Komunikasi Nyaris Terputus, Warga Bima di Mataram Khawatirkan Nasib Keluarga

Mataram (Suara NTB) – Bencana banjir di Kabupaten dan Kota Bima menimbulkan keresahan bagi sejumlah warga Bima yang tinggal di Mataram. Pasalnya, akses komunikasi dengan keluarga yang tinggal di kampung halaman mereka di Bima nyaris terputus.

Informasi yang dihimpun Suara NTB, sejumlah warga Mataram asal Bima mengungkapkan kekhawatiran karena tidak bisa menghubungi keluarga mereka yang berada di daerah yang sedang tertimpa musibah banjir tersebut.

Iklan

Dihubungi Rabu, 21 Desember 2016 malam, Dr. M. Firmansyah, salah seorang warga Mataram asal Bima, mengaku gelisah karena tidak ada satupun anggota keluarganya di Bima yang berhasil ia hubungi. Sementara, melalui media sosial, ia melihat betapa besar dampak yang ditimbulkan banjir yang melanda Bima. Firmansyah mengaku tidak bisa berbuat banyak selain menunggu kabar dari keluarga di kampung halaman.

“Sekarang hanya bisa tunggu telepon terus. Keluarga di Rabadompu, kebetulan itu agak rendah posisi rumah orang tua saya itu,” ujarnya. Meski demikian, ia berharap tidak terjadi hal yang buruk terhadap orang tua dan kerabatnya di Bima.

Situasi serupa melanda Muhammad Irwan. Akademisi yang berasal dari Penaraga, Bima ini juga mengaku resah karena akses komunikasi dengan keluarga di Bima lumpuh. Ia telah berulangkali menghubungi keluarga untuk menanyakan kabar, namun, tidak ada yang bisa tersambung. Untungnya, saat diwawancarai, Irwan mengaku hanya mendapatkan pesan singkat dari keluarganya.

“Mertua saya di Kampung Sumbawa Kelurahan Tanjung. Saya dapat kabar, air di Penaraga sudah setinggi pinggang. Di jalan itu, warga itu pindah ke masjid. Jadi kita cemas-cemas ini ndak bisa dihubungi semua,” ujarnya.

Terkait kondisi ini, Sekretaris Rukun Keluarga Bima di Lombok, Iwan Harsono mengutarakan bahwa ratusan ribu warga Mataram asal Bima tentu dilanda harap-harap cemas menyusul lumpuhnya akses komunikasi dengan keluarga di kampung halaman. Iwan sendiri mengaku sudah buru-buru memesan tiket pesawat menuju Bima agar bisa menengok keluarganya.
“Sekarang banyak warga Mataram asal Bima yang tidak bisa mengetahui kondisi keluarga,” ujarnya.

Selain cemas, Iwan juga mengaku prihatin dengan banjir Bima ini. Keprihatinan ini dirasakannya karena melihat betapa dari waktu ke waktu, kondisi kampung halamannya di Kampung Sarae, Bima justru semakin rawan banjir.

“Keluarga saya itu di Kampung Sarae itu, waktu masa kecil saya, sungai itu saya lompat dari atas jembatan, tinggi. Sekarang tinggal 1 meter jaraknya,” ujar Iwan. Ia menambahkan, setiap tahunnya, setiap kali musim hujan, keluarga besarnya di Kampung Sarae yang berada di sebelah utara Istana Bima harus mengungsi karena banjir. Jika setiap tahunnya saja sudah harus mengungsi, Iwan sulit membayangkan kondisi yang dialami keluarganya di Bima saat ini.

Celakanya lagi, komunikasi yang terputus membuat ia hanya bisa menduga-duga bagaimana kondisi mereka saat ini. “Apalagi sekarang. Tapi ndak bisa komunikasi, mati HP, macam-macam. Tapi saya sempat bisa telepon keluarga di Sila, sebelah selatan Ulet Jaya itu ndak apa-apa, karena katanya air dari atas gunung turun langsung ke laut,” ujarnya.

Sejauh ini, ia mengaku hanya menerima informasi melalui aplikasi pesan WhatsApp saja di grup RKB Pulau Lombok yang dikelolanya sebagai admin. Namun, tetap saja Iwan resah karena tidak bisa mendengar langsung kabar keluarganya. “Karena sepanjang itu orang tua saya bapak saya bersaudara 12, di situ semua tinggal. Di sebelah utara Istana Bima.”

Meski demikian, Iwan menyerukan kepada rekan-rekannya untuk tidak panik dan tetap berupaya membangun komunikasi dengan keluarga di kampung halaman. Terhadap warga di Bima, Iwan juga menyerukan untuk bersabar dan mengambil hikmah dari bencana ini.

“Yang penting sekarang, waspada terhadap banjir susulan, selamatkan nyawa yang penting. Karena saya yakin pemerintah sedang bekerja juga, ada BPBD dan lain-lain yang sedang bekerja sekarang,” tandasnya. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here