Kompetisi Surfing Disambut Antusias

Seorang peselancar bermain selancar di kawasan Pantai Kuta, Bali, Jumat (7/10). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar memperingatkan masyarakat yang beraktivitas di kawasan perairan selatan Bali untuk waspada terhadap gelombang tinggi yang dapat mencapai 3 meter. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pd/16

Mataram (Suara NTB) – Kompetisi surfing yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah disambut antusias oleh para peselancar. Peserta kompetisi untuk memeriahkan perayaan Bau Nyale 2017 ini dibatasi.

Jumlah peserta yang dilibatkan dalam atraksi wisata air itu tidak lebih dari 80 orang. Para peserta digalang dari berbagai wilayah, tak terkecuali Senggigi maupun Bali. Jumlah peserta yang telah mendaftar sampai saat ini telah mencapai setengah dari kuota yang ditentukan.

Iklan

“Yang sudah mendaftar baru 40 orang. Pesertanya kita batasi karena penyelenggaraannya tidak lama. Ini hanya permulaan sekaligus untuk memeriahkan perayaan Bau Nyale saja,” kata Kimen, peselancar senior yang menginisiasi penyelenggaraan Surfing Competition di Lombok Tengah, Jumat, 10 Februari 2017.

Ia mengemukakan, kompetisi tersebut patut dilakukan secara berkelanjutan. Selain untuk memikat kunjungan wisatawan, atraksi macam olahraga air kesukaan para turis itu juga dapat meningkatkan angka lama tinggal atau length of stay wisatawan.

“Kita punya potensi ombak yang bagus dan diakui oleh surfer sedunia. Pulau Lombok diakui memiliki ombak terbaik di dunia,” kata surfer yang empat kali meraih juara dunia di Australia ini.

Keunikan ombak di Pulau Lombok dikenal dengan istilah The Best Left Surf on The World. Ombak kiri terbaik yang paling disukai para peselancar itu terletak di Kawasan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Sayangnya, isu keamanan yang belum terjamin membuat kawasan tersebut sulit dikembangkan. Padahal, Pulau Lombok memiliki potensi untuk dikenal sebagai surga para peselancar.

“Itu letaknya di Bangko – Bangko, Sekotong. Jadi dulu sempat ada sebuah lembaga yang melakukan survey, dan menggalang pendapat para surfer di dunia. Tempat – tempat surfing di Hawai maupun Australi pun kalah pamor,” katanya.

Potensi seperti itu lah yang ia lihat memiliki prospek menjanjikan dalam dunia pariwisata. Berkaca dari Bali, industri pariwisatanya mengalami perkembangan yang signifikan lantaran adanya atraksi surfing. Pemerintah di Pulau Lombok, sudah saatnya untuk bangkit dan melirik potensi ini.

“Pariwisata Bali itu hidup, sebagaian besar karena ditopang atraksi surfing. Jadi tidak hanya budayanya saja yang berperan. Atraksi surfing juga berkontribusi tinggi,” tandasnya. (met)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here