi di SMAN 1 Kota Bima bersama bibinya beserta warga lain. Sementara Ia dan kedua orangtuanya menggungsi di masjid Baitul Hamid.

“Setelah ditahu mengungsi di SMAN 1, bapak kemudian pergi menjemput. Karena mama dan saya tidak bisa tidur tanpa mereka,” ujarnya.

Menurut Sri, Yaser yang akrab disapa Fan ini, sudah terbiasa memberikan susu botol atau mengurus kebutuhan dua adiknya itu. Bukan hanya saat banjir ini. Fan terpaksa dimintai

bantuan lantaran Sri harus memasak, mencuci piring, pakaian atau keperluan rumah tangga.

Menggantikan rutinitas mamanya, yang bernama Nurmah yang memiliki penyakit jantung.

“Kalau mama banyak capek sakitnya akan kambuh,” ujarnya.

Diakui Sri, selain jago membuat susu botol dan memberikannya kepada adik-adiknya, Fan yang saat ini duduk dibangku sekolah dasar ini, juga juga piawai memasak nasi dan mencuci piring.

Saat itu, Fan tidak banyak berkomentar, Ia hnya melempar senyum dan sesekali tersipu malu saat Suara NTB mewancarainya. Akan tetapi saat ditanya cita-cita setelah tamat sekolah.

“Mau jadi Polisi Om,” jawabnya lalu pergi bermain bersama teman.

Untuk diketahui, bapaknya bernama Ilias sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek, untuk mencukupi kebutuhan. Kini motor jenis Vario yang masih kredit itu kerap mogok karena digenangi banjir dua kali. Mereka Rt 11 rw 4 Kelurahan Penaraga Kecamatan Raba. Hingga saat ini rumah mereka belum bisa ditempati karena masih terendap lumpur.

Butuh Seragam Sekolah

Sri mengaku, meski hingga saat ini, kebutuhan makanan tercukupi, mengingat di posko setempat terdapat dapur umum. Hanya saja yang dibutuhkan adalah perlengkapan sekolah, salahsatunya seragam sekolah.

“Mengingat hari Selasa masuk sekolah. Seragam, tas dan buku sangat kami butuhkan. Karena semuanya telah hanyut diterjang banjir,” ujarnya.

Oleh karena itu, Ia berharap besar kepada pemerintah atau pihak terkait agar segera memberikan bantuan perlengkapan sekolah. Sebab keluarga besarnya juga mengalami nasib serupa.

“Keluarga semuanya terkena banjir, jadi kami hanya berharap pada pemerintah,” pungkasnya. (uki)