Korupsi Instalasi Biogas KSB, Mantan Kadis ESDM Dihukum Paling Ringan

Mantan Kadis ESDM KSB, Hajamudin (paling kanan) berdiskusi dengan penasihat hukumnya usai mendengar vonis hakim pada persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Kamis, 27 Desember 2018. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Tiga terdakwa kasus korupsi proyek instalasi biogas di Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2013 menjalani sidang vonis, Kamis, 27 Desember 2018. Terdakwa Teguh Maramis dihukum paling berat karena juga terbukti menikmati uang negara. Sementara Hajamudin dihukum paling ringan.

Sidang vonis dipimpin ketua majelis hakim, Anak Agung Ngurah Rajendra dalam persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, bersama dua hakim anggota, Abadi dan Fathurrauzi.

Iklan

Majelis hakim menjatuhkan hukuman dua tahun penjara terhadap terdakwa Teguh Maramis, Direktur CV Agung Sembada, rekanan pemenang tender proyek senilai Rp1,2 miliar tersebut. Ditambah dengan pidana denda sebesar Rp50 juta dana apabila tidak dibayar wajib diganti kurungan 1 bulan.

“Hal yang memberatkan terdakwa karena terdakwa sudah pernah dihukum,” ucap Rajendra. Teguh merupakan residivis kasus korupsi, yang kini sedang menjalani hukuman pidana 2 tahunnya, buntut korupsi proyek pembangunan rumah adat KSB tahun 2014.

Teguh juga dibebani membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp323,8  juta, dengan ketentuan apabila tidak sanggup dibayar maka harta bendanya akan disita. Apabila juga terdakwa tidak punya harta benda yang cukup, maka diganti dengan kurungan 3 bulan.

Sementara rekanan konsultan pengawas, Direktur CV Bree Teknik, Edi Sukardi dihukum penjara 1 tahun 3 bulan. Denda Rp50 juta dengan ketentuan mengganti dengan kurungan 1 bulan apabila denda dimaksud tidak dibayarkan.

Kemudian, mantan Kadis ESDM KSB, Hajamudin dihukum paling ringan diantara dua terdakwa di atas, yakni selama 1 tahun dan denda Rp50 juta subsidair 1 bulan.

Hakim berpendapat, terdakwa Hajamudin mendapat keringanan dengan alasan religius. “Terdakwa tahun depan akan melaksanakan ibadah haji,” ucap Fathurrauzi menambahkan.

Para terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 3 juncto pasal 18 ayat 1 sub a, b ayat 2 dan 3 UU RI No 20/2001 tentang perubahan atas UU RI No 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Jaksa penuntut umum menuntut tiga terdakwa dengan hukuman 1 tahun 6 bulan penjara pada persidangan sebelumnya. Juga denda masing-masing sebesar Rp50 juta.

Mantan Kadis ESDM KSB Hajamudin merupakan pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), bersama Teguh dan Edi, mereka terbukti kongkalikong menyimpangkan proyek senilai Rp1,299 miliar.

Pembayaran dilakukan dengan progres proyek mencapai 42,08 persen. Padahal menuru  ahli konstruksi Fakultas Teknik Unram, proyek baru terlaksana 15,42 persen.

Terdakwa Teguh Maramis mengajukan pencairan uang muka pada 6 November 2013, sebanyak Rp 259.800.000. Kemudian, pada 31 Desember 2013 mengajukan pembayaran tahap I, sebesar 546.619.000 dengan progres pekerjaan mencapai bobot 42,08 persen, sesuai laporan terdakwa Edi Sukardi. (why)