Belajar Empati dari Tragedi Rohingya

Oleh : Mohammad “Aan” Azhar *

Biasanya, hari Sabtu sore saya pergunakan untuk bermain futsal. Meski permainan futsal saya sangat pas-pasan, futsal bagi saya sebuah “pelarian” yang sehat bagi jiwa yang sedang jenuh. Tapi akhir pekan ini saya memutuskan untuk tidak bermain futsal. Saya ingin menulis tentang Rohingya.

Sebagai sebuah isu, Rohingya adalah pemersatu sekaligus pemecah.

Di satu sisi, ia mempersatukan muslim yang merasa perlu membela sesama muslim lain yang sedang teraniaya. Dan muslim bukan satu-satunya yang berada di kubu ini. Ada pula kelompok lain yang peduli terhadap isu kemanusiaan.

Mereka di kubu #saverohingya ini merasa Rohingya adalah luka kemanusiaan yang menganga. Karenanya, ia harus diberi perban, dibebat agar lukanya tidak terus mengucurkan darah.

Singkatnya, mereka melihat ada yang teraniaya lalu ingin menyuarakan bantuan dengan berbagai cara dan kadar dukungan.

Di sisi lain, ada suara-suara dari kelompok muslim maupun kelompok lain yang merasa isu Rohingya sejatinya tidak perlu disikapi dengan sedemikian melankolis. Mereka, baik secara tersamar maupun terang-terangan, mencibir sikap orang yang membela pengungsi Rohingya.

Tentu kubu ini juga punya alasan. Alasan pertama adalah mereka ingin memisahkan tragedi Rohingya dari balutan isu atau sentimen agama. “Ini bukan sentimen agama, jadi berhentilah mengait-ngaitkan status mereka sebagai muslim dengan penderitaan yang mereka alami. Tidak ada kaitannya,” demikian kira-kira argumentasi kubu yang satu ini.

Argumentasi lain yang mencuat dari kubu ini adalah : mereka merasa para pembela Rohingnya memasang standar ganda. Peduli terhadap pembantaian Rohingya, tapi tidak peduli dengan genosida di Yaman misalnya. Mereka mencibir standar ganda ini.

Namun, standar ganda sesungguhnya adalah watak naluriah. Bersikap berbeda atas penderitaan yang sama adalah hal yang sangat alamiah dalam diri setiap manusia. Kita tidak bisa memaksa setiap individu untuk memberikan reaksi yang sama untuk tragedi yang sama.

Manusia tumbuh dan dibesarkan dengan identitas mereka. Dengan identitas itulah, mereka membangun kriteria khas dalam cara mereka mengekspresikan empati.

Misalnya, jika anda pendukung setia Real Madrid, anda akan terluka hati jika melihat Cristiano Ronaldo patah kakinya karena mendapatkan tekel yang brutal. Tapi, bagi pendukung Barcelona, dalam hati mereka mungkin akan bersorak gembira. Luka yang sama, tidak menimbulkan sikap batin yang sama.

Mari kita ambil contoh lain. Ketika Prabowo mengejek wartawan beberapa waktu lalu, empati yang datang untuk wartawan yang menerima ejekan itu kebanyakan berasal dari sesama wartawan juga. Empati, biasanya memang memiliki kaitan erat dengan identitas atau kumpulan yang mengikat kita.

Tania Singer, seorang profesor di Max Planck Society, pernah menjabarkan temuan ini setelah melakukan serangkaian riset mengenai empati. Tania membuktikan bahwa rasa empati akan mengaktifkan bagian tertentu dalam otak manusia yang peka terhadap rasa sakit. Namun, empati tidak lahir dengan sendirinya. Ia memiliki korelasi yang kuat dengan faktor sosial manusia.

Dalam risetnya, Tania Singer mengujicoba tingkat empati yang dirasakan sekelompok pendukung klub sepakbola. Para pendukung klub ini diminta menyaksikan kelompok lainnya mengalami rasa sakit akibat disetrum dengan arus listrik.

Hasilnya, reaksi otak mereka memperlihatkan kemunculan rasa empati yang lebih besar saat menyaksikan sesama pendukung klub mereka disengat arus listrik. Saat arus listrik dialirkan ke pendukung klub lain, tingkat empati yang mereka rasakan berkurang cukup signifikan.

Sebagai sebuah reaksi batiniah, empati memang seperti sungai dengan muara berbeda. Studi lanjut yang dilakukan Tania Singer merumuskan bagaimana empati juga bisa mengarah pada dua rute yang nyaris bertolak belakang.

Rute pertama, empati yang melahirkan ekspresi kasih sayang, seperti merawat orang terluka, memeluk orang yang sedang sedih, meringankan beban ekonomi orang miskin dan tindakan sejenis itu. Inilah muara empati yang ideal.

Rute kedua, adalah empati yang melahirkan kerusakan. Empati dalam pengertian ini, berarti merasakan rasa sakit orang lain yang kita anggap memiliki keterikatan atau kesamaan identitas dengan kita. Karena kita ikut didera rasa sakit itulah, empati bisa melahirkan penderitaan yang tak tertanggungkan. Terutama jika empati atas penderitaan orang lain itu terjadi secara konstan.

“Ketika saya merasakan empati atas penderitaan orang lain, saya merasakan rasa sakit yang mereka rasakan, saya juga ikut menderita. Situasi ini bisa berkembang menjadi sangat intens dan melahirkan luka traumatis bagi diri saya. Dan pada jangka panjang, ini bisa berakibat sangat buruk,” ujar Tania menganalogikan.

Jika empati atas penderitaan pengungsi Rohingya mengarus pada rute pertama, yang akan lahir adalah ekspresi kasih sayang, keinginan meringankan dan meredakan penderitaan mereka. Inilah reaksi yang seharusnya muncul dalam menyikapi tragedi Rohingya.

Namun, yang patut dikhawatirkan adalah jika situasi ini mengarah pada rute kedua. Empati yang timbul dari respon visual atas penderitaan pengungsi Rohingya, melahirkan rasa sakit secara massal.

Rute semacam ini sangat mungkin melahirkan sikap buruk. Misalnya dengan bereaksi secara brutal. Atau, dalam bentuk paling sederhana, rasa senang saat melihat penderitaan pihak lain yang dianggap bertanggung jawab atas rasa sakit ini.

Karenanya, mereka yang berempati terhadap pengungsi Rohingnya pun, bisa dibedakan dalam dua kubu. Kubu pertama adalah yang langsung bertindak mencari cara, atau setidaknya berpikir untuk meringankan penderitaan pengungsi Rohingya. Sementara, kubu kedua merencanakan aksi balas dendam.

Melihat berbagai rentetan kejadian beruntun sejak Pilkada DKI lalu, saya melihat fenomena yang semakin mempertegas arus kedua. Kelompok yang satu merasa teraniaya, lalu melakukan aksi balasan. Kelompok yang jadi sasaran aksi balasan juga merasa teraniaya, lalu kembali menyiapkan aksi balasan. Ini seperti lingkaran hantu blau yang tak kunjung usai.

Kehidupan sebenarnya adalah tragedi itu sendiri. Di dalamnya ada palung kedukaan. Tapi juga bisa kita temukan gunung dan lembah kebahagiaan. Saat orang lain teraniaya, setidaknya kita mengirim doa, menyebarkan kasih dan sayang, rahman dan rahim, agar terpantul dari hati yang satu ke hati lainnya.

Jika anda tidak bisa melakukannya karena masih ada setitik kebencian yang sulit anda hapuskan, setidaknya jangan anda suarakan di saat orang di puncak lara. Sebab, kita tidak tahu bahwa kebencian yang setitik itu mungkin saja membakar dan menghanguskan diri sendiri. (*)

* Wartawan di Suara NTB dan suarantb.com

Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi suarantb.com.