Menelaah Komunikasi Politik Zulkieflimansyah Berbasis Social Media

Gubernur NTB,  H.  Zulkieflimansyah (Suara NTB/humasntb)

Penulis : Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

Flight Jakarta – Mataram (Lombok). Lumayan. Saya terbang bersama tiga kawan. Sejak dari Bandara Soekarno-Hatta, saya menulis kisi-kisinya. Karena dari sholat subuh, saya intip, amati dan berfikir sekilas tentang postingan seorang Gubernur pilihan rakyat NTB : Zulkieflimansyah.

Postingannya menarik tentang “Pembangunan Bendungan di Lombok Barat”. Sejenak memikirkan, hebat Gubernur NTB karena berusaha menyelesaikan persoalan krisis air pertanian yang selama ini melanda pulau Lombok.

Ia katakan di postingannya itu: “Pagi ini dengan Dirjen Sumberdaya Air Kementerian PUPR menandai dimulainya Pembangunan Bendungan Meninting Lombok Barat. Proyek besar ini diharapkan selesai tahun 2022.”

“Kalau ini selesai Insya Allah dari Meninting air akan mengalir sampai jauh ke Lombok Selatan sehingga permasalahan pengairan dan kekeringan dapat diatasi.”

“Insya Allah akan ada lagi bendungan-bendungan baru yang akan dibangun di NTB ini dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.” Demikian post Gubernur NTB : Zulkieflimansyah.

Dari rumah ke bandara, saya sudah mulai “ketak ketuk ketik” di keypad handphone. Namun, judul tulisan masih bingung: “apa versi komunikasi milenial? ataukah komunikasi politik tataran elitis ataukah komunikasi model Friedman yang menggembirakan rakyat?” Sambil khayal judul tulisan ini, saya bertemu kawan di Bandara.

Saat flight “pesawat di atas langit”, tangan saya tak bisa diam. Orang di samping saya, tegur: “Pak Take Off, ntar aja dilanjutkan.” Kemudian, sejenak menghargai tetangga, handpone masuk ke kantong depan jaket. Setelah pesawat posisi bagus dan sudah ada komando dari “Kokpit” dan penjaga “Kru Cabin”, segera saya menyandarkan kepala dan membuka handpone. Kemudian, saya melanjutkan tulisan. Dalam tempo singkat, sekitar kurang lebih 2 jam penerbangan “Garuda – GA”, saya mencoba menarasikan tentang Dr. Zul, Gubernur NTB.

Tulisan tidak selesai, karena harus istirahat. Sebelumnya, malam sempat begadang, mengerjakan hasil penelitian untuk disertasi. Kemudian, istirahat sejenak di pesawat. Sekitar 10 menit kemudian, Pesawat Garuda landing dengan baik dan mulus.

“Selamat Datang di Bandara Internasional Lombok” begitu suara “Kru Cabin” dan kami turun pesawat menuju Gedung terminal BIL. Istirahat sejenak di “Makan Bakso Tembak”. Tempat biasa nongkrong menunggu flight.

Kemudian, saya memesan Grab, dapat. Ongkosnya lumayan, pakai tunai karena saldo OVO “Nonda” (tidak ada alias kosong). Ongkos Rp215.300.

Setelah makan bakso, pengemudi grab menelepon. Suaranya wanita. Saya kaget. Karena baru pertama saya menemukan taksi online namun drivernya wanita. Dalam hati saya : “artinya Dr. Zulkieflimansyah” sebagai gubernur sudah memberi perlindungan kepada wanita, hingga menurut saya, itu wanita pertama. Karena riskan sekali. “Ini Lombok Bung.” Saya ungkap perasaan itu kepada teman. “Oke, kawan memahami sambil senyum ketawa.”

Saya menuju mobil di parkiran, depan Alfamart. Teman saya bilang, “Hebat Alfamart ini, kok bisa ada dalam bandara,” ucap kawanku.

Tanyaku, “kenapa memang?” Lalu dia menjawab, “di Turkies tidak boleh. Kena pajak miliaran.” Kemudian, segera naik mobil. Rencana menuju Kota Mataram. Di atas mobil kami berdiskusi harus dimana untuk istirahat. Karena saya ingin sekali menyelesaikan pikiran-pikiran saya. Mumet di dalam otak.

Mobil grab berjalan pelan. Aku pilih Senggigi untuk istirahat. Sesuai pesanan aplikasi. Karena aplikasi bisa mengubah rute perjalanan.

Saya bertanya pada sopir grab, yang cantik itu. Celananya “Jongkor” (Pendek). Typikal seksi. Baju putih, jaketan. Ia menjawab pertanyaan saya : “Senggigi pak.” Wah teman saya senang sekali. Tetapi saya agak risih dan nggak tenang.

Namun, agak bingung saya mau menulis dimana, kira-kira tempat agak “Senap Semu” (Nyaman dan Tenang). Ya akhirnya ke Senggigi.

Di perjalanan terus lirik kanan kiri, untuk menambah spot pikiran dan narasi tulisan. Kira-kira apa yang terbaru dilakukan oleh Dr. Zulkieflimansyah. Namun, nihil karena sudah biasa yang dilihat. Tetapi, bagi kawanku. Lombok, Bandara – Senggigi, luar biasa pembangunannya.

Kawanku, mengamati sepanjang perjalanan Bandara – Senggigi, kelihatan bersih dari sampah. Memang sengaja saya arahkan perjalanan lewat tempat bersih-bersih agar kawanku melihat yang bersih. Karena dua orang kawanku: “Aktivis Lingkungan Khusus Perairan Laut dari Amerika Serikat, perwakilan Indonesia.”

Sampai di Hotel Jayakarta – Senggigi. Tapi sebelum masuk, tepat di pintu gerbang Hotel. Dikagetkan seorang ibu setengah baya, membuang “Botol Aqua” tanggung ukuran 15ml. Kawanku langsung sigap turun dari mobil. “Ibu mohon diambil kembali sampahnya, nanti ibu buang di tempat sampah ya,” ujar kawanku.

Kemudian, mobil kembali masuk ke hotel. Kami turun dari mobil. Segera memesan kamar. Sampai di lantai 3 Hotel. Kamar cukup luas. Kami memesan dua kamar. Kamar 1: saya berdua dengan Gerry. Kawan akrab sejak advokasi nelayan dan penjaga laut.

Baca juga:  Dukung NTB ‘’Zero Waste’’, Warga Cakranegara Kompak Bersihkan Bantaran Sungai

Ternyata, Gerry mengajak saya ke Lombok untuk mengamati program Zero Waste pemerintah Prov. NTB, di bawah kepemimpinan Duo Doktor Zul-Rohmi dengan Visi NTB Gemilang.

Saya tanya Gerry, “Ger, kamu kenal Gubernur NTB?” Jawabannya, “tidak mengenalnya. Kita datang ke Lombok hanya jalan-jalan, menikmati udara segar Lombok. Karena kemaren saya di Riau itu dikepung polusi asap,” ucap Gerry.

Lanjutnya, “aku mengamati Gubernur NTB, sangat bagus programnya. Senang. Karena Zero Waste itu, program yang diterapkan oleh pemimpin yang pikirannya maju. Kalau Zero Waste sukses, NTB menjadi daerah sebagai pilot project daerah lain di Indonesia. Karena akan menjadi Indah ke depannya. Apalagi visinya gemilang. Tentu outputnya akan cemerlang. Karena setiap orang gemilang pasti cemerlang,” ujar Gerry.

Kemudian, aku tanya lagi Gerry sambil menyodorkan tulisan berjudul “Cemerlang dan Gemilang” yang kutulis beberapa hari lalu, untuk menjawab para pengkritik program 100 hari Zul-Rohmi.

“Gerry, kamu baca di mana program-program itu?” tanya ku kepada Gerry. Ia menjawab: “dari media, facebook, instagram, twitter dan media lainnya.” Lalu, aku tanya lagi, “darimana kamu tau semua media sosial Gubernur NTB?”

Ia lagi-lagi menjawab sambil senyum, kelihatan gigi “congkangnya” atau buntung. “Rus, aku tau dari media dan kubaca programnya. Lalu aku cari media sosialnya. Gampang kan kawan,” ujarnya

Lalu Gerry kembali bertanya kepadaku: “Rus, kamu pernah ketemu? setelah Gubernur NTB dilantik. Ya, bertemu memberikan support atau ide-ide lainnya. Apalagi kamu kasi tau saya (Gerry) dulu kalau nelayan diajak deklarasi dukung dia,” giliran Gerry nih bertanya.

“Ya, aku pernah ketemu sekali di KEK mandalika, kebetulan di sana tempat dulu deklarasi. Saat ini sambil berjalan dan menikmati saja. Tidak usah bertemu, media sosialnya bisa kita nikmati,” aku jawab Gerry seperti itu.

Gerry ternyata kepancing: “Rus, coba kamu bahas Komunikasi Politik Zulkieflimansyah Berbasis Media Sosial, Studi: Facebook, Twitter dan Instagram. Karena saya mengamati juga dia ‘social mediatologi’ atau penikmat sosial media,” usul Gerry.

Aku menerima saran Gerry, sambil aku keluarkan Kopi Nikmat Buatan Rangga Babuju. Ya, sambilan seruput nikmati Kopi Redstone Bima, buatan Rangga Babuju. Supaya diskusi lebih menarik. Kita menikmati di kamar hotel “Tanpa Gula” sengaja dibuatkan oleh istri, bekal perjalanan. Kemudian aku berbagi dengan Gerry.

Gerry memang pengertian. “Komunikasi politik adalah proses penyampaian informasi berupa lambang, simbol, pesan atau kegiatan yang bersifat politik, dari seseorang atau kelompok kepada orang lain dengan tujuan untuk membuka wawasan atau cara berpikir, serta mempengaruhi sikap dan tingkah laku khalayak yang menjadi target politik.” Gerry Itu menurut Nimmo (1989), Surbakti (2010), dan Cangara (2009).

Gerry kaget sampai aku hafal nama dan tahun buku para pakar komunikasi itu. Ya, kataku. Karena aku lulusan Magister Komunikasi Politik. Bacaan setiap hari politik dan cara komunikasi pemerintah. Ya, Gerry hanya mengangguk-angguk.

Gerry, mengamati Dr. Zul, Gubernur NTB, memang unik sekali. Karena tipikalnya sandalan, jeans, oblongan dan body languange tidak elitis dan tidak sombong. Walaupun cukup kita tau ya sangat bisa untuk hidup elit karena kategorinya sudah mapan.

“Ya, Dr. Zul kalau diamati dari perpektif komunikasi politik berbasis media sosial, mempunyai implikasi dan konsekuensi terhadap aktivitas politik yang terjadi baik secara faktual maupun potensial,” jelasku pada Gerry.

Lalu Gerry katakan: “faktor paling penting dalam komunikasi politik dalam pemerintahan Dr. Zul ke depan, terletak pada isi pesan yang bermuatan politik, program, metode, visi dan misi serta target kerja-kerja pemerintahan. Karena, aku melihat potensial isue is, media sangat empuk kalau media pintar melihat gaya komunikasi politik Gubernur NTB. Karena memainkan peran yang penting dalam sistem politik NTB dan tepatnya membawa situasi dimana demokrasi lokal hidup,” komentar balik Gerry panjang lebar.

Lebih pintar Gerry daripada saya. Hahah… sambil kita ngakak dan menikmati asap rokok Gerry. tentu tidak lupa dibantu oleh Kopi Pahit buatan Rangga Babuju.

“Rus, komunikasi politik pemerintahan Zul-Rohmi menjadi elemen dinamis dan menjadi bagian penentuan dari sosialisasi visi misi, partisipasi kerja, dan perekrutan sumber daya sebagai machine of change (mesin perubahan),” ungkap Gerry, saat ini komentarnya lebih cemerlang dan terlihat sangat serius.

Ya, baru kali ini, aku melihat Gerry diskusi politik panjang lebar. Karena biasanya saya mendengar ocehannya saat mitigasi lingkungan.

Baca juga:  Tegakkan Denda dan Pidana Buang Sampah Sembarangan

Ya, media sosial Dr. Zul sebagai contoh kepala daerah khusus NTB yang terbuka segala arah. Informasi perjalanan pemerintahanya sangat gampang diakses oleh rakyat. Artinya selalu pemasaran rencana, program dan target. Dr. Zul juga melakukan upaya agar ada pembentukan citra, public opinion (pendapat umum) dan menjawab pendapat atau tuduhan lawan politik.

Karena studi pemerintahan yang baik itu ukurannya transparan dan terbuka. Maka, indikator pemerintahan yang terjaga stabilitas dan kemampuan manajerialnya bagus ditandai oleh aktivitas pemerintahan berbasis media sosial (social mediatologi).

Karena itu, peran Dr. Zul sebagai nahkoda kapal (pemerintahan) yang bernama Gemilang sudah dinilai sangat bagus, baik membangun citra politik yang baik bagi khalayak sehingga dapat terbentuknya kolektif kolegialnya masyarakat berdasarkan informasi yang kita terima, baik langsung maupun melalui media sosial yang bersifat umum dan aktual.

Gerry menyimak penjelasanku secara detail dan inti dari argumentasiku bahwa memang citra Doktor Zul membawa kapal bernama Gemilang itu dalam setahun umur 100 hari sudah sangat tepat dan baik.

Giliran Gerry komentar panjang dan cerdas, tapi dalam saluran bermakna kritik, komentarnya: “Rus, beberapa media, aku baca. Komentarnya pedas-pedas. Terutama masalah beasiswa, lingkungan, Zero Waste, kehutanan, banjir dan lainnya. Aku amati bagus-bagus kritik terhadapnya,” ujar Gerry.

Kemudian, aku mencoba elaborasi sedikit. Sambil jalan membuka pintu, karena Karl Mic Licen mau masuk, sudah lima kali ketuk pintu sambil teriak: “Woi, buka pintu untuk aku, somebody home?”

Lalu aku lanjut, “pembentukan pendapat umum terhadap pemerintahan Zul-Rohmi memang sangat Nyelekit. Tapi masih dalam biasa saja. Kritik dan upaya bentuk opini itu bagus sekali sebagai evaluasi terhadap kinerja. dalam komunikasi politik, sangat ditentukan oleh peranan media politik terutama media sosial. Maka, beberapa waktu lalu, Dr. Zul menjawab mereka lewat media sosial sekaligus membuka lahan kritik baru di laman komentar facebooknya.”

Karl Mic Licen menyela di tengah keseriusan diskusi bersama Gerry. Licen bertanya: “What is discussion… Apa yang kalian diskusikan para bocah. Hahah kok serius sekali. Kopi-kopi mana?.”

“Licen, discussion is Gubernur Jenderal NTB. Gimana, kamu mau ikut nimbrung.” Tanya ku sambil mengajaknya diskusi.

Tidak disangka ternyata Licen menjawabnya: “Baru saya baca program lingkungannya, student programme ke luar negeri, Zero Waste dan banyak lagi. Saya baca juga masyarakat harus bahagia. Nah, ini bahagia gimana Rusdi?”

Kemudian, saya mencoba melanjutkan diskusi dan menjawab Licen dan Gerry secara serius: “Pertama: Ya, visi NTB Gemilang itu diterapkan dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah untuk menjadikan NTB seperti daerah (rumah) penuh bahagia.

Kedua, artikulasi dan proses mengelola aspirasi masyarakat yang bercorak ragam untuk disaring dan dirumuskan dalam bentuk rumusan yang teratur, sudah dilakukan. Apalagi agregasi (pengabungan) berbagai kepentingan yang sama atau hampir sama untuk disatukan dalam satu, seperti staf ahli dan tenaga ahlinya banyak sekali. Itu semua untuk merumusan kebijakan lebih lanjut. Tentunya lebih mudah.

Ketiga, selama satu tahun ini, sebagai fungsi pembuat kebijakan. Dr. Zul kita lihat tampil “Kosmopolit” di berbagai kalangan. Ya, politik silaturahmi dijalankan bersama lembaga legislatif dan ketua-ketua partai politik melalui berbagai hak inisiatif dan budget lewat kerja sama.

Keempat, Pemerintahan Zul-Rohmi juga sudah menerapkan Kebijakan, yang tidak hanya sekadar pembuatan rincian dan pedoman pelaksanaan peraturan, tapi juga perlu penafsiran atas aturan tersebut agar mudah dipahami dan dilaksanakan rakyatnya atau model pembangunan.

Atas, komentar dan argumentasi serius itu. Gerry dan Licen langsung akui dan merasa salut. Gerry langsung memberi sinyal test case selama berada di Lombok.

Gerry: “Rus, kamu sudah sangat bagus menjelaskan usur-unsur komunikasi politik, begitu dong sebagai magister. Cerdas.” Tutupnya sambil beranjak dari tempat duduk, untuk mandi siap untuk jalan-jalan menjejal Senggigi.

Terakhir, komunikasi politik Gubernur NTB itu sudah menjadi bagian dari Body of Knowledge yang mewakili segala unsur dan berusaha tampil sebagai Gubernur yang menjadi sumber segala pesan, opini, media, penerima dan efek opisis. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh Kepala Daerah lain. Ciri khasnya : “Oblongan, Sandalan dan Social Change.”

Para tenaga ahli dan staff ahli memang harus bekerja keras mengikuti gaya sang Gubernur. Bukan hanya untuk berharap gaji tinggi, tetapi langkahnya harus powerfull agar NTB Gemilang dapat terwujud. [*]

Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi suarantb.com.