Kondisi Rinjani Memprihatinkan, Komunitas Jelajah Lombok Setuju Pendaki Dibatasi

Mataram (suarantb.com) – Wacana pembatasan jumlah pendaki ke Rinjani oleh Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) disambut baik Komunitas Jelajah Lombok. “Jika itu dilakukan untuk kebaikan alam Rinjani, saya setuju. Karena saya akui, kondisi Rinjani saat ini sangat memprihatinkan,” terang Ketua Komunitas Jelajah Lombok, Herkiandi pada suarantb.com, Rabu, 5 Oktober 2016.

Pembatasan pengunjung ini diwacanakan atas pertimbangan keadaan alam Rinjani dan kenyamanan pengunjung. Selain menyampaikan dukungan atas wacana tersebut, Andi juga menceritakan sedikit pengalamannya saat mendaki Rinjani. Sebagian besar berisi keluhan tentang pengelolaan gunung yang sedang dalam proses untuk mendapat gelar Geopark Dunia tersebut.

Iklan

Mulai dari pintu masuk untuk pendakian Rinjani, ada banyak pintu masuk pendakian yang tidak resmi. “Jumlah pintu masuk itu sekitar 12, yang resmi cuma tiga; Sembalun, Senaru dan Aiq Berik. Sisanya jalur ilegal yang bisa dikatakan berbahaya, karena rutenya banyak melewati jalur yang curam,” jelasnya.

Seharusnya untuk meminimalisir kecelakaan saat pendakian dan meningkatkan pemasukan TNGR, jalur ilegal ini ditutup. Sehingga para pendaki hanya naik lewat jalur resmi. Ini tentu memudahkan pihak TNGR untuk memonitor siapa pendaki yang naik.

Selain itu, Andi menyayangkan begitu mudahnya akses ke Rinjani. Bahkan pendaki di bawah umur juga banyak ia temui. Tidak ada persyaratan apa pun yang dibutuhkan wisatawan, cukup dengan membayar tiket masuk Rp 5 ribu untuk wisatawan lokal dan Rp 150 ribu untuk wisatawan asing.

“Beda dengan pendakian di luar negeri, banyak syarat yang harus dipenuhi sebelum mendaki. Misalnya, daftar dulu maksimal tiga bulan sebelum keberangkatan. Formulir identitas diisi lengkap dan harus ada surat keterangan sehat dari dokter,” ujarnya.

Hal serupa juga sudah diterapkan Taman Nasional Gunung Semeru Tengger (TNGST) yang mewajibkan pendaki menyerahkan kartu identitas dan surat keterangan dokter sebelum mendaki. Pendaftaran juga dilakukan maksimal seminggu sebelum pendakian. Pendaki dibawah umur juga harus dilengkapi surat keterangan dari orang tua atau wali.

Beberapa jalur pendakian, menurut Andi juga perlu pembenahan. Karena beberapa jalur dan papan pembatas yang sudah mulai rusak. “Di jalur pendakian Tengger, jalannya sudah berbatu-batu, jalur pendakiannya sudah ada yang rusak, padahal pembangunannya baru selesai sebagian,” ujarnya prihatin.

Sebagai tambahan, Andi juga menyarankan agar porter yang beroperasi di Rinjani diberikan lisensi khusus. “Porter itu lebih bagus kalau ada lisensi khusus, jadinya tidak semua orang bisa jadi porter,” tambahnya. (ros)