Korban Gempa Tidak Tertarik Konsep Rumah Instan Baja

H.M. Kemal Islam (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Penanganan pascabencana terus berjalan. Muncul tawaran baru dari pemerintah pusat soal rehabilitasi dan rekonstruksi dengan rumah instan baja (Risba). Konsep Risba ditolak oleh Pemkot Mataram.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Mataram, H.M. Kemal Islam mengatakan, sebenarnya Pemkot Mataram tidak menolak konsep yang ditawarkan oleh pemerintah pusat, apabila jauh sebelumnya sudah disosialisasi.

Iklan

 

Rumah instan baja (Risba) merupakan produk baru. Sementara, masyarakat telah menentukan pilihan dua rumah. Yakni, rumah instan sederhana sehat (Risha) dan rumah instan konvensional (Riko). “Sebenarnya ndak menolak sih kalau sejak awal disosialisasikan,” kata Kemal ditemui pada Senin, 31 Desember 2018.

Tawaran rehabilitasi dan rekonstruksi rumah korban gempa bumi Lombok oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Jakarta. Sejumlah kepala daerah yang terdampak gempa Lombok dipanggil. Kemal menambahkan, konsep Risa dan Riko telah berjalan pembangunannya. Masyarakat telah tertarik dengan dua pola tersebut.

Sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat konsep Risba ditawarkan ke masyarakat, tapi mereka tidak tertarik. “Kita buatkan desainnya, RAB dan segala macam. Tapi masyarakat menarik bagi masyarakat,” tandasnya.

Konsep Risba diperuntukkan bagi korban yang rumahnya rusak berat. Sedangkan, rumah rusak kategori berat dan ringan tidak memerlukan desain. Cuma butuh rehab saja.

Disinggung soal bantuan bagi korban rumah rusak sedang dan ringan,  Kemal memastikan pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan telah mengalokasikan anggaran ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rp1,5 triliun.

Bantuan perbaikan rumah diprediksi minggu pertama bulan Januari akan cair. Tapi ada pola perubahan penyalurannya. Jika sebelumnya dari rekening BNPB ke PPK BPND kota/kabupaten. Saat ini, ke PPK provinsi, baru kemudian provinsi akan menyalurkan ke BPBD kota/kabupaten. (cem)