Menjejak Laut Hitam, Selat Bosporus hingga Museum Peninggalan Rasulullah

Istanbul (Suara NTB) – Suasana masih gelap ketika Turkish Airlines  dengan nomor penerbangan THY57 mendarat mulus di Bandara Internasional Ataturk di Istanbul, tepat pukul 04.27 waktu di Turki. Temperatur suhu di bawah 18 derajat celcius. Rombongan wartawan dari Indonesia akhirnya menginjakkan kaki di negeri besutan Recep Tayyib Erdogan itu.

Itulah perjalanan saya mewakili Harian Umum Suara NTB dan 17 perwakilan media dari Indonesia yang diundang khusus oleh Karpowership bertandang ke Istanbul.

Kami keluar dari bandara Ataturk pukul 05.25 waktu setempat. Udaranya begitu sejuk, udara khas Eropa. Maklum saja, Turki adalah negara dua benua, Eropa dan Asia.

Ini penerbangan berdurasi panjang, setelah kami meninggalkan  Bandara Soekarno-Hatta Pukul 20:30 WITA, Jakarta. Butuh waktu 12,5 jam mengapung di udara.

Wartawan Suara NTB di taman kompleks Ayasofya

Kami mulai mencicipi negeri yang sarat sejarah peradaban Islamnya ini. Sepanjang perjalanan, tak sedikitpun pandangan mata saya lewatkan. Gedung-gedung di Instanbul, infrastruktur dan taman-taman yang cantik, rumah-rumah terpasang bendera negara yang menggambarkan betapa orang Turki memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.

Selama masa berkunjung, kami tinggal di hotel The Ritz Carlton, kawasan Harbiye, Asker Ocagi Caddesi Istanbul. Trip Karpowership ini dimulai sejak 27 September hingga 3 Oktober 2016.

Di negeri yang pernah gagal dikudeta pada 15 Juli 2016 lalu ini, kami sengaja diundang untuk melihat langsung dan menggali secara utuh tentang perusahaan penyuplai listrik di berbagai negara di belahan dunia ini, diantaranya Ghana, Zambia, Irak, Lebanon dan saat ini Indonesia, setelah pemerintah RI melalui PLN menandatangani kerjasama dengan Keluarga Karadenis untuk menyudahi krisis listrik di Indonesia, termasuk NTB salah satunya. Selama trip, kami tetap didampingi langsung oleh Direktur Karpowership untuk Asia, Ufuk Berk dan perwakilan Karpowership di Indonesia lainnya.

Di awal kegiatan, kami berkunjung ke markas besar Karpowership di Merkez Mahalessi, Develi Sok. No 1434406, Kagithane Istanbul. Disini kami berdiskusi cukup lama dengan sang pemilik atau CEO-nya Karpowership, Orhan Remzi Karadeniz.

bersama perwakilan media lainnya dan manajemen Karpowership di Galangan Kapal di Laut Marmara

Karpowership  adalah  perusahaan  pertama  di  dunia  yang  mengembangkan, memiliki  dan  mengoperasikan  armada  Powership™ (kapal pembangkit listrik apung). Perusahaan ini mulai berinvestasi pada bidang energi  di  Turki  dan  merupakan  eksportir  listrik  swasta  pertama  Turki  yang  telah memasok lebih dari 27 miliar kWh listrik di seluruh dunia sejak 2003. Kapal pembangkit listrik adalah solusi  jangka menengah dengan biaya rendah yang dapat dioperasikan dengan Heavy Fuel Oil dan gas alam.

Kunjungan dilanjutkan ke dua galangan kapal. Yakni galangan Sipyard di Tuzla, tepatnya dipiggiran pantai laut Marmara, bersebelahan dengan Laut Hitam. Lalu ke galangan kapal HAT-SAN di Yalova, setelah melintasi jembatan Bosporus. Maklum, Yalova ada di bagian Istanbul yang masuk Benua Asia.

Disini kami melihat langsung bagaimana kapal pembangkit listrik apung ini dirakit. Satu kapal yang akan ditempatkan di Medan, menghasilkan daya mampu sampai 470 Megawatt sedang dikerjakan. Kapal tersebut panjangnya 300 meter, lebar 46 meter dan ketinggian kapal hingga corongnya 65 meter. Butuh waktu setahun untuk merampungkannya, kata tim teknisnya.

Lalu  kapal yang dinamai Gokhan Bey, sesuai rencana akan dikirim untuk Lombok, panjangnya 120 meter dengan tinggi 18 meter. Kapasitasnya menghasilkan 112 Megawatt (MW). Rencananya akan masuk ke perairan di area PLTU Jeranjang pada November 2016. Pelayaran kapal dari galangan hingga ke Lombok, tak kurang dari 40 hari. Perusahaan mengunakan bodi kapal bekas yang kemudian dipasangi mesin pembangkit listrik di dalamnya. Komponennya menggunakan produk dalam negeri dan di datangkan dari luar negeri.

Pasca kunjungan inti inilah, rombongan disediakan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat wisata dan tempat bersejarah di ibukota negeri itu.

Sebelumnya, kami berkesempatan melaksanakan sholat Jumat di masjid tak jauh dari Istana Dolmabahce. Istana yang dalam sejarahnya sebagai istana paling mewah milik Otoman (Turki Usmani), dibangun pada abad ke -18.

Istana Otoman biasanya digunakaan saat pelaksanaan kegiatan-kegiatan besar negara. Dijadikan tempat penyambutan bagi kepala negara yang melakukan kunjungan ke Turki. Namun tetap dibuka untuk wisatawan.

Taman-taman indah di Istanbul

City tour bertepatan dengan akhir pekan yang indah di Istanbul. Kota tergemuk di Turki dengan populasi 14 juta jiwa seolah bergerak lebih lamban dari biasanya. Arus lalu lintas padat lancar. Banyak senyum dan tawa di mana-mana meski Istanbul masih siaga satu, dua bulan pasca percobaan kudeta yang gagal.

Dipandu guide senior, Burak, rombongan satu bus kami melaju melewati depan Istana Dolmabahce yang tak seberapa jauh dari Stadion Besiktas JK, satu di antara klub sepakbola papan atas Liga Turki.

Menyusuri kawasan Pasha House, Ciragan Palace dan Albanian Villages yang semuanya terletak di bibir Selat Bosporus yang elok.  Mata sungguh dimanjakan oleh pedestrian (jalan khusus) area yang nyaman di pinggir pantai pagi hari. Terlihat aktivitas berakhir pekan dengan jogging dan bersenang-senang sambil membawa hewan piaraan, anjing dan kucing.

Dan, tak kalah memikat hadirnya kerumuman orang yang sedang memancing. Anak- anak, remaja, orang tua, pria dan wanita. Kebtulan Tukri sedang memasuki musim gugur. Selat Bosporus sungguh menghadirkan oase bagi warga Kota Istanbul dan pelancong.

Jembatan dan Selat Bosporus menyajikan panorama masjid di kompleks Istanda Dolmabahce

Kami ikut menikmati selat Bosporus dengan kapal wisata yang sengaja dipersiapkan untuk menikmati panorama Istanbul.
Bosporus adalah selat yang menghubungkan dua benua, Asia dan Eropa. Selat penghubung Laut Marmara dengan Laut Hitam. Kedalaman selat sepanjang 30 km itu bervariasi antara 36 sampai 124 meter. Menurut data wikipedia, lebar maksimum Selat Bosporus 3.700 meter di sisi utara dan minimum 750 meter antara Anadoluhisari dan Rumelihisari.

Pemerintah Turki sudah membangun tiga jembatan melintasi selat tersebut yang mereka beri nama jembatan Bosporus I, Bosporus II dan III. Sejak tahun 1970-an Jembatan Bosporus menjadi ikon Kota Istanbul.

Jembatan Bosporus I sepanjang 1.074 meter, rampung dibangun pada 30 Oktober 1973. Pada tahun 1988 pemerintah Turki menyelesaikan pembangunan Jembatan Bosporus II sepanjang 1.090 meter. Warga Istanbul kerap menyebut jembatan kedua ini dengan nama Jembatan Fatih Sultan Mehmet.

Turki juga membangun Jembatan Bosporus Ketiga yang juga dikenal sebagai Jembatan Yavuz Sultan Selim. Pada malam hari ketiga jembatan itu diterangi lampu warna-warni yang indah. Konon pencahayaan jembatan menggunakan sistem komputerisasi sehingga warna ditampilkan sesuai kebutuhan dan momentumnya.

Menyusuri Selat Bosporus tidak sekadar menikmati kota Istanbul yang dulu bernama Konstantinopel dari sisi berbeda. Dari selat itu justru kami bisa melihat banyak bangunan berarsitektur Eropa, Asia dan Mediterinia yang masih terawat baik. Bangunan-bangunan bersejarah itu merupakan warisan kejayaan masa lalu sejak masa Bizantium, Romawi, Kekhalifahan Usmani hingga era Republik Turki modern di bawah kepemimpinan sang pendiri Mustafa Kemal Ataturk (1881-1938).

Kunjungan kami berakhir ke Istana tertua, Ayasofya. Usianya telah mencapai 1.500 tahun. Bangunan ini dibangun dalam satu kompleks yang cukup luas. Di dalamnya ada masjid biru (blue mosque) yang sangat terkenal di Turki, bahkan di seantero dunia.

Ayasofya biasanya menjadi tujuan utama wisatawan dari berbagai asal. Saya dapat menggambarkan tempat ini sangat-sangat indah. Bangunan-bangunan tuanya serasa membawa kita kembali pada masa kejayaan Islam. Tak habis fikir, sebegitu canggihkah orang-orang dulu yang membuat hasil karya arsitektur yang tak kalah dengan karya zaman modern.

Dinding berukir, lantai-lantai granit, pintu-pintu gerbang yang besar dan kokoh, tiang-tiang bundar berukuran besar yang nyaris sempurna. Tentu kubah-kubah besarnya yang dominan berwarna keemasan dan berukir kaligrafi.

Museum Topkapi dimana barang-barang peninggalan pedaban Islam disimpan

Tidak mudah memasuki komplek ini, penjagaannya berlapis dan harus terdeteksi. Wisatawan harus steril dari seluruh barang bawaan yang bersifat membahayakan. Sembari sesekali kami berdecak kagum, semua sisi kami lewati, hingga menuju museum Topkapi, bangunan tempat disemayamkannya benda-benda peninggalan zaman kenabian hingga peninggalan Rasulullah SAW dan para sahabat pada zamannya.

Masuk di museum Topkapi diatur lebih kekat, wisatwan tak diperkenankan sama sekali mengambil gambar, dalam bentuk apapun dan oleh alat perekam apapun, CCTV terpasang di setiap sudut. Sistem pengamanan seperti ini untuk menjaga kesakralan barang-barang yang tersimpan di dalamnya. Mungkin juga sebagai strategi pemerintah Turki untuk membuat penasaran umat Islam di dunia dan datang menyaksikannya.

Antrean mengular saat masuk, terlihat satu persatu peninggalan sejarah kuno itu, wisatawan nampaknya datang dari berbagai penjuru negeri.

Beragam peninggalan di Topkapi inilah pedang Nabi Daud di semayamkan, tongkat Nabi Musa pembelah Laut Merah saat dikejar bala tentara Firaun. Tongkat ini tidak seperti yang kita bayangkan, ia persis seperti ranting kayu, berdiameter sekitar satu jempol besar orang dewasa, panjang tak lebih dari dua meter. warnanya orange kecokelatan.

Ada juga surban Nabi Yusuf, lapis tangan Nabi Yahya dari pelat logam kuning, bekas telapak kaki Rasulullah, stempel besar pada masa Otoman, talang air Ka`bah yang dikaligrafi, lapis pertama Hajar Aswad, daun pintu Ka`bah terbuat dari kayu yang terlihat seperti besi.

Ada juga kunci Ka`bah, pedang para sahabat, Zubair, Khalid Bin Walid, Ja`far, tempat mantel Rasulullah yang terbuat dari logam, pedang Rasulullah berlapis emas, pedang Ali Bin Abi Thalib dan Utsman Bin Affan, Qur`an kuno abad ke 16, jubah istri Rasulullah, jubah cucu Rasulullah, pedang Fatimah, cawan Rasulullah yang terbuat dari batok dilapisi perak (sangat sederhana), dan paling istimewa adalah tiga helai janggut Rasulullah masing-masing tak lebih sepanjang telunjuk yang masih sangat terawat.

Wartawan Suara NTB di depan Stadiun Besiktas

Alunan bacaan Al-Qur`an terus menerus dikumandangkan, seolah menambah sakralnya tempat itu. Semua peninggalan sejarah perdaban Islam itu disimpan dalam kotak kaca.

Pedang-pedang berukuran biasa dan berukuran besar itu masih sangat terjaga. Pedang yang sering digunakan berperang oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Konon benda-benda bersejarah itu terkumpul di museum Topkapi karena pada masanya Turki sangat berpengaruh. Sehingga apa saja yang berkaitan sejarah peradaban Islam disatukan disana. (bul)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.