Konsep Merdeka Belajar, Guru Wajib Berinovasi

Wahab Jufri (Suara NTB/dok), Hj. Lubna (Suara NTB/dys)

Mataram (Suara NTB) – Merdeka Belajar merupakan konsep baru dalam Sistem Pendidikan Nasional. Konsepnya ialah siswa maupun mahasiswa diberikan kebebasan dalam memilih aktivitas pembelajarannya.  Dibutuhkan kesiapan guru dan dosen dalam upaya merespon kebijakan tersebut.

‘’Tuntutan agar tenaga pendidik dan kependidikan untuk berinovasi menjadi suatu kewajiban yang harus dimiliki,’’ ujar Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Dr. Hj. Lubna, M.Pd., Rabu, 14 Oktober 2020.

Iklan

Dia pun mengingatkan para guru yang lahir dari berbagai rahim lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan agar terus memahami tugas fungsi di tengah segala perubahan.

“Bapak ibu guru juga harus benar benar belajar harus jadi fasilitator mediator bagi anak anak. Kita tidak pernah bayangkan akan terjadi di masa yang akan datang,” ungkapnya.

Diakuinya, kebijakan pemerintah di bidang pendidikan dengan konsep Merdeka Belajar, pada dasarnya sudah bukan lagi ada di ranah perdebatan konseptual. Melainkan bagaimana merespon konsep itu dalam bentuk implementasi.

“Kami sangat percaya bahwa Merdeka Belajar punya karakteristik, ada perbedaan cara belajar sebelum dan setelah kebijakan Merdeka Belajar,” jelasnya.

Adanya perubahan ini jelas Lubna, harus mampu dibaca, sehingga antisipasi terhadap berbagai gejala perubahan tersebut mampu mengubah mindset siswa ke depannya.

“Kita harus merespon kegiatan kegiatan belajar kita agar mempersiapkan anak-anak untuk siap. Akan ada perubahan mindset belajar mengajar sekaligus pendekatan belajar mengajar yang disesuaikan dengan perubahan,” sambungnya.

Sebagai contoh, ujarnya, dulu lembaga pendidikan sangat familiar dengan istilah pedagogik dan andragogik, namun kini harus familiar juga dengan pendekatan istilah cybergogik. Sebagai guru, tentu harus siap. Mau tidak mau dengan adanya perubahan ini. Sehingga jelasnya, seorang guru bisa menjadi guru yang benar-benar siap berinovasi memberikan warna pada generasi kita.

Menurut Lubna, guru adalah profesi yang tidak akan pernah tergantikan pada era manapun dan zaman manapun, karena guru bertugas tidak hanya mentransfer pengetahuan, akan tetapi juga mentransfer nilai bagi peserta didik.

“Guru juga merupakan profesi yang mencetak seluruh profesi. Mulai dari jenjang PAUD sampai pada jenjang pendidikan tinggi dan profesional. Kehadiran guru adalah garda terdepan dan menjadi mercusuar pada republik ini,” tuturnya.

Hal serupa juga dilakukan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram). Sebagai bentuk implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka, FKIP Unram mulai melakukan integrasi antara program PLP dan KKN.

Dekan FKIP Unram Prof. Wahab Jufri, menyebut pihaknya kini tengah berupaya untuk mengintegrasikan antara pelaksanaan program PLP dan KKN. Sebagai wujud implementasi tersebut, PLP diputuskan dilakukan di mana asal mahasiswa.

“Selain itu bahwa semester ini untuk mempraktiekkan konsep merdeka belajar itulah salah satunya yang mendasari PLP di mana saja, ada di Jawa Timur, Sulawasi Tengah atau Kalimantan,’’ ujarnya.

Di samping itu kampus juga sudah mencoba untuk mengatur agar PLP bisa diprogramkan berbarengan langsung dengan KKN. Sehingga jika sudah memprogramkan KKN di KRS, bisa lebih awal dijalankan dibandingkan program KKN reguler pada umumnya.

“Kita sudah berupaya mengintegrasikan, PLP output bisa buat media pembelajaran. Sehingga ada kesinambungan antara luaran KKN dan PLP,” ungkapnya.

Selain itu,  kata dia, mahasiswa juga bisa menjadikan PLP sebagai momentum untuk mengumpulkan data, sehingga bisa mempermudah pengerjaan skripsi tugas akhir akademik nantinya.

Pihaknya  berpesan pada mahasiswa semester akhir agar mengambil judul skripsi yang memudahkan mahasiswa. Seperti tidak mengambil model penelitian eksperimen yang membutuhkan waktu dan harus dilakukan tatap muka. Tentu saja model ini akan sulit karena kondisi pandemi saat ini.

“Saran saya jangan ambil skripsi metode eksperimen. Karena sekolah belum jelas masuknya. Akan sulit lakukan penelitian eksperimen karena tidak tatap muka. Harus milih judul skripsi yang tidak mengharuskan penelitian eksperimen dan terikat dengan pembelajaran sekolah. Tapi kita berikan kebebasan pada mahasiswa,” jelasnya. (dys)