Pertemuan IMF-WBG dan Kemampuan NTB Menangkap Peluang

Catatan: Agus Talino

MOMENTUM pertemuan tahunan IMF-World Bank Group (WBG)  di Bali, 8-14 Oktober 2018 menjadi peristiwa yang sangat penting.  Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah IMF-WBG Annual Meetings 2018, tidak saja menguntungkan Bali sebagai daerah tempat kegiatan berlangsung. Tetapi bisa sangat menguntungkan NTB, sebagai daerah yang sangat dekat dengan Bali. Apalagi jarak penerbangan Bali-Lombok hanya ditempuh dalam waktu 25-30 menit.

Pada Disseminasi IMF-WBG Annual Meetings 2018 kepada Regional Opinion Maker yang berlangsung di Jakarta selama dua hari, Rabu-Kamis (20-21/12) lalu, tergambarkan betapa pertemuan tersebut sangat membanggakan dan menguntungkan Indonesia.

Menurut Dr. Peter Jacobs, Head of Task Force Bank Indonesia IMF-WB Annual Meetings 2018, diperkirakan tamu yang hadir pada pertemuan tersebut lebih kurang 18.000 orang. Mereka adalah orang-orang penting dunia. Tidak saja Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral 189 negara. Tetapi juga akan hadir 22 Kepala Negara (setingkat Kepala Negara). Tidak terkecuali juga CEO-CEO Industri Keuangan, Lembaga Internasional, Observer dll.

Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah IMF-WBG Annual Meetings 2018 bukan melalui proses sederhana. Perjuangannya panjang, sejak tahun 2014.  Karena tidak sedikit negara yang juga ingin menjadi tuan rumah. Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah setelah mendapatkan suara mayoritas melalui voting oleh 189 negara, mengalahkan Mesir dan Senegal yang juga berkeinginan menjadi tuan rumah.

Diceritakan Peter Jacobs, pada saat proses pemilihan, Senegal sangat berharap menjadi tuan rumah IMF-WBG Annual Meetings 2018.  Alasannya, karena belum ada negara di kawasan Afrika yang pernah menjadi tuan rumah IMF-WBG Annual Meetings. Sedangkan Mesir, pernah terpilih sebagai tuan rumah pada 2012. Tetapi karena ketidakstabilan politik pada saat itu, kegiatan tersebut akhirnya dipindahkan ke Tokyo- Jepang.

Baca juga:  Saat Pelaku Usaha Kecil Tak Lagi Terjerat “Bank Rontok”

Terpilihnya Indonesia sabagai tuan rumah kata Peter Jacobs, menunjukkan tingginya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia di bidang keamanan, stabilitas politik dan keberhasilan di bidang ekonomi. Karenanya, menjadi tuan rumah IMF-WBG Annual Meetings 2018 merupakan momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan kemajuan ekonomi, leadership dan komitmen Indonesia dalam penanganan isu-isu global.

Terlepas dari semua itu. Yang menarik bagi NTB adalah peluang apa yang bisa ditangkap dari kegiatan penting dan sangat besar tersebut. Terutama karena NTB merupakan daerah yang sangat dekat dengan Bali sebagai tempat kegiatan berlangsung.  NTB masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk memikirkan dan merancang kegiatan untuk menjemput peluang dan kesempatan.

Yang paling sederhana, jumlah tamu yang diperkirakan sekitar 18.000 orang akan menghadiri acara IMF-WBG Annual Meetings di Bali tersebut, bukanlah jumlah yang sedikit. Boleh jadi Bali memerlukan dukungan dari daerah-daerah lain di Indonesia. Terutama daerah tetangga. Sehingga NTB bisa mengambil kesempatan dan peluang tersebut dengan baik.

Jika NTB serius ingin menangkap peluang dari IMF-WBG Annual Meetings 2018, tentu NTB tidak berpikir dan melakukan yang sederhana. Apalagi peserta pertemuan tersebut adalah pemegang otoritas di lembaganya masing-masing. Sehingga semua daerah bisa “jualan” dengan mereka. Tidak saja “jualan” pariwisata. Tetapi juga “jualan” yang lainnya. Termasuk menawarkan mereka untuk berinvestasi di daerah. Apalagi NTB sekarang sedang menjemput masa depannya yang lebih baik dengan program dan rencana besarnya membangun KEK Mandalika, Global Hub dan Samota.

Baca juga:  Saat Pelaku Usaha Kecil Tak Lagi Terjerat “Bank Rontok”

Kegiatan IMF-WBG Annual Meetings 2018 menurut Peter Jacobs, tidak menutup kemungkinan dimanfaatkan oleh negara tetangga seperti Singapura. Jarak Bali-Singapura itu tidak terlalu jauh. Apalagi tidak sedikit dari peserta datang dari negaranya masing-masing menggunakan private jet.

Karenanya, mungkin perlu dipikirkan dan dipertimbangkan agar NTB membuat event yang waktunya berdekatan dengan kegiatan IMF-WBG Meetings 2018 di Bali. Sehingga, setelah selesai mereka menghadiri kegiatan di Bali, mereka tidak terbang ke Singapura, tetapi ke NTB. Karena event di NTB lebih menarik dari Singapura.

“Untuk membuat kegiatan, daerah bisa berkoordinasi dengan kementerian terkait,” kata Peter Jacobs. Bahkan tambahnya, jika diperlukan panitia nasional bisa membantu daerah. Paling tidak,  untuk dikomunikasikan ketika daerah ingin mengambil peran dari kegiatan IMF-WBG Meetings 2018 tersebut.

Kesediaan panitia nasional untuk membantu dan menjembatani daerah yang ingin mengambil peran pada kegiatan IMF-WBG Meetings 2018 merupakan kesempatan dan peluang yang penting disambut dengan baik. Artinya, daerah. Tidak terkecuali NTB menjadi lebih terbuka peluang dan kesempatannya untuk bisa memanfaatkan kegiatan tersebut.

Sama dengan Peter Jacobs, Dr. Adi Budiarso, A.k.,M.Acc, Chief Organizational Transformation Officer yang juga menjadi pembicara pada  Disseminasi IMF-WBG Annual Meetings 2018 kepada Regional Opinion Maker tersebut mendorong daerah-daerah. Terutama daerah di sekitar Bali untuk memanfaatkan peluang yang ada dengan segera membangun komunikasi. Apalagi jika daerah yang bersangkutan memiliki peluang investasi. ***