Sisi Lain dari Aksi 411, Gubernur NTB Jadi Ikon

Oleh : Poetra Adi Soerjo

Aksi 411 yang menggemparkan dunia telah menjadi saksi bahwa Bangsa Indonesia memang dibangun di atas keragaman dan penghormatan yang kuat pada keyakinan keagamaan masyarakat.

Hubungan antara negara dan agama di Indonesia tidak bisa dipisahkan. Sekali ada yang berani menyentuh ruang sentimentil dari masyarakat terkait keyakinan atas agamanya, maka jutaan manusia turun ke jalan.

Ada banyak kisah heroik dari aksi umat pada 411, mulai dari tertibnya para jemaah menjaga kebersihan dengan membawa bak sampah, menghindari menginjak taman, hingga pada kesantunan dalam mengungkapkan ekspresi. Aksi ini murni dalam rangka menuntut penegakan hukum atas penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama.

Namun, sebagai orang NTB yang ikut dalam barisan massa, saya ingin menceritakan sedikit sisi lain dari aksi tentang bagaimana masyarakat NTB yang terkenal sebagai basis umat Islam mengambil peran dalam aksi 411 di Jakarta.

Semua mata melihat, bahwa tidak hanya tokoh tokoh besar NTB ikut turun tumpah ruah bergabung dengan umat dari seluruh penjuru daerah. Komunitas Masyarakat NTB di Jakarta pun ikut bergabung bersama massa, seperti Ikatan Keluarga Sumbawa Jakarta dan Badan Musyawarah Masyarakat Bima, belum lagi masyarakat NTB lainnya yang menjadi bagian dari jemaah pengajian di Jakarta.

Terkait dengan tokoh NTB, semua mata juga mencatat bagaimana Fahri Hamzah Wakil Ketua DPR RI asal NTB ikut turun dan berorasi dengan lantang. Juga anggota DPRD NTB seperti Nurdin Ranggabarani, Johan Rosihan, Baijuri Bulkiah, Burhanuddin Jafar Salam dan banyak lagi yang lain tidak mau menyiakan kesempatan untuk ikut terlibat dalam sebuah peristiwa keummatan.

Lalu ada yang sedikit berbeda dari aksi kemarin terkait turunnya Dr. TGH. M. Zainul Majdi, Gubernur NTB yang akrab disapa TGB. Sebelum aksi, beberapa tokoh berkumpul di masjid Istiqlal jelang salat Jumat. Hari Jumat dipilih sebagai momentum tidak hanya karena hari itu merupakan hari yang mulia bagi umat Muslim,

namun momentum salat Jumat juga merupakan arena pengkondisian massa paling masif. Di ruang VIP Masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar ketiga di dunia setelah masjidil Harom dan Masjid Nabawi, saya sempat berbicara beberapa hal dengan Gubernur NTB yang sedang sibuk melakukan konsolidasi bersama berbagai tokoh lain pentolan aksi 411.

Lalu dari ruang VIP kami naik untuk menempati shaf terdepan bersiap melaksanakan ibadah salat Jumat. Ada hal yang menarik di sini. Seperti biasa setiap menggelar salat Jumat, pengurus Masjid Negara ini selalu mengumumkan daftar nama pejabat negara yang ikut hadir salat Jumat. Jelang khutbah dimulai, diumumkanlah oleh pengurus masjid nama nama pejabat negara yang hadir. Jemaah tetap khusyuk mendengar, namun tiba tiba masjid terbesar ke tiga di dunia ini menggema dengan teriakan takbir ketika nama Gubernur NTB disebut sebagai salah satu jemaah yang juga ikut menjadi jemaah salat. Karena menjelang aksi 411, maka asosiasi umat saat itu adalah bahwa Gubernur NTB juga akan ikut gabung bersama massa aksi.

Sebagai orang NTB, tentu saya berbangga ketika nama Gubernur kami menggetarkan masjid dengan teriakan takbir ketika disebut. Ini merupakan bentuk pengakuan dari jemaah dari berbagai penjuru yang hadir di Masjid Istiqlal, bahwa memang NTB begitu kuat dengan basis ke Islamannya. Dan Gubernur NTB membuktikan selepas salat ikut melakukan longmarch bergabung dengan umat dan jemaah yang sedang menuntut penegakan hukum atas isu yang sangat menyakiti umat Islam.

Atas sikapnya yang ikut turun jalan ini, Gubernur NTB memang mendapat kritikan. Namun dia menjawab singkat, “This is between me and my God”.

Jawaban ini bagi saya adalah jawaban yang cukup mewakili perasaan terdalam dan sekaligus sebagai penjelasan sikap seluruh umat Islam yang turun aksi 411 di seluruh nusantara.

*Tenaga Ahli DPR RI asal NTB
Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi tanggung jawab redaksi suarantb.com
Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.