Kondisi Korban Bencana di Labuan Tereng, Warga Resah Banjir Susulan, Aktivitas Usaha Batu Bata Lumpuh

Banjir susulan melanda Desa Labuan Tereng selama dua hari berturut-turut. (Suara NTB/her)

Banjir susulan kembali menerjang Desa Labuan Tereng Kecamatan Lembar Lombok Barat (Lobar) selama dua hari berturut-turut, yakni Minggu, 21 Februari 2021 hingga Senin, 22 Februari 2021.  Menyusul tanggul sungai yang jebol belum juga diperbaiki. Warga juga dibuat tidak nyenyak tidur, karena hampir tiap malam mereka berjaga-jaga khawatir terjadi hujan yang bisa membawa air bah menghantam pemukiman mereka.

Hujan melanda daerah sekitarnya hampir seharian, mulai sejak Minggu, 21 Februari 2021, hingga Senin sore. Air sungai pun masuk ke pemukiman warga, hingga jalan dan gang. Yang paling parah ketinggian betis orang dewasa. Kondisi ini menambah keresahan warga, karena mereka bertanya-tanya sampai kapan banjir itu melanda pemukiman mereka.

Iklan

Di dusun sebelah, yakni Dusun Tibu terdapat tujuh KK yang berada di pinggir sungai juga tidak tenang. Karena rumah mereka di bawah ancaman longsor tebing sungai. Bahkan dari tujuh unit rumah, terdapat tiga rusak berat dan empat unit lainnya tinggal menunggu waktu ambruk jika hujan terjadi.

Mat, warga yang tinggal di sekitar bibir sungai itu mengaku dilanda rasa takut ketika suasana langit mulai mendung. “Kami takut ketika mendung. Kami tidak berani tidur, khwatir hujan dan air sungai menggerus rumah kami,” tutur dia.

Ia dan warga sekitar yang memliki rumah di dekat tebing sungai hampir tiap malam tidak bisa tidur, karena berjaga-jaga terjadi hujan.  Warga juga tidak berani menempati rumahnya, karena takut sewaktu-waktu roboh. Ketika hujan turun, ia bersama keluarganya pun langsung mengungsi ke tempat yang aman. Karena ia dan warga diarahkan oleh petugas untuk mengungsi ketika hujan turun.

Ia berharap agar Pemda segera melakukan penanganan agar rumahnya bersama warga lain yang belum terkena longsor bisa diselamatkan. Sejauh ini sudah ada bantuan sembako dari pemerintah, seperti mi, nasi. Karena warga sekitar kurang mampu, rata-rata bermata pencaharian membuat batu bata dan mencari kayu.

Warga mencari kayu di hutan untuk dijual ke perajin batu bata sebagai bahan bakar membakar batu bata. Sehingga jangankan untuk memperbaiki rumah, kebutuhan sehari-hari saja agak susah apalagi kondisi hujan usaha warga terpaksa dihentikan, karena tidak pernah membuat batu bata. Warga kata dia dilarang mencari kayu di perbukitan, namun bagi warga tidak ada mata pencaharian lain.

Sementara itu dalam upaya untuk mengurangi risiko bencana. BPBD Lobar mengingatkan warga sekitar lokasi itu untuk segera mengungsi ketika hujan semakin deras dsn air sungai semakin tinggi. Terlebih bagi warga yang rumahnya berpotensi roboh. “Kita sudah ingatkan warga apalagi yang rumahnya berpotensi roboh, kalau hujan deras, air sungai semakin tinggi. Maka wajib untuk segera keluar dari rumah” pesan Kasi Logistik BPBD Lobar, H. Tohri, saat ditemui di lokasi banjir, Senin, 22 Februari 2021.

Kendati di lokasi tanggul yang jebol itu, terlihat sudah ada alat berat yang diturunkan oleh pihak BWS untuk membuat tanggul pengaman. Hal ini untuk melindungi rumah warga yang terancam roboh. “Ini berkat koordinasi yang cukup baik antara Pemda Lobar dengan provinsi dalam hal ini BWS dan Dinas PUPR,” ungkapnya.

Pihaknya khawatir, bila intensitas hujan tetap tinggi dan air bah yang datang cukup besar, maka enam rumah lainnya yang saat ini berpotensi roboh pun bisa roboh seketika. Sehingga koordinasi dengan pemerintah desa pun semakin diintensifkan sebagai upaya tanggap terhadap kondisi yang ekstrem saat ini. Untuk tetap bersama-sama memonitor situasi dan kondisi terkini di lokasi jebolnya tanggul itu. (her)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional