Kelaparan, Korban Banjir Bima pun Santap Makanan yang Terapung

Mataram (Suara NTB) – Korban banjir di Kota Bima belum selesai diterpa cobaan. Sempat lega setelah banjir bandang Rabu (21/12), banjir susulan, bahkan lebih parah terjadi Jumat (23/12).

Beragam cerita getir dari pada korban. Salah satunya dari Atina, warga Kelurahan Tanjung yang berusaha bertahan meski terpapar rasa lapar sejak Jumat siang hingga malam.

Wanita 31 tahun ini mengevakuasi orang tua dan dua anaknya ke lantai dua rumahnya yang masih berupa cor. Dia membangun tenda darurat di sana.

“Mulai siang kami hanya makan snack sisa, tapi sudah habis. Ndak cukup untuk dimakan sampai malam,” tutur Atin kepada Suara NTB lewat sambungan seluler. Untuk makan malam praktis tidak ada persediaan. Dalam keadaan menggigil, satu satunya harapan adalah bantuan logistik dari tim Penanggulangan Bencana. Tapi tidak ada satu pun yang datang menyalurkan bantuan. Kekecewaan sempat terlontar, karena ternyata malam itu ada tim yang melintas di simpang tiga yang terhubung ke Pelabuhan Bima itu. Padalah ada pengungsi menumpuk di SMEA di kelurahan itu, juga belum disentuh bantuan.

Malam itu dia mencoba turun dari lantai dua melalui tangga. Di salah satu kamar yang sudah tergenang air sampai dada, mencoba memulung makanan. Dia kebetulan melihat ada sebuah bungkusan.

“Isinya tiga biji ikan kering. Alhamdulillah, kami makan malam pakai itu,” tuturnya lirih.

Sampai berita ini ditulis Sabtu pagi, mereka masih terus berharap ada bantuan logistik datang, karena tidak ada lagi bahan makanan yang bisa diolah. Semuanya habis tersapu banjir.Informasi warga terjebak banjir juga disanpaikan langsung Kepala BPBD NTB, H.Muhammad Rum. Melalui grup WhatsApp ‘Penanggulangan Bencana NTB’, meneruskan kabar yang diterimanya kepada tim SAR dan BPBD Bima, di kampung Sumbawa Kelurahan Tanjung, keluarga Abdul Hamid dalam keadaan lapar dan anggota keluarga korban ada yang terluka. “Mohon bisa diatensi,” pinta Rum, disambut “siap kita tindak lanjuti pak,” jawab Sarifudin dari BPBD Bima.

Kelurahan Tanjung sejak kejadian banjir pertama dan kedua memang terisolir. Tim BPBD kesulitan tembus sampai ke pemukiman karena derasnya arus.

“Saya belum bisa sampai ke kampung. Sudah empat jam terjebak di sini,” kata Kasi Tanggap Darurat BPBD NTB, Agung Pramuja.

Bahkan Mobil Komando yang sebenarnya tangguh menembus banjir tak berdaya. Kepala BPBD NTB H. Muhammad Rum yang menggunakan mobil itu terpaksa dibiarkan terperangkap air bah di sekitar Kelurahan Tanjung.

Rasa lapar dan menggigil juga menyergap warga lainnya, Muhammad Tudiansyah. “Lapar dan mengigil. Lampu padam,” katanya Sabtu dini hari. Air masih setinggi satu meter di rumahnya RT 10 RW 04, Kampung Sumbawa Kelurahan Tanjung.

Dalam situasi gelap, tak ada bantuan logistik datang. Sementara istri dan dua anaknya sudah diungsikan ke tempat lebih aman.
Cerita serupa bermunculan dari para korban banjir yang masih bertahan di rumah rumah. Sementara tim relawan, BPBD dan SAR tak bisa maksimal karena keterbatasan peralatan seperti perahu karet.

Bantuan logistik tak bisa tembus sampai ke Posko utama Kantor Walikota Bima. Lantaran akses utama yang melalui Jembatan Padolo sudah ditutup. Jembatan yang dilalui sungai terbesar di Kota Bima itu sudah retak dan dipasang police line. Arus masuknya logistik dialihkan ke Mako Brimob di Kelurahan Sambinae, Kecamatan RasanaE Barat.

Kepala BPBD H. Muhammad Rum dihubungi Sabtu pagi ini, mengaku masih fokus evakuasi dan menyalurkan logistik. Timnya bersama SAR, TNI dan Polri serta relawan, berusaha tembus ke rumah rumah yang belum terjangkau.
“Kami sedang evakuasi lanjutan dan suplai makanan dan membangun dapur umum,” jelasnya. (ars)