Zul-Rohmi, Terbang Tinggi dan Sayap Tak Patah

Catatan: Agus Talino

MEMBACA postingan Calon Gubernur NTB terpilih, Dr. H. Zulkieflimansyah yang akrab disapa Doktor Zul di media sosial,  saya optimis NTB akan maju. Doktor Zul tidak saja sudah datang dan menyapa masyarakat pada saat kampanye. Tetapi setelah ditetapkan sebagai calon gubernur terpilih, Doktor Zul seperti tidak kenal lelah,  terus keliling untuk bersilaturahmi dan bertemu dengan berbagai pihak. Terutama pihak-pihak potensial untuk bisa bersama-sama membangun NTB. Terakhir, saya membaca postingannya tentang pertemuannya dengan dunia usaha. Setelah sebelumnya bertemu dengan Pimpinan LIPI dan membicarakan tentang Science Techno Park (STP), Banyumulek,  Lombok Barat.

Saya senang membaca postingan Doktor Zul di media sosial. Postingannya mengundang banyak harapan. ‘’Mimpinya’’ tentang masa depan NTB tinggi. Contohnya, dia berharap STP, Banyumulek harus menjadi percontohan nasional. Pada postingan tersebut, Doktor Zul menggunakan kata harus. Pemahaman saya,  kata harus tersebut mengandung tekad dan semangat yang sangat kuat di dalamnya.

Salah satu postingannya yang menarik perhatian saya  adalah tentang pertemuannya dengan PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Pertemuan tersebut dihadiri juga oleh pihak terkait. Termasuk perwakilan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Bunyi tulisan Doktor Zul tentang pertemuan tersebut  adalah  mencari solusi agar wilayah kita menarik untuk investasi. Doktor Zul juga menyebutkan dalam tulisannya, kita harus sadar bahwa kita hadir untuk membantu, memfasilitasi agar industri hadir dengan nyaman di daerah kita.

Yang paling penting dicatat dan digarisbawahi dari pertemuan itu. Pada tulisannya yang paling ujung,  Doktor Zul menyebutkan, pada saat yang sama berusaha agar masyarakat kita jangan jadi korban dan tidak boleh jadi penonton di tanahnya sendiri.

***

Mencermati ikhtiar yang dilakukan Doktor Zul,  baik pada saat kampanye maupun setelah ditetapkan sebagai calon gubernur terpilih, Doktor Zul relatif memiliki modal yang cukup untuk membangun NTB. Paling tidak, Doktor Zul tidak saja memahami yang dibutuhkan masyarakat. Tetapi menyelami, bahkan mungkin merasakan getaran kehidupan masyarakat.  Karena selama kampanye, Doktor Zul menyusuri banyak desa, bertemu dan berdialog dengan masyarakat.

Boleh jadi, apa yang dilakukan setelah ditetapkan sebagai calon gubernur terpilih dengan mendatangi banyak pihak merupakan bagian dari ikhtiarnya untuk mencari jawaban atas semua kebutuhan masyarakat. Sebagai calon gubernur terpilih, saya meyakini Doktor Zul tidak asal menulis tentang masyarakat yang tidak boleh jadi korban dan jadi penonton di tanahnya sendiri.

Saya menangkap pernyataan tersebut merupakan ekspresi dari tekadnya untuk memperjuangkan kehidupan masyarakat, agar masyarakat mempunyai ruang yang besar dan longgar untuk  mencari rezeki dan menata kehidupannya yang lebih baik.

***

Selama ini bukan tidak ada investasi yang masuk ke NTB. Perusahaan besar, seperti perusahaan tambang sudah beroperasi cukup lama di NTB. Kontribusi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di NTB bukan tidak ada. Persoalannya, apa  ada masyarakat kita yang masih menjadi penonton di tanahnya sendiri? Jawabannya  masih ada. Buktinya, angka kemiskinan dan pengangguran kita masih cukup besar.

Karenanya perlu dicari cara agar kehadiran perusahaan- perusahaan di NTB, setidak-tidaknya bisa membantu menyelesaikan persoalan kemiskinan dan pengangguran di NTB. Termasuk mengurangi kesenjangan ekonomi dan meningkatkan indeks kebahagiaan.

“Mimpi” Doktor Zul tentang masa depan NTB tidak bisa hanya menjadi mimpinya sendiri. Dia harus menjadi mimpi bersama. Untuk mewujudkan mimpinya, Doktor Zul harus dibantu oleh orang-orang yang mimpinya sama dengannya. Atau setidak-tidaknya, memahami dengan benar mimpinya tentang masa depan NTB.

Menangkap mimpi Doktor Zul tentang masa depan NTB, Doktor Zul  harus memiliki semua syarat untuk bisa mewujudkan mimpinya. Doktor Zul dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, sebagai wakilnya harus mampu meyakinkan banyak orang soal mimpinya tentang masa depan NTB. Termasuk meyakinkan parlemen. Karena bagaimana pun dukungan parlemen bisa sangat menentukan.

***

Mundurnya Rohmi dari Partai Demokrat yang merupakan salah satu partai pengusung pasangan Dr. H. Zulkieflimansyah dan Hj.Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi)  tidak boleh  mengganggu, apalagi menjadi batu sandungan dalam mewujudkan mimpinya tentang masa depan NTB yang maju. Hal ini memerlukan kemampuan Zul-Rohmi untuk meyakinkan dan membangun kerjasama yang baik dengan parlemen. Termasuk membangun kerjasama dengan kabupaten/kota.

Parlemen dan kabupaten/kota bisa menjadi penentu keberhasilan Zul-Rohmi dalam mewujudkan mimpinya. Apa yang diungkapkan Doktor Zul yang saya baca di media sosial bukanlah pekerjaan yang ringan. Dia memerlukan kekuatan yang penuh untuk mewujudkannya. Saya melihat  Zul-Rohmi mengajak kita terbang tinggi. Bahkan sangat tinggi. Tetapi tidak mudah kita bisa terbang tinggi, jika sayap yang kita miliki tidak kuat  untuk terbang, apalagi patah. Karenanya untuk bisa terbang tinggi, kita harus pastikan sayap kita kuat dan tidak patah.

Kekuatan Zul-Rohmi ada pada mesin birokrasi, parlemen, kabupaten/kota  dan dukungan masyarakat. Kalau itu dianalogikan sebagai sayap, maka harus dipastikan semuanya siap dan mampu terbang. Namun dengan kekuatan kepemimpinan Zul-Rohmi diharapkan semua kekuatan bisa diyakinkan. Sehingga tidak ada satupun kekuatan yang menjadi penyumbat untuk memujudkan mimpinya  tentang masa depan NTB yang gemilang. Saya percaya Zul-Rohmi punya kemampuan untuk membangun kekuatan bersama. Apalagi tujuannya semata-mata untuk kemajuan daerah dan kebaikan masyarakat. Doktor Zul punya banyak pengalaman tentang hal tersebut. Salah satunya, pengalamannya membangun Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Kampus yang dikenal dengan “kampus elang” yang berada  cukup jauh dari Kota Sumbawa Besar tersebut sekarang mencatat banyak prestasi. Termasuk prestasi internasional. Padahal sebelumnya, tidak sedikit yang meragukan kampus itu bisa menjadi besar dan terkenal seperti sekarang. Mungkin karena kampus itu dibangun cukup jauh dari kota.

Boleh jadi keberhasilannya membangun UTS karena Doktor Zul meyakini,  tidak ada kesulitan yang tidak bisa ditaklukkan. Yang  penting kita mau berikhtiar dan berdoa. Saya pernah mendengar Doktor Zul mengatakan,  “where there’s a will there’s a way”.  Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Semoga kita selalu menemukan jalan untuk menjadikan NTB lebih maju.***