NTB, Eropa dan Mereka yang Menata Mimpi

Catatan: Agus Talino

SUHU Kota Warsawa, Polandia, Rabu, 5 Desember 2018 lalu sangat dingin. Telapak kaki dan tangan saya seperti keram. Padahal saya sudah menggunakan mantel yang cukup tebal. Kaos kaki dan sarung tangan saya juga tebal. Saya juga menggunakan penutup kepala dan telinga. Tetapi hawa dingin masih juga menusuk hingga terasa ke tulang. Badan saya menggigil kecil.

 

Namun salah satu ruangan di Vistula University  “mengubah” hawa dingin menjadi sebuah kehangatan.  Kehangatan pertemuan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah –akrab disapa Doktor Zul– dengan 18 mahasiswa NTB yang sekitar dua bulan  ini sudah kuliah di dua perguruan tinggi di sana. Vistula University dan Collegium Civitas.

 

Mendengar pengalaman dan mimpi mereka setelah kuliah di Eropa, saya merasa haru dan bangga. Mereka bukan generasi “kaleng-kaleng”. Mereka adalah generasi yang memiliki kualitas yang sedang menata mimpi tentang masa depannya yang sukses. Tugas kita semua adalah mendoakan dan mendorong agar generasi baru NTB bisa menjadi contoh yang baik dan menginspirasi dunia.

 

Seperti cerita salah seorang mahasiswa NTB di sana, kehadiran mereka di Polandia bukan sebatas belajar di dalam kelas. Banyak pelajaran dan pengalaman yang mereka peroleh di sana. Mereka juga berupaya “menjelaskan” siapa mereka kepada dunia. Karena teman kuliah mereka datang dari berbagai negara di dunia.

 

Tanggung jawab “menjelaskan” tentang mereka kepada dunia dengan perilaku baik adalah penting.  Karena hal tersebut menujukkan kelas mereka dan bangsanya di mata teman-temannya yang datang dari banyak negara di dunia. Semua kita harus mendukung  apa yang sedang diikhtiarkan mahasiswa-mahasiswa NTB di Polandia. Bahkan Pancawati yang mengambil program Master Of Tourism & Recreation di Vistula University menyebutkan, dia  berencana menjadi penyiar di salah satu radio di sana. Dia ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan  NTB di Polandia.

 

Semangat mahasiswa-mahasiswa NTB untuk melakukan sesuatu yang baik bagi daerah dan negaranya harus kita hargai. Sekecil apa pun yang mereka lakukan, mereka sudah berbuat untuk daerah dan negaranya. Mereka harus bisa menjadi generasi baru yang produktif dan bisa melahirkan karya-karya besar. Bukan menjadi generasi yang hanya bisa mengeluh dan mengkritik, tetapi tidak berbuat dan melahirkan karya apa-apa. Ada yang menyebutkan generasi seperti itu adalah generasi “kaleng-kaleng”. Generasi yang menyiapkan lubangnya sendiri untuk menjerumuskan masa depannya.

Baca juga:  120 Aktivis NTB Ikut Program Beasiswa di Malaysia

 

Belajar di Polandia,  mereka pasti dihadapkan dengan lingkungan dan suasana belajar yang berbeda dengan Indonesia.  Namun menurut  Dani Alfatwari yang mengambil program Master Of Tourism & Recreation di Vistula University, dia mengakui  belajar  banyak dari perbedaan tersebut.  Alhamdulillah, dia  merasa nyaman dan sudah “klik” dengan situasi akademik di sana. Dan setiap ada kelas, mereka sangat aktif dan komunikatif dangan dosen. Meski ada juga mahasiswa dari negara lain yang kurang disiplin.

 

Keseriusan mereka belajar menunjukkan  tanggung jawab mereka. Apalagi seperti yang disebutkan Subhan Yusuf yang mengambil program Master International Relations di Collegium Civitas,  bahwa dosen mereka adalah orang-orang hebat. Bahkan ada salah seorang dosen mereka yang baru saja menang Pilkada di sana. Tetapi tetap mengajar seperti biasa. Sehingga kesempatan belajar di sana harus benar-benar dimanfaatkan.

                                                     ***

Kesempatan belajar di Eropa terbuka sangat lebar. Tidak saja di Polandia. Tetapi juga di beberapa negara lainnya, seperti Republik Ceko. Dalam pertemuan Doktor Zul dan rombongan dengan Dubes Indonesia untuk Republik Ceko, Aulia  Rachman di Praha, Aulia Rachman  menyambut baik dan mendukung rencana Doktor Zul yang akan mengirim mahasiswa NTB untuk kuliah di Ceko.

 

Pilihan untuk menyekolahkan mahasiswa NTB di Ceko tidak keliru. Menurut Aulia Rachman, Ceko merupakan tempat untuk belajar Sains, Teknologi dan Engineering yang baik. Tempatnya di Charles University  Praha. Dulu katanya, Presiden Soekarno pernah mengirim lebih dari 300 tamatan SMA untuk belajar di Ceko.

 

Menurut Doktor Zul, kedatangannya ke Eropa bersama rombongan. Termasuk rektor beberapa perguruan tinggi di NTB adalah untuk sebuah kerja besar. Menjajaki peluang kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di sana untuk mengirim mahasiswa NTB belajar di Eropa.

Baca juga:  Dubes Dijabat Putra Daerah, Pemprov Bakal Perbanyak Anak NTB Kuliah di Turki

 

Mengirim anak-anak NTB untuk kuliah di luar negeri bagi Doktor Zul sangat penting. Selain untuk  belajar berbagai bidang ilmu.  Juga untuk menggesa cara pandang anak-anak muda.  Tanpa kita sadari katanya,  modal sosial kita terkuras karena persoalan politik. Bahkan dia menyebutkan, Indonesia mengalami defisit modal sosial yang hebat.  Dia memberi contoh, ketika menjadi calon Gubernur NTB beberapa waktu lalu,  masih banyak yang bertanya tentang asal usul daerahnya. Padahal dirinya berasal dari NTB.  Artinya, tidak sedikit orang yang masih terjebak dengan politik identitas. Dan itu bisa menjadi penyumbat untuk kita maju.

 

Jika program yang dilakukan di NTB ini berhasil. Harapannya, mungkin bisa menginspirasi presiden yang terpilih tahun depan untuk mengirim lebih banyak anak-anak muda  ke luar negeri untuk sekolah. Biasanya kata Doktor Zul,  di luar negeri kita tidak lagi mempunyai waktu untuk membicarakan asal usul daerah. Yang  bergemuruh di dalam jiwa adalah kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.

 

Program beasiswa ke luar negeri yang dilaksanakan Pemprov NTB membuka harapan baru bagi banyak anak muda untuk menata mimpi dan masa depannya. Salah satunya, Agustina Lucia Bianca yang mengambil program Master International Relations di Vistula University. Menurutnya, kuliah di luar negeri itu banyak sekali manfaatnya. Bisa menambah networking. Punya pengalaman menimbah ilmu di negeri orang dan wawasan menjadi lebih terbuka.

 

Karena itu, dia sangat berterima kasih kepada Pemprov NTB yang telah memberi kesempatan untuk  kuliah di Polandia. Setelah di Polandia katanya, dorongan untuk mempunyai mimpi besar menjadi diplomat di kancah dunia semakin kuat.

 

Menurutnya, hidup itu terlalu singkat jika kita tidak memiliki mimpi besar. Dan “pintu” untuk membangun mimpi besar itu datang melalui beasiswa yang diberikan Pemprov NTB. Dia bertekad setelah “menaklukkan” Eropa, dia juga ingin belajar di negara-negara lain. Mimpi anak muda itu memang harus besar. Tetapi hidup bukan sekadar kata-kata. Bukan sekadar teori-teori. Bukan juga sekadar mimpi.  Hidup itu adalah perilaku. Teruslah berikhtiar dan tetaplah berdoa.  Sukses selalu untuk mahasiswa NTB, khususnya di Polandia. ***