Zul-Rohmi dan Langkah Awal yang Menentukan

Catatan: Agus Talino

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) NTB telah menetapkan hasil Pilkada NTB, Selasa, 24 Juli 2018. Pasangan Dr. H. Zulkieflimansyah dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah resmi terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode  2018-2023. Rencananya, pasangan ini dilantik 17 September mendatang.

Pasangan yang dikenal dengan nama Zul-Rohmi ini berhasil mengungguli tiga pasangan lainnya. Kemenangan pasangan Zul-Rohmi cukup mengejutkan banyak orang. Karena tidak sedikit yang menilai bahwa  peluang kemenangan pasangan ini kecil. Apalagi kompetitornya, semuanya adalah tokoh-tokoh hebat yang kaya pengalaman politik dan menjadi kepala daerah di kabupaten/kota.

Perjuangan untuk memenangkan Pilkada  tidak ringan bagi pasangan Zul-Rohmi. Tantangannya boleh jadi yang paling berat dibandingkan calon yang lain. Tidak saja setelah resmi menjadi calon, tetapi proses untuk bisa menjadi pasangan calon dinamikanya juga cukup tinggi. Bahkan ada yang menyebutkan, kemungkinan Dr. H. Zulkieflimansyah yang akrab disapa Doktor Zul bisa berpasangan dengan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB sangat kecil.

Tetapi fakta politiknya, Doktor Zul tidak saja bisa menjadi calon gubernur dan berpasangan dengan Rohmi. Pasangan ini ditetapkan KPU NTB sebagai pemenang  pada Pilkada yang telah berlangsung, 27 Juni lalu.

                                                                             ***

Setelah penetapan oleh KPU NTB, maka kompetisi pada Pilkada telah selesai. Kita tinggal menunggu pelantikan Zul-Rohmi  menggantikan pasangan  TGH. M. Zainul Majdi dan H. Muh. Amin yang berakhir masa bhaktinya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB.

Kegembiraan dan kesedihan karena kemenangan dan kekalahan dalam kompetisi adalah normal dan biasa. Kegembiraan dan kesedihan tidak boleh berlarut-larut. Apalagi berlebihan memaknainya. Yang paling penting sekarang, bukan soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tetapi setelah pasangan Zul-Rohmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB mau ngapain? Tantangannya tidak ringan. Melampaui tantangan ketika Doktor Zul berjuang untuk menjadi calon gubernur dan ketika pasangan Zul-Rohmi berjuang memenangkan Pilkada.

Baca juga:  Jelang Satu Tahun Zul-Rohmi, Instalasi Radioterapi RSUD NTB Mulai Terima Pasien BPJS

Untuk bisa menjawab tantangan yang tidak ringan tersebut tidak bisa dilakukan sebatas dengan perasaan gembira karena telah memenangkan kompetisi. Apalagi dengan perasaan gembira yang berlebihan. Jawabannya bukan itu.

Karenanya,  semua pihak yang berada pada “barisan” Zul-Rohmi ketika berkompetisi pada Pilkada lalu, harus bisa memaknai kemenangan ini dengan rendah hati. Setelah Zul-Rohmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, maka Zul-Rohmi tidak lagi sebatas “milik” tim sukses. Tetapi mereka adalah “milik” masyarakat  NTB.

Dalam setiap kompetisi, pasti ada yang menang dan kalah. Yang tidak boleh ada itu adalah musuh. Apalagi orang yang dimusuhi karena berbeda pilihan.  Semua kita adalah bersaudara.  Yang perlu kita lakukan adalah kita bergerak bersama untuk membangun daerah ini. Karena tanggung jawab membangun daerah yang sama-sama kita miliki dan cintai ini adalah tanggung jawab bersama.

Pesan Wakil Presiden RI, H. Muhammad Jusuf Kalla (JK)  kepada Doktor Zul ketika berkunjung ke NTB beberapa waktu lalu seperti dilansir media,  agar Doktor Zul tetap dekat dengan rakyat. JK juga menitipkan NTB agar  tetap maju dan berkembang. Pesan itu maknanya sangat dalam.

                                                     ***

Kekuasaan itu menggoda dan orang bisa lupa diri. Bisa saja orang yang sebelum berkuasa itu dekat dengan rakyat. Tetapi setelah berkuasa jauh dengan rakyat. Semuanya  sangat tergantung pada daya tahannya untuk tidak tergoda yang membuatnya berjarak dengan rakyat.

Dan awal celaka itu,  ketika orang terjebak dan tergoda melakukan sesuatu yang dapat merusak kepercayaan dan menghancurkan harapan masyarakat. Zul-Rohmi memang harus bisa melakukan langkah-langkah yang besar agar NTB tetap maju dan berkembang seperti pesan JK kepadanya.

Salah satu yang penting dilakukan  adalah menjaga suasana psikologis masyarakat yang meletakkan harapan cukup tinggi pada pasangan ini. Karenanya langkah awal yang dilakukan pasangan Zul-Rohmi setelah dilantik nanti sangat menentukan. Keputusan yang diambil pada awal kepemimpinannya tidak boleh keliru. Termasuk dalam menata birokrasi. Sebab Zul-Rohmi boleh memiliki program yang luar biasa. Tetapi jika tidak didukung oleh mesin birokrasi yang andal, maka program-program yang sangat bermanfaat bagi kemajuan daerah bisa menjadi tidak mudah dilaksanakan.

Baca juga:  Jelang Satu Tahun Zul-Rohmi, Instalasi Radioterapi RSUD NTB Mulai Terima Pasien BPJS

“Gegap gempita”  tentang kemenangan harus segera ditutup. Gemuruh “tepuk tangan” harus disudahi. Suasana seperti itu tidak baik dipelihara terus-menerus. Tidak saja, bisa membuka ruang munculnya orang yang merasa dirinya paling berjasa dan mengganggu kebersamaan. Tetapi bisa  menjadi “kerikil” dalam mewujudkan cita-cita besar membangun NTB.

Membaca visi-misi pasangan Zul-Rohmi cukup menarik. Ada banyak harapan di sana. Kita harapkan  ada “lompatan” yang dilakukan pasangan ini untuk menyelesaikan banyak masalah yang masih ada.  Apa yang sudah dilakukan TGB –sapaan akrab TGH.M.Zainul Majdi—selama 10 tahun kepemimpinannya sebagai gubernur, baik ketika berpasangan dengan H. Badrul Munir maupun dengan H.Muh. Amin  cukup banyak. Termasuk dalam menurunkan angka kemiskinan.

Untuk itu, pasangan Zul-Rohmi harus benar-benar cermat, teliti dan tidak emosional dalam mengambil keputusan.  Menghimpun banyak energi untuk menjadi kekuatan bersama merupakan sesuatu yang penting dilakukan. Energi-energi yang mungkin masih berserakan harus bisa disatukan. Beda pilihan pada Pilkada tidak boleh menjadikan kita kehilangan akal sehat. Apalagi memposisikan semua orang yang beda pilihan bukan menjadi bagian kekuatan bersama untuk membangun daerah.

Zul-Rohmi harus bisa memastikan bahwa kekuatan yang dibangun adalah kekuatan yang mendatangkan optimisme bagi masa depan NTB.  Tidak sebaliknya menghadirkan pesimisme karena bangunan kekuatannya untuk membangun daerah tidak kokoh dan rapuh. Keliru langkah tidak saja bisa merugikan diri sendiri. Tetapi juga bisa merugikan masyarakat. Selamat datang Zul-Rohmi. Selamat datang pemimpin baru.***