Komplotan Pembalak Hutan Tambora Kalah Praperadilan

Suasana sidang pembacaan putusan praperadilan sah tidaknya penyitaan barang bukti kasus pembalakan liar kayu Hutan Gunung Tambora di Pengadilan Negeri Selong di Selong, Lombok Timur.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Permohonan praperadilan pemilik truk pengangkut kayu Hutan Gunung Tambora mental di Pengadilan Negeri Selong. Praperadilan itu terkait sah tidaknya penyitaan enam truk yang mengangkut 99,57 kubik kayu diduga hasil pembalakan liar. Putusan hakim tunggal PN Selong menguatkan prosedur hukum tim penyidik Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB.

Hakim tunggal Yeni Eko Purwaningsih memutuskan permohonan praperadilan Yan Talin Genda, Arsyad, Sukardin, dan Agus Salim tidak dapat diterima. Putusan tercantum dalam amar Bernomor 1/Pid.Pra/2020/PN Sel tertanggal 10 Juni 2020.

Iklan

Empat pemohon tersebut sebelumnya memohonkan praperadilan tidak sahnya penyitaan truk bernopol DK 8991 BH, EA 8846 MZ, DK 8969 WE, EA 8562 N, EA 8566 NZ, dsn EA 8350 B.

Kasi Gakkum Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB Astan Wirya menjelaskan permohonan praperadilan tersebut obscure libel alias kabur.

“Jadi prinsip kehati-hatian dan HAM tetap menjadi pedoman tim penyidik dalam melaksanakan penyidikan dan penegakkan hukum,” ucapnya menanggapi putusan praperadilan tersebut.

Terkait penanganan kasus, pemilik kayu dan penerbit dokumen diduga ilegal. Kayu hasil pembalakan liar di kawasan hutan RTK.53 Gunung Tambora di Kabupaten Dompu disamarkan dengan nota angkutan yang tidak sah. “Kayu yang dibawa 99,57 kubik. Jumlahnya 929 batang,”

Tim Penyidik (PPNS) LHK Provinsi NTB bersama  Balai Gakkum Jawa Bali Nusa Tenggara sedang melakukan pengembangan kasus. Terkait pembeli yang memesan kayu hasil illegal logging.

Dalam kasus tersebut, pemilik UD Cahaya Baru AR ditetapkan sebagai tersangka pengangkut ilegal kayu hasil pembalakan liar di kawasan hutan RTK.53 Gunung Tambora, Dompu. Tersangka AR diduga membuat nota angkutan bodong atas 99,57 kubik kayu hutan.

  BPKP dan Kejati Agendakan Audit Kasus Merger BPR

Kasus berawal dari pengamanan enam truk yang mengangkut 928 batang kayu di Jalan Labuhan Kayangan, Pringgabaya, Lombok Timur pada Jumat (13/3). Enam truk dihentikan karena mengangkut kayu tanpa dokumen yang sah.

Enam truk itu dikemudikan masing-masing oleh AL, RS, DK, SL, SK, dan YK membawa kayu Rajumas dengan nota angkutan lanjutan UD Drm.  Total kayu yang diangkut sejumlah 928 batang dengan volume 99,57 kubik.

Kayu diduga diambil dari kawasan hutan secara tidak sah. Kayu jenis Kelanggo atau Rajumas di kebun-kebun masyarakat atau lahan kepemilikan di wilayah Kecamatan Pekat sudah sangat sedikit dan berdiameter kecil. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here