Komoditas Impor Dikhawatirkan Hancurkan Harga Cabai Lokal

Selong (Suara NTB) – Kedatangan cabai impor dari Thailand dan India di Lombok Timur (Lotim) sudah diketahui petani cabai. Untuk saat ini, cabai impor memang belum memberikan pengaruh harga pasar cabai di Lotim. Namun dikhawatirkan, lambat laun jika keran impor makin besar akan membuat harga cabai bisa anjlok.

Kepada Suara NTB, salah satu petani cabai Desa Suralaga, H. Subhan mengatakan, segmen pasar cabai impor memang  berbeda dengan pasar cabai lokal. Di mana, cabai impor  ini merupakan cabai kering. Saat ini, jika disandingkan dengan cabai lokal yang basah, kemungkinan masyarakat akan lebih memilih cabai basah.  “Selera masyarakat kita kan ke cabai rawit basah,” akunya, Rabu, 1 Maret 2017.

Iklan

Terkecuali nantinya saat harga anjlok dengan kisaran Rp 5 ribu saja per kilogram. Petani pun rata-rata memilih untuk mengeringkan cabai-cabainya. Untuk saat ini, harga cabai lokal  masih cukup tinggi, yakni Rp 130 ribu per kilogram.

Kepala Bidang Produksi pada Dinas Pertanian, H. Badarudin yang dikonfirmasi terpisah mengakui juga kekhawatiran petani jika keran impor dibuka besar-besaran bisa membuat harga anjlok.

Sampai sekarang harga cabai masih tetap tinggi kecuali volume cabai impornya cukup besar dan masuk ke sebagian besar pasar, karena juga harganya lebih murah akan berpengaruh. “Memang kita juga berharap harga cabai ini tidak terlalu mahal seperti sekarang, karena kalau terjadi dalam jangka cukup lama maka pengaruhnya terhadap inflasi juga cukup besar,” paparnya.

Dikhawatirkan, jika keran impor ini dibuka oleh pemerintah maka harga cabai akan langsung anjlok sampai angka Rp 5 ribu. Jelas, petani nantinya yang akan merugi.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, tutur H. Badar, sampai dengan saat ini  masih terus berupaya untuk melakukan stabilisasi harga dengan melakukan operasi pasar dengan melakukan mutasi cabai dari  daerah yang masih tersedia, terutama cabai rawit merah termasuk dari Lotim. “Informasi yang saya dapatkan Dirjen Hortikultura belum pernah mengeluarkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) sehingga kalau ada yang beredar masuknya secara itu secara ilegal,” ungkapnya. (rus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here