Korban Gempa Lobar Rayakan Maulid di Tempat Pengungsian

MAULID - Warga Guntur Macan Gunungsari menggelar maulid di tenda-tenda pengungsian. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Meski tinggal di lokasi pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan, tak menyurutkan semangat para korban gempa untuk ikut merayakan hari besar umat Islam yakni Maulid Nabi Muhammad SAW. Di tengah kondisi serba kekurangan, mereka tetap khusyuk merayakan maulid nabi. Makanan yang dihidangkan pun tak seperti umumnya ketika merayakan maulid di rumah, membawa dulang ke masjid dengan lauk pauk serta buah-buahan.

Bagi warga Guntur Macan Kecamatan Gunungsari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini, berbeda dengan tahun sebelumnya. Biasanya Maulid dirayakan begitu meriah, dengan berbagai kegiatan lomba dan lainnya oleh warga serta para anggota remaja masjid, namun kini kemeriahan tersebut tinggal kenangan.

Iklan

“Masjid yang biasa kami gunakan untuk merayakan maulid Nabi SAW telah rata dengan tanah, tinggal pondasinya saja ini kenangan yang sangat membuat kami miris,” Kata Jumiah, warga Dusun Ladungan Desa Guntur Macan, ¬†Selasa,¬† 20 November 2018.

Tokoh masyarakat H. Fadli mengatakan kondisi masjid yang ambruk akibat gempa memaksa warga harus maulid di lokasi pengungsian. Menurutnya warga tak tahu lagi bagaimana caranya membangun kembali masjid tersebut, sebab jangankan masjid rumah mereka saja belum terbangun.

Masjid, jelasnya, memiliki arti penting sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan maupun kegiatan sosial masyarakat Pulau Lombok, sehingga hampir di setiap pelosok dusun Pulau Lombok terdapat masjid setidaknya musala,.

Camat Gunungsari H. Rusni mengakui banyak korban gempa yang menggelar maulid di tenda-tenda pengungsian. Termasuk di Guntur macan. Ia mengaku sangat bersyukur dengan semangat warga setempat merayakan hari besar Islam, akan tetapi ia pun mengimbau agar masyarakat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya dengan kesederhanaan. (her)