Konsorsium WWF Indonesia Bantu 2.000 Kotak Lebah Madu untuk Petani

wwf_400x400

Lombok Utara (suarantb.com) – Pengelolaan hutan oleh masyarakat didorong agar dapat berdaya guna secara ekologi, sosial dan ekonomi. Ada banyak cerita masyarakat yang telah mampu menyelamatkan hutan sehingga dapat mengikis stigma buruk bahwa masyarakat miskin pemicu hilangnya hutan di Indonesia. Menyadari hal itu, Pemerintah telah memfasilitasi skema-skema pengelolaan hutan. Di Santong Lombok Utara misalnya, pemerintah telah melegalkan pemanfaatan hutan seluas 758 ha oleh 838 petani yang terorganisir dalam wadah Koperasi Maju Bersama Santong.

Iklan

Untuk mendukung program Pemerintah utamanya dalam pengelolaan hutan, WWF Indonesia bersama Koperasi “Maju Bersama” Santong atas dukungan pendanaan hibah dari MCA – Indonesia menginisiasi program peningkatan ekonomi masyarakat pengelola hutan. Program ini bertujuan melestarikan kawasan Gunung Rinjani dan secara bersamaan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi dalam pengembangan dan pemanfaatan HHBK secara berkelanjutan mulai dari proses produksi, pengolahan hingga pemasaran. Caranya adalah dengan meningkatkan kapasitas masyarakat miskin dan kelompok perempuan dalam pengelolaan hutan dan hasil hutan, advokasi kebijakan yang berpihak kepada HHBK. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pemberian bantuan sebanyak 2.000 kotak (stup) lebah madu (trigona sp dan Apis Cerana).

Fotoo ADV WWF 2

Menurut Samsudin selaku Ketua Kelompok Jaringan Madu 3G atau Girang, Gelek, Genem, pekerjaan rumah dalam usaha budidaya lebah saat ini terpusat pada peningkatan kualitas hasilproduksi madu. Permintaan pasar sangat besar, lanjutnya. “Dengan bantuan 2.000 kotak madu ini, diperkirakan pada tahun 2017 akan berkembang menjadi 4.000 kotak (stup) madu, karena setiap tahunnya ratu lebah harus dipindahkan ke kotak yang kosong dan begitu seterusnya,” ungkap Samsudin menjelaskan rencana kelompoknya ke depan.

Foto ADV WWF 3

“Kami sangat terbantukan dengan bantuan tersebut. Kami perkirakan hasil panennya nanti pada 6 bulan pertama akan mencapai 400 – 500 liter yang setara dengan nilai Rp. 112.500.000,- Dan jika tidak mengalami gangguan yang berarti, maka pada periode panen kedua akan dapatr mencapai nilai penjualan sebesar Rp,. 250.000.000,- Dengan begitu, maka bantuan stup madu tersebut sangat bermanfaat bagi petani untuk meningkatkan pendapatannya serta mengembangkan usaha ekonominya berbasis hasil hutan bukan kayu,” ujarnya.

Acara Penyerahan 2.000 Kotak Madu, pada hari Jumat, 25 November 2016 di Dusun Belencong Desa Mumbulsari dihadiri oleh Bappeda Kabupaten Lombok Utara, DPPKKP Kabupaten Lombok Utara, WWF Indonesia, Pemerintah Desa, Tokoh Masyarat dan Kelompok Masyarakat serta Petani Lebah Madu. Penyerahan 2000 stup madu tersebut diserahkan secara langsung oleh Direktur Konservasi WWF Indonesia Arnold Sitompul, Ph.d.

Dalam sambutannya, Arnold menyampaikan ungkapan terimakasih atas penerimaan dan antusiasme masyarakat dalam mendukung program – program WWF Indonesia yang didanai melalui skema hibah MCA-I, seraya berharap dengan adanya bantuan ini, tentu harapannya dapat meningkatkan produktifitas madu di Desa Mumbulsari khususnya dan menjamin kelestarian Kawasan Hutan di Landskap Rinjani pada umumnya. Dan tentu saja, ini akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat pinggir hutan,” ungkap Arnold.

Kepala Bidang Ekonomi Bappeda KLU, dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, ini adalah terobosan yang luar biasa untuk memberdayakan masyarakat miskin pinggir hutan dan telah sejalan dengan program prioritas Bupati Lombok Utara. Kedepan dukungan yang sama akan dilakukan oleh Bappeda KLU seperti sarana dan prasarana pendukung untuk pengembangan madu ini. “Hal ini sudah menjadi perhatian pemerintah dalam penggangaran TA 2017. Kita harapkan, HHBK Madu bisa menjadi produk unggulan Kabupaten Lombok Utara. Mengingat, pasar nasional HHBK Madu yang masih terbuka luas menjadi pertimbangan bahwa produk ini menjadi sangat potensial untuk diperkuat di Lombok Utara,” imbuhnya.

Turut hadir kepala Desa Mumbulsari H. Sawaluddin yang secara tegas menyampaikan akan mendukung program pengembangan madu yang pembiayaannya akan dialokasikan dari dana desa dan anggara dana desa serta anggaran BUMDes. Lebih lanjut H.Sawaluddin mengatakan pengembangan ini bukan khayalan, karena keadaan alam dan kondisi iklim Desa Mumbulsari yang sangat mendukung usaha lebah madu, seperti ketersediaan sumber pakan sepanjang tahun dan tidak ada penggunaan pestisida. Karena salah satu sifat lebah hanya akan hidup dan berkembang di lingkungan bersih, bebas dari pencemaran. Hanya saja, penanganannya perlu dilakukan secara berkelanjutan. (r/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here