Korban Benang Layang–layang Bertambah

Anak-anak di Kelurahan Babakan asyik bermain layang-layang, Kamis, 9 Juli 2020. Satuan Polisi Pamong Praja belum menindak warga bermain layangan, namun berharap pihak kelurahan mengendalikannya. Di satu sisi, semakin hari korban tersangkut benang terus bertambah. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Sikap tegas Satpol PP Kota Mataram agaknya perlu  dipertanyakan. Janji menertibkan layang – layang sekadar gertak. Sebaliknya, korban tersangkut benang layang – layang terus bertambah.

Suyuthi harus menahan perih usai jarinya tersangkut benang layang-layang. Warga Griya Parampuan Asri tak mengira bakal menjadi korban. Awalnya, ia melihat pengendara di depannya terluka tersangkut benang. Naas, ujung benang masih membentang dan mengenai tangannya.  “Saya habis dari Getap. Saya perhatikan orang di depan saya berdarah kena benang. Saya juga ndak perhatikan ternyata ujung benang itu masih ada yang nyangkut dan posisinya rendah. Langsung kena tangan saya dan kayak pisau itu,” tutur Suyuthi, Kamis, 9 Juli 2020.

Iklan

Peristiwa itu sempat membuat jalan macet di perempatan jalan. Pengendara sempat turun menarik benang layang – layang tersangkut. Suyuthi merasa trauma. Karena, benang layang cukup membahayakan.

Paling parah kata dia, dua pengendara yang berada di depannya. Sepertinya, mereka langsung ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. “Saya lihatnya ngeri,” ucapnya.

Pemkot Mataram dalam hal ini Satpol PP telah mengeluarkan imbauan. Meskipun relatif mulai berkurang, tetapi masih ada saja ditemukan yang bermain layang – layang. Menurutnya, permainan tradisional ini boleh saja dimainkan oleh masyarakat. Tetapi tidak menggunakan benang yang tajam. Suyuthi mengharapkan, perlu adanya tindakan tegas dari pemerintah.

Bayu Pancapati (Suara NTB/dok)

“Kalau layang – layang yang indah – indah tidak masalah. Yang masalah layang aduan itu perlu dibina. Jangan main di tengah kota,” harapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kasat Pol PP Kota Mataram, Bayu Pancapati justru mengembalikan persoalan tersebut ke masyarakat dengan alasan keterbatasan yang dimiliki oleh satuannya. “Biar masyarakat yang menjaga anak – anaknya, keluarganya dan warganya,” jawabnya.

  Beri Layanan KB, DPPKB Tekan Laju Pertumbuhan Penduduk

Dalam menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak Perda, sudah cukup sering mengingatkan dan beberapa kali mengambil tindakan. Justru, hal ini tidak digubris dan diremehkan. “Biarkan saja berarti lurah, kaling dan jajarannya juga ndak dianggap ada oleh masyarakat yang wilayahnya masih ada permainan layangan tersebut,” demikian kata dia. (cem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here