Korban Banjir Bima Masih Trauma

Kota Bima (Suara NTB) –  Pemkot Bima telah menetapkan tanggap darurat 15 hari darurat bencana. Memasuki hari ke 11, Minggu, 1 Januari 2017, sebagian besar warga Kota Bima masih alami trauma.

Korban banjir yang melanda Kota Bima belum lama ini, baik yang berada di pengungsian dan sudah kembali ke rumah. Kondisi psikologisnya belum kembali pulih. Saat hujan melanda mereka merasakan kepanikan dan ketakutan.

Seperti yang  dialami oleh warga Kelurahan Lewirato Kecamatan Mpunda , Ramadan. Menurut dia, sejak terjadinya banjir warga sekitar merasakan kepanikan yang mendalam dan merisaukan terjadinya banjir susulan.

“Kami sangat panik apabila ada hujan. Apalagi hujan turun di wilayah bagian timur Kota Bima,” katanya kepada Suara NTB, Minggu, 1 Januari 2017.

Menurut dia, wilayah bagian timur seperti Kelurahan Dodu dan Lampe merupakan salah satu indikator penyebab banjir di Kota Bima, selain wilayah di bagian utara, kelurahan Jatiwangi dan Jatibaru.

“Karena daerah ini berada di dekat pegunungan Wawo dan Ncai Kapenta. Deras hujan di daerah ini tidak memungkinkan luapan air akan masuk ke Kota Bima,” ujarnya.

Menurut dia, hal itu bukan tanpa dasar, pasalnya banjir yang kerap melanda Kota setempat akibat gundulnya hutan di dua pengunungan tersebut. Yang dijadikan sebagai perladangan liar.

“Hujan sedikit, Kota Bima tergenang, karena tidak ada pohon meresap air. Belum lagi sistem drainase dan normalisasi sungai yang buruk,” ujarnya.

Hal yang sama juga dialami warga Melayu Kecamatan Asakota, Alwi. Bahkan Menurutnya, warga setempat hingga kini phobia hujan. Sebab banjir sangat menyisakan trauma dan ketakutan.

“Kelurahan kami kerap menjadi sasaran banjir kiriman. Karena berada di dekat laut,” katanya.

Belum lagi lanjutnya, hingga kini masih banyak sampah dan lumpur sisa banjir yang belum dibersihkan. Oleh karena itu, dia berharap agar pemerintah dan pihak terkait segera membantu warga.

“Kalau dibiarkan akan menimbulkan penyakit. Apalagi kondisinya sampah sudah membusuk karena disimpan terlalu lama,” ujarnya.

Sebelumnya Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa saat meninjau penanganan banjir Kota Bima, belum lama ini meminta proses penanggulangan bencana banjir difokuskan kluster pengungsian dan perlindungan serta serta psikososial penanggulangan bencana.

Menurut dia, kluster pengungsian dan perlindungan berkaitan dengan penyediaan tempat pengungsian dan logistik untuk pengungsi. Sementara kluster psikososial penanggulangan bencana adalah penanganan trauma pascabencana.

“Untuk membangun semangat dan motivasi. Salah satu aksi prioritas adalah pembersihan. Tujuannya mengurangi trauma masyarakat dan mencegah berkembangnya penyakit,” ujarnya. (uki)