TGB : Panglima Wilayah yang ‘’Masagi’’

Oleh : Dra. Mira Rosana Gnagey, M.Pd *

Tayangan wawancara antara Gubernur Provinsi NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, dengan Najwa Sihab di meja Mata Najwa, 26 Oktober 2016, masih lekat dalam ingatan kita. Tayangan yang menyedot perhatian saya dan penonton di studio salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Tanpa bermaksud mengabaikan dua narasumber lainnya (Bupati Banyuwangi dan Walikota Makasar), sebuah medan magnet yang kuat begitu terasa, saat orang nomor satu di Provinsi NTB ini menjawab pertanyaan-pertanyaan Najwa Shihab. Kharisma Panglima Wilayah NTB ini memang beda, sepertinya memiliki kedalaman ilmu.

Ketika seorang Kiyai/Tuan Guru menjadi “Komandan Daerah”, energinya memang berbeda. Meraih dua hal sekaligus, sebagai pemimpin struktural dan kultural. Sebuah pesona yang menarik. Sudah dua periode Gubernur yang juga akrab dipanggil Tuan Guru Bajang (TGB), ini memimpin Provinsi NTB.

Wilayah yang dipimpinnya menjadi provinsi yang berprestasi – meskipun diakui dengan kerendahan hati oleh beliau sebenarnya prestasi dari seluruh masyarakat NTB- seperti menurunkan angka kemiskinan, mengangkat pariwisata, juara 1 MDGS 2011-2015 untuk kategori perencana pembangunan. Sehingga TGB sebagai kepala daerah satu-satunya dari Indonesia yang mendapat kehormatan diundang pada acara sidang PBB di New York, bulan September lalu untuk melakukan testimoni keberhasilannya. Ini menjadi bukti kehebatan beliau sebagai pemimpin dalam usianya yang muda.

Kabarnya, seandainya dimungkinkan oleh konstitusi kita, masyarakat NTB masih menginginkan TGB untuk memimpin NTB pada periode 2018-2023. Ini artinya dia tidak saja dekat, tapi dicintai rakyatnya. Sebuah hal yang luar biasa, pada saat banyak “pemimpin” membeli suara rakyat dengan iming-iming, alih-alih masyarakat NTB malah menghendaki pemimpin yang diinginkannya tanpa mahar. Kecintaan masyarakat NTB pada TGB, seperti memenuhi kebutuhan hati masyarakat. Dipatuhi dan dihargai karena gelar Kyai/Tuan Guru, dipercaya masyarakat karena berkualitas, dikagumi karena kekuatan ilmunya, kesantunan dan kerendahan hatinya, keteladannya sebagai guru, kecerdasannya menjalankan kepemimpinan serta memahami betul bagaimana mengelola amanah. Semuanya, merefleksikan kebaikan TGB adalah kebaikan yang diinginkan masyarakat menjadi milik kemashlahatan semua orang.

Karena itu, sejak menjadi Gubernur NTB, beliau bukan hanya menanamkan cinta di hati masyarakatnya, tapi memperjuangkan tanah dan wilayahnya menjadi provinsi yang berprestasi. Demi kepentingan orang banyak, TGB berani menyampaikan usulan dan kritikan langsung kepada dan di hadapan Presiden terkait rendahnya harga jagung di daerah. Secara lugas “dakwah” beliau diliput media TV Nasional. Artinya, risiko “tabligh” Bapak Gubernur yang langsung kepada Bapak Presiden Jokowi sudah dipertimbangkan konsekuensinya. Dan, strateginya berhasil. Momentum yang tepat, disampaikan dengan cara yang sehat, sehingga hanya dalam waktu tiga bulan Bapak Presiden merespon kritikan yang disampaikan TGB. Gaya komunikasinya yang lurus, santun, penuh dengan kepercayaan diri ini mesti lahir dari keyakinan TGB, bahwa apa yang disampaikannya adalah kebutuhan real masyarakat NTB. Bukan untuk kepentingan salah satu golongan.

Pemimpin yang Masagi

Apakah itu prestasi seorang pemimpin? Tentu jawabannya ya! Apakah semua guru dan semua Kyai/Tuan Guru bisa dan mau menjadi pemimpin wilayah, masuk ke zona-zona perjuangan yang tidak mudah? Pada saat politik menjadi “haram” untuk didekati, membuat orang “bergidik” ketika mendengarnya, menjadi “dunia hitam” bagi para kelompok yang mengaku sebagai pemikir dan pelaku suci atau dianggap kotor bagi semua pengikutnya, maka kehadiran Sang Panglima Daerah Dr. TGH. M. Zainul Majdi, menjadi hembusan ombak yang kuat membangunkan penduduk negeri ini bahwa sosok pemimpin yang baik ada di negeri ini.

Di Universitas Pasundan Jawa Barat, kami mempunyai tujuan tercapainya sosok lulusan yang, (1) nyakola artinya berpendidikan atau melahirkan lulusan yang well educated, (2) nyantri atau religius berdasar pada agama Islam yang kuat, (3) nyantika maksudnya memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dan beretika sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal atau (4) nyunda. Visi ini ada pada diri TGB. Profil TGB adalah pemimpin yang masagi. Dalam Bahasa Sunda masagi berarti paripurna, kokoh dan ajeg. Dengan kriteria tersebut, TGB sangat pantas menjadi role model sebagai seorang negarawan. Kesalihannya membawa berkah bagi wilayahnya, keberaniannya membawa kekuatan bagi kesejahteraan, kesabarannya dan ketekunan belajarnya membuat masyarakat menjadi sadar dan butuh untuk dikelola menjadi pintar.

Meskipun prestasi sudah diraih Bapak Gubernur, ada ungkapan rendah hati beliau yang disampaikan di meja Najwa, mengenai penguasaan pengetahuan beliau tentang administrasi negara. Pada saat pertama kali TGB menjadi gubernur, TGB mengungkapkan harus terus belajar tentang administrasi negara, karena tidak mudah mengurusi wilayah. Kalimat tersebut mengandung keharusan dan pesan bagaimana seharusnya pemimpin mengelola wilayah dengan baik dan benar.

Ada persiapan matang yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin dan penyelenggara negara, karena keterkaitan sistem pengelolaan wilayah berhubungan dengan kebijakan negara, keputusan politik, bidang sosial politik tidak semua tujuan bisa dikaitkan dengan program. Karena dalam kehidupan masyarakat banyak tujuan penting tidak bersifat tunggal melainkan multipurpose. Seperti sistem pendidikan tinggi, kesehatan, sistem kepenjaraan, logistik dan lain-lain. Sulit sekali mencerai-beraikan semua aspek dari tujuan yang beraneka ragam itu ke dalam faktor-faktor quantifiable. Ada usaha-usaha yang kualitatif pendekatannyaa kuantitatif, sehingga menimbulkan distorsi, karena ada data-data yang harus didialogkan dan diinterpretasikan ke dalam sebuah keputusan yang harus mengakomodir keputusan bersama. If you can not count it, it doesn’t count.

Jadi ketika TGB menjadi seorang gubernur tanpa memiliki pengetahuan administrasi negara, tetapi berhasil memimpin propinsi meraih prestasi MDGS terbaik 2011-2015, kira-kira faktor kepemimpinan apa yang membuat NTB ini berprestasi kalau bukan potensi dan kompetensi seorang pemimpinnya yang excellent?

Menurut saya, perlu dieksplor lebih jauh, ada sebuah kekuatan yang belum diledakkan dari Sang Kyai/Tuan Guru muda ini. Memimpin dengan kepercayaan diri sudah beliau tunjukkan. Kecintaan rakyat pada beliau begitu melimpah. Keberaniannya mengambil keputusan sudah dimiliki. Keberhasilan memimpin untuk perubahan dan perbaikan sudah ditunjukkan. Maka yang harus kita lihat adalah, berapa banyak ‘’ledakan’’ NTB yang terinspirasi oleh Sang Komandan Salih ini menjadi pemimpin negeri? Seberapa cerah kilau “Mutiara Lombok” ini menerangi negeri? Sejenius siapa putra-putri NTB lahir dari Guru teladan? Dan seberani dan sekuat siapa Kyai yang bisa, mau dan mampu bersiasah (mengurus, memerintah atau menjaga) di negeri Pusaka ini? Kita tunggu ‘’ledakannya’’. (*)

* Dosen FISIP Universitas Pasundan Jawa Barat
Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi suarantb.com.