Catatan : Raka Akriyani

NTB, Pulau-pulau Kecil dan Dunia yang Terhentak

PUTRI Diana, menghabiskan waktu berliburnya di Pulau Moyo, sebuah pulau kecil di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) sekitar Agustus 1993 lalu. Kehadiran ibu Pangeran William pewaris tahta Kerajaan Britania Raya yang dirahasiakan, bukan satu-satunya pesohor dunia yang kepincut dengan keindahan Pulau Moyo. Ada penyanyi legendaris dunia Mick Jagger, petenis putri dunia Maria Sharapova dan pesohor-pesohor mancanegara lainnya.

Pulau Moyo merupakan destinasi wisata yang cocok sebagai pilihan tempat ‘’menyepi’’ dan tempat mencari ketenangan. Pulaunya ‘’sepi’’, namun memiliki kekayaan alam luar biasa. Keindahan pantai, alam bebas dengan satwa hutan tropisnya serta panorama bawah laut yang memesona melengkapi ‘’keistimewaan’’ pulau ini sebagai destinasi wisata. Karena kekayaan alamnya yang luar biasa, pemerintah melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 308/Kpts-II/1986 tanggal 29 September 1986, menetapkan Pulau Moyo sebagai Taman Wisata Alam Laut dan Taman Buru. Dengan tujuan, kekayaan alam di pulau nan eksotis ini terlindungi.

facebook.com/sharapova
Maria Sharapova facebook.com/sharapova

Kekaguman akan keindahan alam Pulau Moyo diabadikan Maria Sharavopa melalui fotonya berlatarbelakang satwa rusa liar yang dilindungi. Maria Sharavopa juga tersentuh dengan keramahtamahan dan kesederhanaan warga Pulau Moyo. Potret ini tergambar dari jepretan kamera saat petenis berparas ayu ini berbicang dengan seorang ibu paruh baya yang sedang mengasuh anaknya. Foto-foto ini diposting melalui media sosial.

Kabar berliburnya Putri Diana, Mick Jagger dan pujian Maria Sharapova dengan keindahan Pulau Moyo, tersebar luas di berbagai media. Kabar itu menghentak wisatawan papan atas mancanegara dan wisatawan nusantara untuk berlibur ke Pulau Moyo. Selain ‘’promosi’’ gratis dari pesohor dunia, magnet Pulau Moyo dengan segudang keindahannya, memang tak bisa dipungkiri. Selain menyimpan segudang keindahan, bagi wisatawan yang mencari ketenangan seperti Putri Diana, Mick Jagger dan Maria Sharavopa, Pulau Moyo adalah surganya.

NTB tidak hanya memiliki Pulau Moyo. Daerah ini juga menyimpan pesona wisata bahari lainnya yang luar biasa indah dan banyak. Sebut saja tiga gili di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan. Tiga pulau kecil ini atau biasa disebut Gili Matra tak kalah pesonanya dengan Pulau Moyo. Lanskap tiga pulau kecil (gili) yang masih alami, bersih dan luar biasa elok, membuat banyak wisatawan mancanegara ingin merasakan sensasi liburan di pulau bebas polusi ini.

Pulau Moyo dan Gili Matra yang mendunia, sesungguhnya merupakan sebagian kecil destinasi wisata bahari yang dimiliki daerah ini. NTB sebenarnya memiliki 280 buah pulau yang menyebar di 10 wilayah. Termasuk dua pulau besar, Pulau Lombok dan Sumbawa. Berdasarkan data Biro Pemerintahan Setda NTB, ke 280 pulau ini tersebar di Kabupaten Lombok Barat sebanyak 38 buah. Di Lombok Tengah 20 buah, Lombok Timur 35 buah. Kemudian Sumbawa Barat 15 buah, Kabupaten Sumbawa 62 pulau. Dompu 23 pulau dan Bima sebanyak 84 buah pulau.

Ratusan pulau kecil ini harus diakui belum digarap maksimal. Padahal potensi gili-gili ini, sungguh luar biasa. Bahkan jika diberi sentuhan yang sama seperti Pulau Moyo dan tiga gili (Gili Matra), bisa jadi ratusan pulau kecil ini akan menjadi pesaing berat Moyo dan Matra. Artinya, pilihan wisatawan untuk memilih destinasi menjadi banyak. Bahkan tidak menutup kemungkinan, NTB bisa menjadi penopang utama sektor pariwisata di Tanah Air.

Demikian juga dengan destinasi wisata pantai-pantai lainnya. Pantai Pink di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur misalnya. Pantai berpasir merah muda (pink)sehingga diberi nama Pantai Pink—, juga tak kalah pesonanya. Mari Elka Pangestu pun terpikat dengan eksotisme pantai dengan warna pasir tak biasa itu. Saat menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Indonesia Bersatu, Mari mengajak Duta Besar Swedia dan sejumlah investor Swedia mengunjungi Pantai Pink. Saat itu, investor Swedia menyatakan ketertarikannya menggarap Pantai Pink.

Dua tahun berlalu, tindak lanjut dari ketertarikan investor Swedia lenyap seiring berjalannya waktu. Tidak ada realisasi. Pantai Pink, saat ini kondisinya masih seperti yang dulu. Akses jalan rusak dan bisa dikatakan belum layak menjadi destinasi wisata mengingat insfrastruktur pendukungnya masih relatif terbatas. Padahal potensinya sungguh luar biasa. Selain indah, Pantai Pink juga memiliki nilai sejarah. Pantai Pink sebenarnya bernama Pantai Tangsi (tangsi artinya asrama/barak). Konon di lokasi itu pernah dijadikan markas tentara Jepang. Ini dibuktikan dengan adanya goa buatan dan juga sebuah meriam peninggalan Jepang.

Persoalan sejarah merupakan sesuatu yang sangat penting dari sebuah destinasi wisata. Artinya, salah satu keunggulan destinasi wisata karena destinasi tersebut mempunyai kisah dan mempunyai sejarah. Katakanlah, Monumen Perdamaian Hiroshima, Jepang. Ketertarikan banyak wisatawan berkunjung ke sana, bukan sebatas karena bangunannya yang bagus dan indah. Tetapi monumen tersebut menyimpan sejarah yang menarik dan penting untuk diketahui.

Memasukkan NTB, khususnya kawasan Mandalika di Lombok Tengah sebagai salah satu dari 10 destinasi prioritas di Indonesia, selain Borobudur (DIY), Labuan Bajo ( NTT), Bromo (Jatim), Kepulauan Seribu (DKI), Danau Toba (Sumut), Wakatobi ( Sulteng), Tanjung Lesung (Banten), Marotai (Malut) dan Tanjung Klayang (Bangka Belitung) adalah tepat. Persoalannya, NTB tidak saja memiliki Mandalika. Tetapi memiliki banyak destinasi wisata yang penting untuk dikunjungi. Termasuk wisata baharinya. Bahkan NTB bisa menjadi daerah ‘’penyumbang’’ wisatawan yang besar untuk mencapai target 20 juta wisatawan secara nasional pada 2019 mendatang.

Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah penting memetakan dan mengembangkan suluruh potensi pariwisata yang dimiliki NTB. Termasuk potensi wisata baharinya. Karena masih cukup banyak potensi pariwisata seperti pulau-pulau kecil yang sangat potensial untuk dikembangkan. Katakanlah Pulau Keramat dan Pulau Bedil di Kecamatan Utan, Kabupaten Sumbawa. Pulau Kenanga di Kabupaten Sumbawa Barat. Pulau Satonda yang melegenda di Kabupaten Dompu, Pulau Ular di Kota Bima serta yang lainnya.

Pulau-pulau tersebut mempunyai kekhasan tersendiri yang bisa ‘’menghipnotis’’ banyak orang untuk mengunjunginya. Maksudnya, agar potensi wisata yang kita miliki tidak menjadi mubazir dan sia-sia. Sehingga kekayaan yang kita miliki berupa alam yang indah dan budaya yang manarik bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat dan kita semua. Semoga.

buk raka

Catatan :

Raka Akriyani