Belajar dari Kasus Raisa, John Terry, dan Kisah-kisah “Move On” Lainnya

Oleh : Mohammad “Aan” Azhar

Pilkada NTB 2018, akan menjadi momen move on bagi masyarakat NTB. Menghadapi Pilkada ini, kita bisa belajar dari sejumlah kasus anyar yang cukup relevan. Beberapa diantaranya adalah kisah nelangsa. Namun, ada pula kisah move on yang cukup gemilang dan bisa menjadi resep untuk dicontoh.

Kasus Raisa adalah salah satu kasus teranyar yang membuat banyak lelaki memasuki fase nelangsa. Dan ini sepertinya akan cukup berlarut. Saya perlu menyebut sebuah nama di sini : Hamish Daud.

Ya, mungkin saat ini, adalah hal yang cukup masuk akal jika Hamish Daud mempertimbangkan menyewa pengawal pribadi. Saya membaca beberapa komentar dan status warganet yang kesal dengan Hamish Daud. Dan beberapa komentar tersebut cukup menghawatirkan. Saya maklum, mengingat tidak sedikit lelaki yang terluka hatinya setelah ia resmi berstatus tunangan Raisa.

Dalam takaran yang berbeda-beda, beberapa teman saya termasuk di antara lelaki itu. Sebagian dari mereka, menaruh dendam dan sebagian lainnya mengungkapkan rasa iri kepada Hamish Daud. Tidak sedikit yang mengekspresikan reaksi dramatis : mendaulat hari pertunangan Raisa sebagai Hari Patah Hati Nasional.

Dalam hidupnya, setiap orang pasti akan menemukan situasi dimana ia harus move on atau melanjutkan hidup. Ada banyak cara seseorang melalui fase ini. Dan kisah Raisa ini bukan satu-satunya cerita tentang “melanjutkan hidup tanpa dia”.

Di Liga Inggris, ada banyak plot serupa yang bisa kita jumpai. Dan sebagai fans Chelsea, saya bersyukur salah satu plot ideal adalah kisah perpisahan Chelsea dengan John Terry.

Saya menganjurkan para lelaki yang menderita patah hati ditinggal Raisa untuk belajar dari cara Chelsea berpisah dengan John Terry. Chelsea memperlihatkan bahwa berpisah dengan idola, bisa dilakukan dengan cara yang nyaris sempurna.

Sebagai fans Chelsea, saya juga baru saja merasakan kehilangan yang mengharu-biru. Momen itu terjadi saat menyaksikan John Terry melambaikan tangan di hadapan ribuan pendukungnya usai laga pamungkas Chelsea di Liga Inggris musim ini, melawan Sunderland.

Berpisah dari sesuatu yang lama bersama kita adalah sesuatu yang sulit. Ada kekosongan yang tercipta. Raisa dan John Terry adalah hal-hal yang meninggalkan kekosongan seperti itu. Namun, Chelsea menyediakan gambaran yang cukup bisa ditiru untuk berpisah dengan seseorang yang demikian.

Setelah nyaris 20 tahun karir yang cemerlang di Chelsea, di musim terakhirnya, dalam pengertian teknis, John Terry sebenarnya sudah tidak lagi dirindukan. Ia lebih dirindukan secara kultural, yaitu sebagai sosok legenda.

Apa rahasia Chelsea? Tentu saja jawabannya cukup kompleks namun juga bisa disederhanakan. Ada beberapa variabel penting yang menjelaskan mengapa Chelsea cukup sukses melakukan transisi dari “dengan John Terry” menjadi “tanpa John Terry”.

Penampilan Chelsea yang cemerlang tanpa John Terry, pilihan strategi dan pendekatan persuasif Antonio Conte, kehadiran wajah-wajah baru di jantung pertahanan hingga faktor penampilan Terry sendiri. Semuanya ikut berkontribusi membentuk situasi ini.

Walhasil, selama timnya tampil cemerlang – yang terjadi nyaris sepanjang musim – fans Chelsea menjadi terbiasa menyaksikan tidak adanya sang pemilik nomor 26 di daftar starting line-up.

Sikap John Terry yang berlapang dada menerima situasi ini juga ikut berkontribusi. Dalam sebuah kesempatan, ia bahkan berharap dirinya tetap berada di bangku cadangan, karena itu artinya Chelsea tetap tampil bagus.

Bagi seorang idola seperti Terry, menyaksikan Chelsea yang dicintainya mencapai sukses tanpa dirinya, adalah pilihan yang sulit, namun ia jalani dengan lapang dada. Dan pengorbanan ini terbayar dengan harga yang cukup sepadan di akhir musim. Sebuah gelar Liga Inggris di hari perpisahan, plus kemungkinan untuk meraih gelar ganda jika menumbangkan Arsenal di Final Piala FA akhir pekan ini.

Ngomong-ngomong soal Arsenal, kita juga sebenarnya akan bicara tentang kisah melanjutkan hidup. Hanya saja, para fans The Gunners tampaknya harus menjalani plot yang sangat berbeda. Bahkan, plot Arsenal boleh dibilang cukup berdarah-darah.

Yang terjadi dengan Arsenal saat ini adalah sebuah ledakan. Tepatnya, ledakan keinginan untuk move on. Cukup lama pendukung Arsenal menahan rasa lelah dengan model kepelatihan yang dibangun Arsene Wenger selama ini. Rasa lelah itu terakumulasi dan meluap dalam bentuk spanduk bertuliskan “Wenger Out” dan tindakan sejenisnya.

Bagi fans semacam ini, Wenger adalah sosok masa lalu yang sudah saatnya masuk museum. Model kepemimpinannya tidak lagi sesuai dengan ekspektasi para fans gudang peluru.

Sebenarnya, sejak direkrut pada 1 Oktober 1996, Wenger tidaklah mengecewakan. Ia langsung memperlihatkan sentuhan ciamik dengan gelar juara di musim 1997/1998. Ia mengulanginya lagi di musim 2001/2002. Lalu, pada 2003/2004, Wenger bahkan mempersembahkan gelar Liga Inggris dengan catatan historis : tidak terkalahkan.

Tapi waktu berlalu dan kisah-kisah manis itu segera menjadi usang dalam memori kolektif para pendukung Arsenal. Sejak musim tanpa terkalahkan itu, Wenger tidak lagi pernah memberikan gelar utama – sesuatu yang selalu ditunggu pendukung Arsenal tiap musim.

Belasan tahun tidaklah sebentar. Dan ini membuktikan bahwa kesabaran para pendukung Arsenal terbuat dari material yang luar biasa lentur. Selama kurun waktu tersebut, mereka bertahan menjadi para lelaki dan wanita setia. Mereka menunggu, meski akhirnya selalu kecewa. Saya cukup yakin, jika dua pendukung Arsenal menikah, usia pernikahan mereka akan langgeng.

Tapi kesabaran dan kelenturan tetap saja ada batasnya dan kini waktu tampaknya sudah mengantarkan para pendukung Arsenal ke batas tersebut. Kita tidak tahu nasib Wenger beberapa waktu mendatang.

Oya, selain John Terry dan Arsene Wenger, Liga Inggris juga punya kisah Sir Alex Ferguson, sosok pelatih yang sangat kolosal. Saking kolosalnya, sejak ia pensiun melatih, Manchester United begitu kesulitan mencari penggantinya.

Tanpa Sir Alex, Manchester United terlihat seperti kapal terbang yang selalu gagal mendarat dengan mulus. Celakanya, Sir Alex sendiri memiliki peran  besar dalam situasi ini. Ia salah merekomendasikan penerus dan ini  berdampak serius.

Pilkada NTB

Kita bisa merenungkan berbagai varian kisah tersebut sebelum menarik perhatian ke Pilkada NTB 2018. Pilkada NTB 2018 akan melahirkan momentum “melanjutkan hidup” bagi NTB. Dalam konteks NTB, orang yang akan mengucapkan perpisahan adalah TGB, Gubernur yang selama dua periode memimpin daerah ini.

Selama kurun waktu tersebut, sosok TGB tentu sudah membekas di hidup banyak orang. Pahit dan manis kepemimpinannya, sudah pasti meninggalkan kesan. Ada yang cukup dalam, dan ada pula yang mudah lekang. Namun, seiring dengan pergantian ini, NTB akan memasuki fase pertaruhan yang baru.

Setelah TGB, hidup tentu harus berjalan terus. Tidak ada gunanya melarutkan diri dalam romansa yang nelangsa seperti banyak pria yang dikecewakan Raisa. Kisah Wenger mungkin tidak punya relevansi mengingat TGB besar kemungkinan akan mengakhiri kepemimpinan dengan normal, tanpa desakan untuk mundur.

Namun, yang perlu dipikirkan adalah apakah NTB akan bernasib seperti Manchester United ataukah akan mengikuti jejak Chelsea?

Menjalani rute yang dilalui Manchester United adalah mimpi buruk yang harus dihindari. Pendukung Manchester United yang paling setia pun tidak akan menghendaki timnya mengalami guncangan sedramatis saat ini.

Keterpurukan seperti ini juga buah dari kesalahan menentukan siapa yang memegang tongkat komando, setelah sosok kolosal berpengaruh semacam Sir Alex turun panggung. Selepas TGB, NTB tidak boleh bernasib seperti Manchester United yang untuk masuk zona Liga Champions pun harus begitu kepayahan. Dalam upaya mencari pemimpin baru ini pula, peran TGB akan sangat menentukan.

Kasus Sir Alex memberikan contoh yang cukup nyata bahwa sentuhan akhir sang panutan akan sangat menentukan. Kisah Sir Alex yang begitu cemerlang, harus terciderai oleh sentuhan terakhirnya yang merekomendasikan David Moyes sebagai The Choosen One. Moyes ternyata tidak bisa tumbuh menjadi lebih dari seorang Moyes.

Maka, untuk urusan melanjutkan hidup, belajarlah dari Chelsea. Chelsea menyediakan formula yang cukup baik untuk kasus semacam ini. Formula itu sudah diperlihatkan dengan cukup gamblang dalam kasus perpisahan Terry dan Chelsea. NTB tinggal mencontohnya.

Keping terpenting sekaligus tersulit dari proses move on, adalah mencari seseorang yang lebih baik dari orang yang meninggalkan kita. Bagi NTB, mencari penerus TGB tentu akan menjadi pertaruhannya. Saat sang penerus telah ditemukan, faktor dukungan terhadapnya juga akan menentukan. Termasuk dukungan dari TGB sendiri selaku aktor utama yang akan memainkan peran besar dalam transisi kekuasaan ini.

Jika itu bisa dilakukan, rasa kehilangan TGB – secara teknis – bisa dihindari. Kalaupun ada, biarlah rasa kehilangan itu sebatas pada aspek kulturalnya. Aspek dimana masyarakat NTB tetap bisa menemukan TGB yang lain, yang tidak sedang berstatus Gubernur. (*)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.