Kilas Balik Gempa Bumi Tahun 2016 Di Bumi Gora

oleh : I Gusti Ketut Satria Bunaga, S.Tr

BMKG, Stasiun Geofisika Mataram

Hari Jumat pagi (30/12/2016) kita dikejutkan oleh gempa bumi signifikan yang terjadi di barat laut Pulau Sumba. Gempa yang sempat menyebabkan kepanikan sebagian besar warga NTB (Nusa Tenggara Barat) dan sekitarnya menyiratkan sebuah pesan bahwa wilayah kita tak henti-hentinya dilanda oleh fenomena ini. Hal tersebut sepertinya telah membudidaya karena sejak tahun 1815 – 2013, wilayah NTB telah mengalami 11 gempa bumi merusak dan 3 kejadian tsunami. Berdasarkan riwayat tersebut maka jangan heran jika wilayah NTB merupakan kawasan rawan bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami.

Tiap harinya, rata-rata dua sampai tiga event gempa bumi terjadi. Aktivitas tektonik yang bersifat berkelanjutan ini (kontinu) mengambil andil sebagai pemicu utama mengapa gempa bumi bisa terjadi setiap harinya. Fenomena ini pun diyakini akan terus terjadi seiring sistem dinamika dalam bumi terus berjalan.

Pemicu tersebut diaktivasi oleh zona subduksi yaitu interaksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia dari arah selatan serta Sesar Naik Belakang Busur Flores (Flores Back Arc Thrust) dari arah utara. Zona-zona inilah yang silih berganti menampakkan eksistensi nya dengan frekuensi kejadian dan kekuatan yang bervariasi.

Sepanjang tahun 2016, telah terjadi gempa bumi sebanyak 819 event berdasarkan hasil analisis BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Sebagian besar gempa bumi tersebut didominasi oleh gempa bumi dangkal dengan kekuatan M < 5 SR serta 9 gempa bumi terasa dan 5 gempa bumi merusak.

Dari kelima gempa bumi merusak yang terjadi, dua gempa menimbulkan kerusakan yang cukup parah. Salah satunya adalah Gempa Dompu 1 Agustus 2016. Gempa bumi berkekuatan M = 5.7 SR menimbulkan getaran yang cukup dirasakan di wilayah Sumbawa, Mataram, dan Denpasar. Terdapat 133 kerusakan bangunan yang cukup signifikan, khususnya di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Gempa bumi merusak berikutnya terjadi di Lombok Utara pada 31 Maret 2016. Kerusakan yang ditimbulkannya meliputi 1 puskesmas, 1 masjid, dan 2 rumah warga.

Baca juga:  BNPB Tagih Laporan Pertanggungjawaban Dana Rehab Rekon

Berdasarkan hasil kajian BMKG bahwa kejadian merusak tersebut diakibatkan oleh sumber gempa bumi yang sama, yaitu Sesar Naik Belakang Busur Flores. Memang sesar ini terkenal  “galak”. Dengan kata lain, jarang terjadi namun sekalinya terjadi kerap menimbulkan guncangan maupun kerusakan. Hal ini dikarenakan patahan tersebut bersifat dangkal dan episenternya terletak dekat dengan deretan pulau-pulau di NTB. Berbeda halnya aktivitas gempa bumi akibat zona subduksi yang frekuensi kejadiannya tinggi namun membutuhkan kekuatan yang cukup kuat untuk menimbulkan dampak yang signifikan di darat. Namun secara keseluruhan, kedua zona tersebut sama-sama memiliki peluang menyebabkan bencana.

Efek Sekunder

Beberapa kejadian gempa bumi yang “aneh” terjadi dimana wilayah yang jauh dari sumber gempa mengalami guncangan bahkan kerusakan bangunan, sebagai contoh Gempa Sumba Barat 12 Februari 2016. Gempa yang terletak jauh dari Pulau Lombok ini (9.79 LS dan 119.37 BT) dirasakan sampai kota Mataram II SIG (Skala Intensitas Gempa Bumi) dan bahkan menyebabkan kerusakan ringan 3 rumah warga di kawasan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Terkait informasi diatas, jarak suatu gempa tidak serta merta menjadi acuan mutlak didalam penentuan tingkat kerusakan suatu daerah. Namun beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti kondisi bangunan dan kondisi tanah setempat (local site). Sering kedua faktor ini menjadi “biang kerok” timbulnya kerusakan dan korban jiwa.

Berdasarkan Peta Geologi NTB, Kota Mataram didominasi oleh tanah yang bersifat lunak dan tersusun dari aluvium. Implikasinya adalah gelombang gempa bumi yang melewati medium tersebut akan diperkuat atau teramplifikasi sehingga getaran yang dirasakan cukup kuat. Berbeda dengan daerah lainnya yang sebagian orang merasakan bahkan tidak merasakan getaran sama sekali karena kondisi tanahnya yang bersifat keras. Sedangkan kerusakan yang terjadi di wilayah Sekotong diduga kuat akibat mutu bangunan seperti lemahnya pondasi dan kurangnya pemasangan kolom bangunan.

Manajemen Bencana

Baca juga:  Aktivitas Kegempaan Mengecil, Warga NTB Diimbau Tetap Waspada

Setelah gempa bumi merusak pada tahun 2013, seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Bagaimana tidak, gempa tersebut telah menyebabkan 5.286 rumah rusak dan 30 orang luka-luka. Selain itu, wilayah kita juga memiliki riwayat kejadian tsunami pada tahun 1815, 1838, dan 1977 . Fakta tersebut sudah sangat cukup bagi kita untuk segera bertindak, baik dari segi struktural sampai kultural.

Adapun kemajuan telah ditunjukkan dari segi monitoring gempa bumi yang makin akurat dan cepat sebagaimana sensor pencatat gempa di Indonesia kian banyak. Selain itu, sistem peringatan dini tsunami atau Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS) memungkinkan pemerintah memberikan informasi dini terkait kejadian tsunami di daerah terdampak dalam waktu lima menit setelah gempa terjadi.

Namun yang paling krusial adalah hilir dari semua ini atau masyarakat. Sebenarnya kitalah pemegang kunci utama apakah sistem yang dibangun pemerintah ini akan berhasil atau tidak. Hal ini dikarenakan yang berhadapan langsung dengan ancaman tersebut adalah kita. Kesadaran tinggal ditengah-tengah wilayah potensi gempa bumi dan tsunami perlu ditanam sejak dini agar menjadi suatu budaya tanggap bencana.

Tak perlu menunggu kejadian dahsyat untuk berbenah diri. Bukan bagaimana untuk menghindari ancaman tersebut melainkan bagaimana kita siap menghadapinya sehingga kita mampu meminimalisir dampak akibat gempa bumi dan tsunami. Apalagi pembangunan infrastruktur di NTB kian berkembang pesat, menjadikan kondisi ini agar lebih diperhatikan terkait potensi gempa bumi dan tsunami yang setiap saat bisa terjadi.

Adapun solusinya adalah memastikan kemampuan mitigasi bencana secara mandiri dan mutu bangunan yang terstandarisasi sudah terealisasi dengan baik. Bijak terhadap pemberitaan terkait informasi gempa bumi dan tsunami agar dapat mengetahui apakah informasi ini valid atau palsu (hoax). Disarankan masyarakat agar lebih memilih untuk melihat informasi tersebut di website resmi (http://www.bmkg.go.id/) maupun sosial media resmi BMKG sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran maupun kepanikan akibat beredarnya isu-isu palsu. (*)