“suarantb.com” dan Para “Pengantarnya”

Satu media baru telah lahir. Tepatnya lahir kembali. Namanya, suarantb.com.

suarantb.com format baru ini resmi diluncurkan pada Jumat, 8 Juli 2016. Format peluncurannya sangat sederhana. Dihadiri para pimpinan dan karyawan Kelompok Media Bali Post (KMB). Seremoni kecil ini dihelat di ruang redaksi kami yang selama ini telah menjadi “rumah” bagi para awaknya.

pakai 2

Pemimpin Umum suarantb.com, H. Agus Talino, yang juga merupakan Penanggung Jawab Harian Suara NTB dan Direktur Radio Global FM Lombok, membuka perayaan kecil ini dengan pidato singkat sekaligus memperkenalkan Pimpinan Redaksi suarantb.com, Desak Raka Akriyani beserta para awak suarantb.com lainnya. Meski cukup serius, namun suasananya cair. Beberapa kali kami dibuat tersenyum dan tertawa kecil.

Selanjutnya, Pak Agus Talino yang juga bertindak selaku master of ceremony, mendaulat tiga loper setia Kelompok Media Bali Post (KMB), Pak Kurdi, Pak Sanip dan Pak Wayan Karsana. Tangan merekalah yang secara simbolik, mengantarkan portal berita online ini ke tangan pembaca.

Ketiganya dipilih bukan tanpa sebab. Pak Sanip, Pak Wayan Karsana dan Pak Kurdi sudah memperlihatkan kesetiaan terhadap profesi. Sesuatu yang hanya bisa dibuktikan dan diuji oleh waktu. Ketiganya mendedikasikan puluhan tahun untuk mengantarkan koran-koran milik KMB ke tangan pembacanya. Setelah Harian Suara NTB lahir  pada 2004, mereka juga menjadi pelaku sejarah tumbuh dan berkembangnya koran ini.

Pak Sanip, usianya telah 65 tahun. Tubuhnya memang telah renta. Tapi tubuh itulah yang setia mengantarkan Harian Suara NTB ke pelanggan-pelanggan setianya. Profesi ini telah menjadi darah dan dagingnya. Tugas-tugas Sanip bahkan diwariskan ke tangan anaknya, Marsudi.

Pak Wayan Karsana yang sudah 63 tahun, masih mengingat dengan lekat kapan ia pertama kali memulai pengabdiannya. Ia mulai mengantar koran terbitan KMB sejak 12 Desember 1987. Itu artinya, sudah hampir 29 tahun ia mendistribusikan koran ini.

Satu nama lainnya adalah M. Kurdi. Ia 60 tahun dan sudah mengabdikan hidupnya untuk kelompok media ini sejak 1980. Itu artinya 36 tahun. Lebih dari separuh hidupnya.

*

Zaman telah memaksa manusia untuk terus bergerak ke depan. Tapi ia juga memberikan kita kesempatan untuk melihat ke belakang. Menengok kembali pengabdian panjang Pak Kurdi, Pak Sanip dan Pak Wayan Karsana. Memberikan tempat yang layak bagi mereka dalam zaman yang demikian maju ini.

Dalam rantai produksi suarantb.com, ketiganya memang tidak lagi memiliki tempat. Berita-berita tidak perlu lagi diantarkan ke rumah atau kantor pelanggan. Dari ruang redaksi suarantb.com, berita-berita itu disebarluaskan oleh jaringan internet yang jangkauannya sudah mendunia.

Namun, tempat Pak Sanip, Pak Kurdi dan Pak Wayan selamanya akan ada dalam sejarah. Ketiganya, bersama dengan loper dan ekspedisi Suara NTB adalah elemen yang membuat suarantb.com dimungkinkan lahir.

Pak Agus sering menegaskan pentingnya penghormatan terhadap dedikasi mereka. Tanpa orang-orang seperti Pak Sanip, Pak Kurdi dan Pak Wayan Karsana, Harian Suara NTB mungkin tidak akan pernah seperti sekarang. Jika Harian Suara NTB tidak bisa seperti sekarang, besar kemungkinan tidak akan ada suarantb.com.

*

Sebagai anak bawang, suarantb.com harus banyak belajar. Para awaknya wajib belajar banyak tentang kemajuan teknologi. Juga hal-hal baru lainnya di bidang teknologi internet. Tanpa itu, sulit rasanya media ini bisa berkembang di tengah persaingan.

Namun, belajar tentang hal-hal yang baru dan mengabaikan yang lama tanpa sempat merenungkannya bisa membuat manusia ceroboh. Banyak hal baik yang bisa diambil dari kisah para loper yang setia. Meski, tentunya juga ada hal sebaliknya yang perlu kita tinggalkan.

Memberikan kesempatan bagi para pengantar koran itu untuk “membuka pintu” kelahiran kembali suarantb.com adalah pilihan yang menyimbolkan pentingnya belajar pada dua sisi waktu ini. Dari yang lama kita memperoleh banyak hal berharga. Selanjutnya, kita menjadikannya bekal menghadapi hal-hal baru di masa datang.

*

Selain simbolisasi peluncurannya, sambutan Pemimpin Umum suarantb.com, H. Agus Talino juga penting untuk digarisbawahi. Pak Agus mengingatkan bahwa tagline “Jendela NTB untuk Dunia” bukanlah tanpa konsekuensi. Tagline ini melahirkan tanggung jawab besar untuk para awaknya.

suarantb.com tidak punya pilihan lain selain menghadirkan berita-berita tentang NTB yang dibutuhkan para pembaca. Tidak saja pembaca yang berada di NTB. Tetapi juga pembaca yang berada di seluruh belahan dunia.

Menurutnya, para awak suarantb.com harus menyadari bahwa harapan masyarakat terhadap suarantb.com sangat besar. Harapan itu terlihat dari komentar sejumlah tokoh terkait kehadiran suarantb.com. Karenanya, suarantb.com harus bisa menempatkan harapan tersebut pada tempat yang sangat tinggi. Caranya, dengan menghadirkan berita-berita yang berkualitas dan dibutuhkan pembaca.

“Semua kita harus bekerja keras dan bekerja secara profesional,” ujarnya.

Selama memimpin perusahaan ini, Pak Agus tidak pernah lelah mengingatkan bahwa bisnis media adalah bisnis kepercayaan. Karenanya, sudah menjadi tugas suarantb.com untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan masyarakat. Menjaga diri selama menjalankan tugas jurnalistik adalah mutlak. Supaya, kepercayaan masyarakat tidak terciderai.

Menurutnya, risiko menciderai kepercayaan masyarakat itu sangat besar. Tidak perlu banyak kesalahan untuk meruntuhkan kepercayaan ini. Cukup sekali saja kita mencederai kepercayaan masyarakat, mereka akan sulit untuk kembali mempercayai kami. Memulihkan kepercayaan masyarakat itu tidak  mudah.

Sambutan itu menjadi alarm bagi para awak suarantb.com untuk tidak teledor. Setiap berita, setiap liputan harus dikerjakan dengan serius dan penuh dedikasi.

Usai seremoni peluncuran, kami saling bermaaf-maafan. Saling melepas guyonan dan tertawa lepas. Satu seremoni kecil telah kami lalui. Namun dari yang kecil itu, suarantb.com bisa menggali begitu banyak pelajaran besar. Sekaligus, ini menjadi penanda bahwa langkah kecil di tanggal yang juga diperingati sebagai hari peluncuran Satelit Palapa itu, bisa saja menjadi awal dari sesuatu yang besar. (aan)