Korban Gempa Bangun Sendiri Huntap

Huntap yang berdiri di dekat puing sisa gempa milik Ratisah, warga Desa Loloan Kecamatan Bayan, Lombok Utara. (Suara NTB/ars)  

Tanjung (Suara NTB) – Sudah lima bulan lebih korban gempa menunggu bantuan pemerintah. Tak kunjung dibangunkan hunian tetap (Huntap) mereka berinisiatif membangun sendiri, meski sudah masuk dalam pendataan pemerintah.

Membangun rumah sendiri terpaksa dilakukan Ratisah, warga RT. 02 Dusun Tanak Lilin, Desa Loloan, Kecamatan  Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU).  Sebab hingga masuk Januari 2019, tak ada tanda-tanda akan dibangunkan rumah tahan gempa sesuai dijanjikan.  ‘’Saya sudah lama nunggu. Petugas desa cuma datang pendataan, tapi sampai sekarang ndak datang lagi,’’ kata Ratisah. Jangankan Huntap, Huntara pun tak dibangunkan.

Iklan

Akhirnya tidak tahan tinggal di tenda darurat, ia membangun  sendiri Huntara di sekitar puing rumahnya.  ‘’Hujan turun terus, ndak tahan tinggal kayak begini (Huntara),’’ ujarnya.

Dengan uang sendiri, ia membangun Huntap berbahan dasar kayu dan bedek. Harganya pun cukup mahal, terlebih kayu untuk bahan bangunan semakin sulit di dapat kecuali merogoh uang sendiri. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, tak terasa Ratisah mengeluarkan uang sampai Rp 40 juta. “Bagaimana tidak habis uang banyak,  kayu -kayu mahal,” cetusnya.

Hunian itu berukuran sekitar 8 x 6 meter. Hanya pondasi berbahan beton, selebihnya dinding dan tulangan bangunan berbahan bedek dan kayu. Atap berbahan plat seng.   “Itu pun belum jadi. Di dalam rumah masih rangka kayu saja, belum jadi dinding dinding sekatnya,” katanya, kemudian menunjukkan bagian dalam rumah yang belum bisa ditempati. Diperkirakan, butuh Rp 10 juta lagi untuk finishing.

Bagi Ratisah yang masih punya uang bisa bernafas lega karena akan segera bisa hidup tenang. Sebaliknya Ayunten, warga setempat, belum cukup uang untuk membangun sendiri. Sementara ini ia terpaksa tinggal di Huntara yang juga dibangun sendiri. Ia berharap bantuan Huntap segera turun. ‘’Kita dijanjikan bulan empat (April, red) ini. Mudah mudahan lebih cepat. Soalnya tinggal di Huntara begini pas musim hujan, kasihan kami,’’ katanya sedih.

Soal rumah tetap, ia berharap  diberikan pilihan berupa Rimah Instan Kayu (Rika). Ia mengaku berat menerima bantuan rumah berbahan beton, meski ada jaminan tahan gempa. “Kami trauma dengan rumah beton,” ungkapnya.

Kondisi sama dialami warga korban gempa di Dusun Penjalin Desa Singar Penjalin, Kecamatan Tanjung.  Total ada 273 KK 881 jiwa  terdampak gempa di sana. Alih alih Huntap, mereka hanya mendapat bantuan Huntara, itu pun bantuan dari Laznas Provinsi DKI.

‘’Huntara saja cuma 5 orang yang dapat. Itupun sisa sisa pembagian dri Laznas Pemprov DKI. Kalau soal Huntap sama sekali belum ada.  Rekening saja belum ada,’’ ungkap Abdullah, Ketua Yayasan Munashoroh Indonesia Lombok yang juga tokoh pemuda setempat.

Warga yang tidak tahan dingin karena masuk musim hujan, terpaksa membangun sendiri hunian dari puing puing reruntuhan rumah.

Sebagai pegiat sosial, ia pun turut membantu hunian masyarakat, khususnya janda dan jompo.  Keinginan membantu semua korban gempa belum bisa terwujud. ‘’Sementara ini kalau saya hanya bisa carikan donasi untuk Huntara bagi janda dan jompo saja,’’ akunya.

Untuk membantu para janda dan lansia, sementara diusahakannya meminta sumbangan dari beberapa donatur. Anggaran yang terkumpul dipakai untuk membeli bahan membuat rumah. Agar anggarannya cukup, ia akan melibatkan masyarakat untuk gotong royong. (ars)