Menyiapkan Diri untuk “Move On” dari TGB

Oleh : Mohammad “Aan” Azhar *

Tingginya antusiasme orang menonton TGB di Mata Najwa menandakan bahwa TGB masih menjadi anak kesayangan orang NTB. Di NTB ini, TGB adalah kekasih orang banyak. Saat ia akhirnya meninggalkan panggung utama kepemimpinan di NTB nanti, tidak sedikit orang yang akan mengalami kesulitan move on dari pengaruhnya.

Kecintaan orang NTB terhadap TGB adalah fanatisme sosial, sekaligus fanatisme politik yang cukup mudah dilogikakan. TGB menyimpan perpaduan personal-personal yang cukup komplet dalam satu sosok. Ia seorang ulama, pemimpin formal sekaligus pemimpin informal, sekaligus politisi dan sekaligus tokoh muda.

Oya, satu lagi : TGB juga seorang olahragawan. Beberapa tahun terakhir TGB memang cukup rajin mengayuh sepeda. Saya juga beberapa kali dapat kesempatan main futsal melawan TGB. Saya suka melihat TGB menggocek bola dengan kaki kirinya.

Tampil di Mata Najwa tentu bukan satu-satunya penampilan TGB di media nasional yang punya cakupan pemirsa dalam jumlah besar. Sebelumnya, dia juga sempat tampil di banyak acara bincang-bincang di televisi. Tapi penampilannya di Mata Najwa ini tampaknya sesuatu yang berbeda.

Di NTB, TGB adalah seseorang dengan popularitas yang mengagumkan. Tapi di level nasional, harus diakui bahwa popularitas TGB belum cukup besar. Berbeda misalnya dengan Fahri Hamzah yang – terlepas dari baik atau buruk persepsi orang terhadapnya – sudah berulangkali jadi sensasi nasional. Dalam konteks inilah TGB akan menjalani sebuah uji coba. Bagi kebanyakan orang, kolam bernama NTB memang sudah tidak cukup besar bagi TGB. Ia perlu dibawa keluar, bertarung dengan ikan-ikan yang lebih besar di sebuah kolam bernama Indonesia. Melihat TGB di Mata Najwa, anda melihat seseorang yang sedang mencelupkan sebagian kakinya untuk menjajaki kedalaman air.

Potret ini akan menggeser pikiran kita ke suatu hari di tahun 2018 nanti. Saat itu, TGB akan melambaikan tangan kepada orang-orang. Mungkin ia akan sedikit menundukkan kepala, sekejap mengenang kembali kejadian demi kejadian selama 10 tahun memimpin NTB. Ia mungkin akan teringat sebuah hari di tanggal 17 September 2008, ketika ia mencium tangan Umi-nya, Hj. Siti Rauhun ZAM, usai dilantik sebagai Gubernur NTB.

Pada saat itu, TGB tidak lagi akan berada di panggung utama NTB. Seseorang yang bukan bernama Dr. TGH. M. Zainul Majdi akan menduduki kursi yang biasa ia duduki di kantor Gubernur NTB. Sang pengganti, akan memasuki sebuah lingkaran baru, dimana sorotan lampu mengarah kepadanya. Jika skenario yang dibicarakan orang-orang berjalan lancar, TGB sendiri akan memasuki sebuah dunia baru, dimana lampu-lampu sorotnya jauh lebih tajam dan menyilaukan.

Saat itu terjadi, siapkah para pecinta TGB untuk move on ?

Selain kompleksitas status dan predikat yang melekat di dirinya, TGB memang punya talenta yang “berbahaya”. Ia bisa mengendalikan massa. Saya menduga ini talenta yang menurun dari kakeknya. Saya ingat betul sebuah kejadian saat kampanye TGB di Lapangan Umum Mataram, tahun 2008 silam. Massa pendukung TGB kala itu begitu sesak. Harun Al Rasyid, mantan Gubernur NTB yang saat itu menjadi salah seorang pendukung TGB memberikan pidato yang berapi-api. Pidato Harun membuat massa terbakar. Mereka mulai menampakkan tabiat manusia dalam kerumunan : liar dan sulit dikendalikan. Beberapa orang mendorong-dorong pagar hidup yang membatasi jalur naik menuju panggung. Polisi mulai bersiap untuk sesuatu yang tidak diharapkan. Lalu tampillah TGB.

“Mari kita hadirkan Allah di hati kita,” ujarnya. Ia mengucapkannya dengan tenang. Lalu melanjutkan membaca beberapa ayat Al Quran. Saya takjub melihat massa yang tadinya mulai liar, tiba-tiba berubah sikap seperti kumpulan ilalang di tengah padang. Tenang dan sepoi-sepoi. TGB sudah

mampu melakukan hal-hal demikian di usia yang kala itu sekitar 36 tahun. Besar kemungkinan, kemampuan itu sudah ia kuasai sejak usia yang lebih muda lagi. Bakat terbesar TGB memang terletak pada kemampuan bicaranya yang mengagumkan.

Tidak mengherankan jika setelah sepuluh tahun berlalu, perpisahan dengannya akan membuat banyak pendukung fanatiknya patah hati. Sudah berapa banyak orang yang dibuai pidato-pidatonya? Sudah berapa banyak mata yang tertambat kepada sosok karismatiknya? Adalah wajar jika orang sulit move on dari dirinya. Saya jadi menghawatirkan nasib Gubernur NTB 2018 nanti. Dia mungkin akan banyak berhadapan dengan cibiran seperti ini : “Huh, coba dulu waktu zaman TGB..”

Kekhawatiran itulah yang sejak sekarang harus dicarikan jawabannya. Jika move on dari TGB adalah perkara yang sulit, maka sudah menjadi tugas masyarakat NTB untuk mendorong tampilnya seseorang yang bisa membuat hal itu tidak sulit

Tentu saja, TGB adalah TGB. Ia selamanya akan memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat NTB. Di hati para kekasihnya. Namun, seseorang yang menggantikannya, punya tanggung jawab untuk bisa menjadi kesayangan baru masyarakat NTB. Satu-satunya cara adalah dengan menjadi lebih baik dari TGB. Saya meyakini, beberapa orang mampu melakukannya. Orang-orang itu, punya peluang untuk menjadi lebih baik dari TGB jika diberi kesempatan. Melakukan hal-hal yang hebat di NTB tidaklah sesulit mendamaikan Tom dengan Jerry.

Orang-orang yang punya potensi untuk menjadi kekasih baru orang NTB itu, sekarang sudah muncul ke permukaan. Bahkan, TGB sendiri meyakini, ada yang bisa memimpin NTB lebih baik dari dirinya.

Tugas masyarakat NTB sekarang tinggal mengambil kaca pembesar yang punya fitur zoom in dan zoom out. Namun, pekerjaan ini tentu tidak gampang. Jika hanya melihat “bungkus” atau “kemasan” para calon pemimpin, kita tinggal membuka Google dan mengetik nama. Namun, untuk melacak “isi” dari orang-orang tersebut, dibutuhkan lebih dari sekedar mesin pencari.

Kemauan untuk mendalami rekam jejak para calon pemimpin. Hal inilah yang sering absen dari proses berdemokrasi kita. Para penyelenggara Pemilu perlu menyediakan lebih banyak mekanisme untuk memastikan proses pelacakan terhadap rekam jejak ini berjalan lebih massif, lebih awal. Jangan lagi ada debat kandidat yang batal karena alasan teknis. Apalagi, alasan politis.

Setelah mekanisme disediakan, pekerjaan berikutnya tinggal memastikan bahwa orang-orang yang punya hak pilih mau melakukan pelacakan rekam jejak. Tidak sebaliknya, duduk tenang sambil menunggu proses politik berjalan di tangan para makelar politik. Kelak, saat tiba waktunya pemungutan suara, pemilih semacam ini akan datang ke TPS dan mencoblos calon yang janjinya paling manis. Atau sebaliknya, duduk diam di rumah sambil posting status berisi sikap politiknya yang abstain.

Upaya melacak nama dan menelusuri rekam jejak sangat diperlukan. Sebab, dunia tidak hanya diisi orang-orang baik – termasuk dunia politik kita. Beberapa politisi adalah kodok yang menyamar jadi pangeran. Setelah penyamarannya sukses, mereka ingin jadi raja, semata karena posisi itu menawarkan prestise dan laba.

Penelusuran rekam jejak memungkinkan pemilih membongkar penyamaran tersebut. Membangun benteng tak berwujud yang menghalangi para kodok mendekat ke gelanggang suksesi.

Tapi, kebanyakan pemilih senang mengabaikan proses pencarian ini. Lalu, baru menyesal setelah semuanya terlambat. Kelak, ketika suksesi tuntas, dia yang terpilih untuk duduk di singgasana mulai menampakkan wujud aslinya. Saat itu, barulah mereka ngomel-ngomel sambil bilang : “Huh, coba dulu waktu zaman TGB..”

Yang perlu diingat, kita masih punya lebih dari satu tahun untuk mencegah situasi itu terjadi. (*)

* Wartawan di Suara NTB dan suarantb.com
Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi suarantb.com.
Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.