Nobel Sastra 2016 dan Batas-batas Dunia Kita

Oleh : Mohammad Azhar *

Karena sudah cukup terlambat, saya tentu tidak perlu membuat pengumuman ulang. Bahwa baru-baru ini, seorang musisi baru saja memenangkan nobel sastra. Tapi tunggu dulu, apakah memang dunia dan sastra sudah selentur itu?

Mengingat musisi yang memenangkan Nobel Sastra ini adalah Bob Dylan, penganugerahan ini mungkin akan terdengar lebih masuk akal. Tapi tetap saja ini memantik kontroversi. Bagi orang-orang di balik penganugerahan Nobel, Bob Dylan berhak atas penghargaan ini karena lewat karya-karyanya, ia dianggap “telah menciptakan jenis ekspresi puitis baru dalam tradisi lagu Amerika yang agung.”

Namun, di sisi lain, anugerah ini juga dianggap problematis oleh orang yang menganggap lirik lagu bukanlah karya sastra. Sebagai perbandingan, puisi (tentu saja yang bagus) dianggap sebagai karya yang membuat susunan teks bisa memiliki kekuatan verbal, musikal dan bahkan visual sekaligus. Lirik lagu tidak demikian. Lirik lagu dinilai membutuhkan tambahan bebunyian alat musik untuk membuat bangunan artistiknya menjadi utuh.

Tapi tentu saja kontroversi ini tidak akan mengubah hasil. Anugerah Nobel Sastra untuk Bob Dylan telah menjadi kejutan besar karena banyak kalangan lebih menjagokan Haruki Murakami misalnya, untuk meraih penghargaan ini. Dengan Bob Dylan, penganugerahan Nobel Sastra kali ini menjadi salah satu penganugerahan Nobel Sastra paling monumental karena melahirkan pemenang yang notabene lebih dikenal sebagai seorang musisi.

Fenomena Bob Dylan menang Nobel ini secara tidak langsung mengajak kita untuk kembali mengingat bahwa kita sedang menjalani hidup di sebuah era dimana hampir semua batas tidak lagi relevan. Atau, setidaknya batas-batas yang memisahkan hal yang satu dengan hal lainnya perlu diperiksa ulang.

Setelah sekian ratus tahun, Amerika akhirnya punya Presiden kulit hitam. Mereka mendobrak batas rasial yang menghalangi orang kulit hitam menjadi presiden. Dan bulan depan, negara Paman Sam ini kemungkinan akan mendobrak batas gender, jika Hillary Clinton bisa terpilih sebagai Presiden.

Dengan Bob Dylan sebagai pemenang Nobel Sastra, para musisi dan sastrawan kini menemukan momentum untuk merenungkan kembali bangunan teritorial yang kemungkinan sudah terlanjur kokoh dalam proses kreatif mereka. Ketentuan bahwa puisi selamanya harus berupa susunan huruf-huruf, kata dan kalimat kini sudah mulai menemukan alternatifnya.

Afrizal Malna salah seorang pionir dalam perkembangan ini. Di buku puisinya, Berlin Proposal, Afrizal membuat puisi dalam bentuk barcode. Selain barcode, Afrizal juga memasukkan berbagai bentuk visual lainnya. Di buku-buku puisinya yang lebih dulu terbit, ada banyak trik serupa, memasukkan unsur-unsur lain selain kata-kata.

Lewat karya-karya itu Afrizal seperti sedang menguji setebal apakah tembok teritorial sastra. Ia sedang mengetuk-ngetuk tembok tersebut, mencari retakan yang mungkin timbul. Jauh sebelumnya, Afrizal sudah melakukan pemanasan dengan mengetuk tembok yang seolah menganggap istilah seperti “mesin cuci”, “kulkas” atau bahkan “buldoser” tidak cukup layak dipakai menyusun puisi. Afrizal membuktikan tembok yang ini toh tidak cukup kokoh.

Dalam pengertian tertentu, orang-orang seperti Afrizal telah membuat retakan besar dalam batas yang sudah terlanjur dibuat. Ia mendorong sastra menjadi sesuatu yang lebih borderless – meminjam istilah Kenichi Ohmae. Karena batas-batasnya mulai bergerak, ia menjadi lebih bebas berinteraksi dengan banyak variabel lain di luar dirinya.

Kita seringkali lupa menyadari bahwa saat ini dunia yang kita tinggali memang sebuah dunia tempat batas-batas menjadi sesuatu yang problematis. Negara-negara bisa saja memiliki batas teritorial. Namun, batas teritorial ini dalam pengertian tertentu bisa kehilangan makna. Seringkali kebijakan negara tertentu lebih banyak dipengaruhi sesuatu di luar dirinya ketimbang apa yang berkembang di dalam negara itu sendiri. Siapa yang akan jadi Presiden di sebuah negara, sangat mungkin sudah diputuskan di negara lain, oleh aktor yang juga dari negara lain. Anjloknya produksi beras di kawasan delta Sungai Mekong di Vietnam, sangat mungkin menjadi pemicu jatuhnya seorang presiden di negara lain yang bergantung pada pasokan beras mereka.

Runtuhnya batas-batas juga terjadi dalam cara kita menyikapi persoalan di sekitar kita. Dunia saat ini terasa begitu sempit. Kita merasa tidak berjarak dengan banyak hal lain yang secara fisik sebenarnya terpisah jauh dari kita. Sesuatu yang terjadi di Jakarta sana, bisa terdengar begitu nyaring dan bising di NTB sini.

Banyak orang NTB bisa demikian geram karena menyadari bahwa mulut besar Ahok ternyata bisa lebih tajam dari “Silet”-nya Venny

Rose. Entah bagaimana, Pilkada DKI Jakarta menjadi lebih menarik perhatian daripada isu kekeringan yang dipicu maraknya aktivitas pembalakan liar di berbagai daerah di NTB. Sidang Jessica atas tuduhan pembunuhan Mirna, jauh lebih populer di NTB ketimbang, sebut saja, pengusutan yang dilakukan polisi atas kematian seorang bocah bernama Nayla Ramadani. Nayla meninggal dengan luka lebam di dadanya. Warga KSB dan kepolisian mencurigai ini akibat penganiayaan oleh orang tuanya sendiri.

Orang dulu memagari perilaku dan cara bicara yang santun sebagai salah satu karakter yang menandai kesalehan sosial. Karenanya, ia harus dicentang saat memilih seorang pemimpin. Namun, kemunculan para calon pemimpin bermulut tajam seperti Donald Trump di Amerika, Rodrigo Duterte di Filipina dan Ahok di Jakarta membuat kesantunan seperti bukan lagi berada dalam teritori tersebut.

Leburnya batas-batas membuat aspek personal kita mengalami perubahan yang sebenarnya cukup dramatis. Banyak orang menilai modernitas telah melahirkan banyak hal baru yang menguntungkan manusia. Namun, di sisi lain, ia juga mengikis banyak hal lain dalam kemanusiaan kita. Apa-apa yang modern, seringkali hadir untuk menggeser yang tradisional. Individu-individu modern, kehilangan tradisionalismenya, kehilangan akar sosialnya dan seringkali kesulitan memenuhi kebutuhan spiritual, kebutuhan kreatif dan kebutuhan komunalnya.

Kondisi semacam ini tampaknya cukup menjawab mengapa teritori yang memagari hubungan sosial kita menjadi lebih rumit dari sebelumnya.

Banyaknya kasus hubungan incest (yang terungkap atau bahkan belum terungkap), adalah salah satunya. Kasus-kasus itu menandakan ada yang bermasalah dengan cara manusia modern memaknai relasi sosial – dalam hal ini terhadap orang lain yang satu darah dengannya. Orang-orang yang terhubung dalam relasi saudara kandung, ayah-anak, ibu-anak, dan sebagainya kini lebih banyak yang bermutasi ke dalam perilaku layaknya suami-istri.

Ini tentu saja dimungkinkan saat nilai-nilai modernitas yang lekat dengan kebebasan mulai diamini. Sementara di sisi lain, mereka kesulitan menggali dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan spiritual, kreatif dan komunalnya.

Pemenuhan kebutuhan seksual dulunya diatur dalam batasan yang cukup tegas. Batasan dimana seorang suami hanya boleh berhubungan seksual dengan istri sendiri dan sebaliknya. Namun, saat pria yang suka gonta-ganti pasangan dianggap lazim, atau malah terlihat keren, anda sadar bahwa masyarakat kita sudah meninggalkan batasan itu. Dan saat hubungan incest terungkap berulangkali, anda tahu masyarakat kita sudah bergerak lebih jauh lagi dari batas itu.

**

Saat pertama kali membaca pengumuman Nobel Sastra tahun ini, tentu saja saya sempat mengerutkan kening. Namun, itu tidak lama. Semakin lama memikirkannya, saya menyadari bahwa tidak hanya seniman, namun semua orang memang perlu merenungkan kembali batas-batas teritorial yang dimiliki.

Batas yang terlalu lama dibiarkan kokoh membuat kita sulit menerima bahwa dunia sudah lebih berwarna. Pilihan-pilihan sudah semakin beragam. Sebaliknya, batas yang diulur terlalu kendur membuat manusia sulit mengendalikan diri. Sulit membedakan sejauh mana harus bergerak maju. Kapan harus berhenti, kapan harus kembali untuk memungut hal-hal baik yang terlanjur ditinggalkan.

Batas, adalah sesuatu yang dibuat oleh manusia. Ia bisa digeser kesana dan kemari sesuai kehendak manusia yang membuatnya. Perilaku manusia yang meruntuhkan batas, merupakan buah dari kerinduannya untuk bebas. Masyarakat Eropa beramai-ramai meruntuhkan monarki karena lelah terkungkung dalam batas-batas yang dibuat oleh sistim feodal. Orang memerlukan lompatan keluar dari batas untuk melangkah lebih jauh. Namun, sejauh mana langkah harus diayunkan? Di sinilah kemauan untuk mengujinya diperlukan.

Para penganjur modernitas memang mendorong kemajuan untuk membuat manusia hidup lebih bebas. Namun, kebebasan justru menyeret manusia memasuki dunia yang menurut istilah Anthony Giddens, seperti sebuah juggernaut. Sebuah dunia yang bergerak liar kesana-kemari karena batas-batasnya sudah kacau.

Dalam situasi ini, menguji dan mengenali batas-batas adalah salah satu cara untuk tetap menjadi manusia bebas, namun bertanggung jawab.

“Ketika saya berhadapan dengan sebuah batas, saya harus punya kebebasan untuk mengenali batas-batas itu,” ujar Afrizal Malna dalam sebuah wawancara dengan BBC Indonesia. Saat itu, Afrizal sedang berbicara tentang proses berkesenian yang ia jalani. Namun, mekanisme serupa sesungguhnya juga relevan untuk dipakai memandang dunia kita. (***)

* Wartawan di Suara NTB dan suarantb.com
Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi suarantb.com.
Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.