Komplek Perumahan di Mataram Tak Sediakan Lahan Pekuburan

Lahan pekuburan di lingkungan Karang Kelok, kelurahan Monjok Barat, Kamis, 12 Maret 2020. Lahan pekuburan ini sudah sesak. Banyak warga komplek perumahan di sekitar kawasan pekuburan Monjok Barat mengebumikan jenazah kerabatnya ke pemakaman Monjok. Padahal, seharusnya pihak perumahan harus menyediakan lahan pekuburan di dalam komplek perumahan. (Suara NTB/viq)

Mataram (Suara NTB) – Dalam ketentuan tata ruang, seharusnya semua komplek perumahan di Mataram menyediakan lahan pekuburan dan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 30 persen dari luas lahan komplek. Akan tetapi, sejauh ini, pengembang perumahan di Mataram abai terhadap itu. Semua komplek perumahan di Mataram nihil lahan pekuburan.

Salah satu warga perumahan Griya Cahaya Lingkungan Jempong Baru Kecamatan Sekarbela, Helmi mengatakan, sejauh ini pihak pengusaha tak menyediakan fasilitas umum seperti RTH di komplek perumahan yang ia tempati. Padahal kata Helmi, seharusnya pihak pengusaha menyediakan lahan untuk berolah raga di lingkungan komplek yang ia tinggali.

Iklan

“Apalagi untuk lahan pekuburan. Saya rasa tidak ada di dalam komplek ini,” tuturnya kepada Suara NTB, Kamis, 12 Maret 2020.

Padahal jelas warga kelahiran Kopang, Lombok Tengah ini, sebelum tinggal di komplek Griya Cahaya, dalam peta yang ditawarkan pihak pengembang, sebanyak 10 are lahan fasum yang semestinya disediakan pihak pengusaha.  “Seharusnya ada memang lahan untuk RTH-nya. Tapi, selama ini, setahu saya tidak ada. Apalagi untuk lahan pekuburan. Saya yakin tidak ada di komplek ini,” tuturnya.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Mataram, H. Kemal Islam mengatakan, sejauh ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan beberapa pengembang perumahan di Mataram terkait masalah ketersediaan lahan untuk fasilitas umum dan lahan pekuburan. Dalam aturannya, pengusaha perumahan di Mataram harus menyediakan lahan pekuburan dan lahan untuk fasum seluas 30 persen dari luas komplek perumahan.

“Jadi seharusnya begitu. Mereka yang sediakan lahan pekuburan dan lahan fasumnya,” kata Kemal. Khusus lahan pekuburan untuk warga asli kota Mataram, selama ini Pemkot Mataram memang sudah menyediakan lahannya. Akan tetapi ungkap Kemal, kota Mataram masih keterbatasan lahan. “Tapi untuk lahan pekuburan warga asli Mataram itu sudah ada dari dulu,” jelasnya.

Bagi warga pendatang yang tinggal di beberapa perumahan di Mataram, seharusnya pihak pengembang perumahan menyediakan lahan pekuburan. Karena, dalam aturannya jelas Kemal, pihak pengembang harus menyediakan lahan pekuburan sekurang-kurangnya 10 persen. “Harus disediakan lahan pekuburan di area kompleknya. Karena memang itu merupakan kewajiban pengembang,” katanya.

Penjaga lahan pekuburan di Monjok Barat yang enggan dikorankan namanya menuturkan, selama ini semua area lahan pekuburan di Monjok Barat sudah terisi. “Lahannya sudah sesak. Jadi terpaksa tidak pakai skat kalau ada yang dikebumikan di sini,” tuturnya. Ia pun menuturkan, belum ada solusi konkret jika lahan pekuburan ini penuh. (viq)