Zul-Rohmi, Gempa dan Cahaya Masih Ada

Catatan: Agus Talino

KETIKA gempa dengan kekuatan 7.0 SR terjadi  Minggu, 5 Agustus 2018 malam, saya sedang berada di Lombok Epicentrum Mall. Mungkin karena berada pada  ketinggian, gedung tersebut terasa berayun keras. Pengunjung panik. Semuanya berusaha turun dan keluar dari gedung mal.

Di halaman parkir mal,  pengunjung seperti berebutan keluar dari areal parkir. Di jalan-jalan kendaraan sangat padat. Klakson mobil terdengar bersahutan.  Isu tsunami menyebabkan masyarakat bergegas meninggalkan rumahnya mencari tempat yang jauh dari laut.

Entah isu itu berawal dari mana. Padahal tidak ada tsunami yang mengancam. Masyarakat berangsur-angsur kembali ke rumahnya  setelah ada pengumuman dari aparat kepolisian yang berpatroli bahwa isu tsunami itu tidak benar.

Gempa dengan kekuatan 7.0 SR  dan beberapa kali gempa lainnya yang mengguncang NTB benar-benar menimbulkan duka yang sangat mendalam. Akibat gempa tersebut, ratusan nyawa hilang. Banyak bangunan yang  roboh dan ribuan orang mengungsi.  Kerugian dan kerusakan ditaksir Rp 14 triliun lebih.  Warga yang berada di Pulau Lombok,  Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat  berada dalam cemas dan kekhawatiran yang panjang. Lebih dari satu bulan, warga masih ada yang tinggal di pungungsian. Ada yang memang rumahnya  sudah hilang dan rusak sehingga tidak bisa lagi ditempati. Ada juga karena khawatir dengan gempa susulan yang tiba-tiba mengguncang.

                                                                ***

Setelah gempa dengan kekuatan 7.0 SR itu, saya dan dan tim dari Suara NTB datang ke Kabupaten Lombok Utara (KLU). Kedatangan kami ke KLU, selain membawa sumbangan untuk korban gempa. Kami menjenguk  Johari , Wartawan Suara NTB  dan istri almarhum Syamsudin Karim, mantan Wartawan Bali Post yang juga menjadi korban gempa. Rumah mereka roboh. Mereka dan keluarga tinggal di pengungsian. Johari yang biasa kami panggil Jo mengungsi jauh pada daerah ketinggian di Dusun Gitak Demung, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga.

Ketika bertemu dengan istri almarhum Syamsudin Karim  yang menyambut kami dengan tangis. Tidak terasa air mata saya jatuh. Begitu juga ketika kami mendatangi tempat pengungsiannya Jo dan keluarga. Tidak mudah bagi kami untuk tidak larut pada kesedihan mereka. Gempa itu telah melenyapkan rumah mereka yang mereka bangun dengan tidak mudah.

Baca juga:  ‘’Groundbreaking’’ Dam Meninting Tandai Setahun Kepemimpinan Zul-Rohmi

Pemandangan yang sama, saya lihat ketika kami datang menyalurkan bantuan ke beberapa tempat di Lombok Barat. Tidak sedikit juga warga yang tinggal di pungungsian karena rumahnya roboh dan rusak diguncang gempa.

Bantuan untuk korban gempa datang dari banyak tempat. Mereka yang tergerak hatinya untuk membantu tidak sedikit. Pemerintah bergerak cepat. Presiden Joko Widodo tiga kali datang  ke Lombok. Wakil Presiden M. Jusuf Kalla juga datang. Menteri-menteri datang membawa bantuan. Termasuk ke Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat yang juga diguncang gempa.

Gempa  yang mengguncang NTB dan menelan banyak korban menjadi tantangan yang tidak ringan bagi pasangan Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) yang hari ini, Rabu, 19 September 2018 dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB.

Persolannya, bukan sebatas  membangun kembali  bangunan yang rusak. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah menata masa depan NTB. Setelah dihantam gempa, NTB harus bisa lebih maju dari sebelumnya. Angka kemiskinan harus turun.

Kemiskinan di NTB setelah gempa belum ada angkanya. Boleh jadi juga naik. Yang pasti selama 10 tahun kepemimpinan Dr. TGH. M. Zainul Majdi (TGB) angka kemiskinan turun signifikan. Pada periode pertama berpasangan dengan Ir. H. Badrul Munir  sebagai  Gubernur dan Wakil Gubernur NTB dan periode kedua berpasangan dengan H. Muh. Amin SH.

Bambang Brodjonegoro, Menteri PPN/Bappenas yang menjadi salah seorang pembicara pada malam dana untuk gempa Lombok-Sumbawa  dan peluncuran buku “TGBNOMICS” di Jakarta, Jumat, 14 September 2018 lalu menyebutkan, penurunan angka kemiskinan di NTB  selama 10 tahun kepemimpinan TGB capaiannya fenomenal.  Pada awal kepemimpinan TGB  tahun 2008, angka kemiskinan NTB 23,8 persen. Dan pada 2018 angka kemiskinan di NTB turun menjadi 14,75 persen. Sementara ada daerah sepanjang 10 tahun angka kemiskinannya tidak turun-turun di atas 20 persen.

Baca juga:  ‘’Groundbreaking’’ Dam Meninting Tandai Setahun Kepemimpinan Zul-Rohmi

Penurunan angka kemiskinan di NTB tidak  boleh terhenti karena gempa. Semangatnya harus lebih tinggi dari kepemimpinan sebelumnya. Karenanya, pasangan Zul-Rohmi harus bisa mencari  cara yang benar-benar tepat. Sehingga capaiannya lebih baik. Sebelumnya saya mendengar ada program ‘’melawan kemiskinan dari desa’’. Saya tidak paham, apa program ini akan dilanjutkan atau tidak. Sebenarnya bagus juga dilanjutkan sepanjang program tersebut masih sesuai. Menurut Bambang Brodjonegoro, penurunan angka kemiskinan bukan merupakan kejadian alamiah. Tetapi perlu effort yang terkoordinasi. Karena kemiskinan itu sifatnya lintas sektor.

Pada kesempatan yang sama TGB menyebutkan, pada akhir kepemimpinannya NTB mendapatkan ujian dan cobaan yang sungguh dahsyat. Gempa terjadi terus-menerus dalam waktu yang relatif lama.Tetapi menurut TGB,  di tengah-tengah ujian dan cobaan tersebut optimisme masyarakat NTB masih lebih kuat.

Yang saya rasakan dari peristiwa gempa itu adalah solidaritas dan saling berempati yang luar biasa. Orang bergerak dari mana-mana untuk datang memberi bantuan. Melihat modal sosial yang kita miliki,  kita tidak punya alasan untuk tidak optimis pada masa depan NTB. “Cahaya” masih ada. Insya Allah akan lebih terang. Yang paling penting, Zul-Rohmi bisa mengelola modal sosial yang kita miliki. Membangun,  menjaga  dan merawat kekuatan bersama.  Sehingga kita semua bisa saling membantu dan saling menguatkan untuk merajut dan menjahit masa depan NTB yang lebih baik, lebih maju dan lebih indah.

Dinamika selalu ada. Yang penting, Zul-Rohmi tidak tergoda. Apalagi terseret untuk melakukan sesuatu yang bisa merusak kepercayaan masyarakat. Soal ada yang tidak puas, itu biasa saja. Kepemimpinan daerah bukanlah ruang hampa. Kepentingan selalu ada. Yang paling penting, Zul-Rohmi cetak prestasi sebanyak-banyaknya. Pastikan semua masalah yang dihadapi masyarakat. Berikan solusi. ***