Kontrak Kerjasama Mataram Mall Terancam Diputus

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram mengancam akan melakukan pemutusan kontrak kerjasama dengan Mataram Mall. Karena, adendum kerjasama pembayaran royalti Rp 300 juta tak juga disepakati.

Pembahasan atas perubahan adendum atau kerjasama antara Pemkot Mataram dengan PT. Pasifik Cilinaya Fantasi berlangsung alot. Hadir dalam rapat tersebut, Sekda Kota Mataram, Ir. H. Effendi Eko Saswito didampingi oleh Asisten III Dra. Hj. Baiq Evi Ganevia, Kepala BPKAD, Yance Hendra Dirra, Bagian Hukum Setda Kota Mataram, Mansyur, SH., MH., Pakar hukum Unram, Prof. Dr. Zainal Asikin, pakar ekonomi Unram, Dr. Basuki serta manajer Mataram Mall, Tedy Saputra.

Iklan

Dalam rapat itu, kedua belah pihak berbeda pandangan terhadap nilai royalti atas penggunaan aset sekitar 2,5 hektar tersebut. Pemkot Mataram berketetapan dengan angka royalti Rp 300 juta. Nilai tersebut sesuai hasil rekomendasi tim akademisi menyebutkan royalti sepantasnya dibayarkan Rp 375 – 600 juta. Namun manajemen Mataram Mall memiliki perhitungan sendiri dan tetap ingin membayar Rp 150 juta.

Dikonfirmasi usai rapat, Sekda Mataram, Ir. H. Effendi Eko Saswito menjelaskan, rapat itu merupakan pertemuan awal sekaligus memperkenalkan tim evaluasi kerjasama dibentuk oleh Pemkot Mataram. Tim ini nanti akan turun ke lapangan untuk melakukan survei dan menghitung nilai aset yang digunakan oleh PCF. Sedangkan, kaitannya dengan rencana perubahan adendum masih terbentur besaran royalti.

“Tadi kita sudah bertemu. Manajemen mall tidak mau nilai itu, karena ada kajian sendiri. Mereka meminta waktu untuk menyampaikan nilainya,” kata Sekda.

Perbedaan pandangan ini diberikan masukan agar dibentuk tim appraisal bersama. Nyatanya, PFC menolak dan ingin secara mandiri menghitung nilai aset yang digunakan. “Perhitungan tidak sesuai HPL, kontraknya kita putus,” tegasnya.

Sedapat mungkin kata Sekda, persoalan menyangkut hukum berusaha diminimalisir. Oleh karena itu, tim nanti akan melakukan pemetaan dan mengevaluasi kembali adendum dan besaran royalti.

Dikonfirmasi terpisah, Manajer Mataram Mall Teddy Saputra menegaskan, pihaknya belum bisa menerima royalti Rp 300 juta yang ditetapkan oleh Pemkot Mataram. Sebab, ia ingin menghitung kembali berapa besaran sebenarnya. Alasan menolak nilai tersebut ada beberapa faktor. Salah satu diantaranya, kondisi Mataram Mall sepi serta harus ada persaingan dengan mall – mall lainnya. (cem)