TGB dan “Kecemasan” Pada Pemimpin Baru

Advertisement

Oleh: Agus Talino

MUNGKIN saja ini berlebihan. Tetapi saya, sungguh mengalami “kecemasan” tentang pengganti Dr. TGH. M. Zainul Majdi –akrab disapa TGB—sebagai Gubernur NTB mendatang–. Kalau saya boleh menyebut kita–, kita sudah sangat terbiasa dipimpin oleh gubernur yang relatif lengkap pengetahuannya sebagai pemimpin. Sebagai ulama, TGB cerdas. Sebagai umara, TGB juga cerdas. Berbicara tentang agama, TGB mempunyai kemampuan menjelaskan pikiran-pikirannya dengan manarik. Berbicara sebagai gubernur, juga tidak kalah menariknya. Wawasannya sangat luas. Banyak hal baru yang terlontar. Memotivasi dan menginspirasi.

Saya tidak bermaksud memuji TGB. Saya ingin berbicara apa adanya. Dalam bayangan saya, ketika TGB tidak lagi menjabat sebagai gubernur. Apakah NTB tidak merasa kehilangan? Termasuk kehilangan kebanggaan mempunyai gubernur dengan segala kelebihan yang dimilikinya? Tetapi hal itu pasti terjadi.  Masa kepemimpinan TGB pasti berakhir pada saatnya. Karena TGB sudah menjabat sebagai Gubernur NTB dua periode.

Harapan menemukan pemimpin baru yang hebat setelah berakhirnya masa kepemimpinan TGB sebagai gubernur bukan tidak ada. Saya tetap optimis. Tetapi mungkin tidak mudah. Dari sisi kapasitas dan ketokohan,  TGB terlalu kuat. Sehingga mencari figur dengan kapasitas dan ketokohan yang sama seperti TGB tidak sederhana. Padahal ke depan, NTB membutuhkan pemimpin yang lebih hebat dan lebih tangguh dari TGB. Tantangan masa depan NTB,  boleh jadi lebih kompleks dari sekarang. Pilihannya, gubernur mendatang tidak saja mampu memimpin pemerintahan. Tetapi harus mampu memotivasi dan menginspirasi masyarakat agar siap beradaptasi pada perubahan masa depan.

Wajah masa depan kita setelah TGB tidak lagi menjabat sebagai Gubernur NTB mungkin tidak lagi seperti sekarang. Sama seperti ketika TGB belum menjabat sebagai Gubernur NTB, pariwisata belum berkembang seperti sekarang. NTB belum mempunyai bandara internasional. NTB juga belum mempunyai Islamic Center. Perubahan memang pasti akan terjadi. Cara berpikir kita pun harus berubah untuk menyesuaikan diri dengan perubahan agar kita tidak ketinggalan “kereta”. Mendorong dan memotivasi masyarakat untuk hijrah dari sisi pemikiran agar bisa menjawab tantangan masa depannya tidak gampang. Kita membutuhkan pemimpin yang mempunyai visi masa depan yang kuat. Karena perannya dalam mengawal dan menjaga masyarakat sangat menentukan.

TGB dengan latar belakang keluarga, pendidikan dan pengalaman yang luas telah memberi sesuatu yang sangat penting bagi NTB. Sehingga menjadi lumrah ketika ada yang mendorongnya sebagai pemimpin nasional. Dorongan itu tidak saja datang dari NTB. Tetapi juga muncul dari daerah-daerah yang lain. Termasuk dari Yogyakarta ketika TGB beberapa waktu lalu,  berkunjung ke kota yang mempunyai sejarah penting dalam perjalanan Indonesia itu.

Dalam soal membangun kesadaran masyarakat, TGB mempunyai kecakapan. TGB memiliki kemampuan dengan banyak model pendekatan. Tidak terkecuali melalui pendekatan agama. Ilmu yang dimilikinya relatif lengkap. Sehingga tidak terlalu sulit memengaruhi masyarakat untuk berubah agar masyarakat bisa menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan kemajuan. Undangan dari berbagai tempat kepada TGB untuk menjadi pembicara pada forum-forum besar menjelaskan tentang kapasitas dan keilmuannya.

Saya bukan tidak percaya dengan kemampuan nama-nama yang beredar akan bertarung pada Pilgub NTB, 2018 mendatang. Saya sangat percaya. Karena nama-nama yang beredar tersebut adalah tokoh-tokoh  yang mempunyai pengalaman. Tetapi persoalannya, tantangan masa depan NTB sangat tidak mudah. Sehingga memang,  siapa pun tokoh yang akan ikut ambil bagian pada Pilgub NTB mendatang harus memahami benar soal perubahan dunia yang sangat cepat. Memahami benar tren perubahan yang terjadi di NTB. Tidak boleh pemimpin yang sedikit baca. Apalagi kurang gaul dan jaringannya terbatas.

Artinya, pemimpin yang dibutuhkan NTB nanti adalah pemimpin yang tidak sebatas mengelola daerah dengan cara-cara biasa dan rutin. Tetapi pemimpin yang memiliki visi besar untuk menghimpun potensi dan  kekuatan yang dimiliki NTB. Sehingga NTB tidak saja maju. Tetapi masyarakatnya saling mendukung dan saling menguatkan dalam membangun daerahnya. Karena pemimpinnya selalu “hadir” pada semua persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Bahkan NTB bisa menjadi contoh dan model dalam membangun dan merawat kebersamaan. Sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia sekarang.

TGB saja sebagai gubernur dengan kapasitas seperti yang saya tulis pada awal tulisan ini, selain banyak kemajuan yang diraih NTB. Masih banyak catatan pembangunan yang perlu dilanjutkan dan diperbaiki. Kita tidak bisa mengabaikan, bahwa pengaruh pemimpin dalam menggerakkan masyarakat sangat menentukan. Masyarakat bergerak, bersemangat, bergairah dan berpartisipasi dalam pembangunan karena pemimpinnya. Kepercayaan dan kebanggaan terhadap pemimpin merupakan energi besar untuk mendorong masyarakat dan daerah untuk maju.

Menanti “kelahiran” gubernur yang menggantikan TGB, memang tidak boleh hanya sebatas dengan “kecemasan”. Karena itulah saya mencoba menulis. Yang boleh jadi juga, “kecemasan” saya bagi orang lain tidak beralasan. Sebab semua tokoh yang akan bertarung pada Pilgub NTB mendatang mempunyai kelebihannya masing-masing. Artinya, siapa pun yang akan terpilih nanti sebagai Gubernur NTB menggantikan TGB, Insya Allah mempunyai kemampuan untuk memajukan daerah yang kita cintai ini.

Meski pun “kelahiran” pemimpin baru yang menggantikannya sebagai Gubernur NTB tidak bisa ditentukan TGB. Tetapi menurut saya, pengaruh TGB masih sangat kuat. Pengalamannya sebagai gubernur dua periode,  saya kira TGB memahami benar potensi dan tantangan masa depan yang dihadapi NTB. Sehingga, tentu memahami juga tokoh yang cocok menggantikannya sebagai gubernur. Karenanya menjadi penting, kira-kira siapa tokoh yang didorong TGB untuk menggantikannya.

Kita memang tidak boleh “salah hitung” dalam menentukan pilihan. Termasuk menentukan pilihan  di tiga kabupaten/kota, masing-masing Kabupaten Lombok Timur, Lombok Barat dan Kota Bima yang juga akan melaksanakan Pilkada . Tujuannya, bukan sebatas untuk menang. Tetapi untuk masa depan NTB. Untuk itu, marilah kita berikhtiar dan berdoa, semoga gubernur yang terpilih menggantikan TGB nanti, adalah gubernur yang mencintai dan dicintai masyarakatnya. Gubernur yang cocok dengan kebutuhan masa depan NTB. ***

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.