KMB Tatap Muka Harus Utamakan Keselamatan Siswa, Tercatat 486 Anak Terpapar Covid-19 di NTB

Wiku Adisasmito (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov mencatat jumlah anak-anak yang terpapar Covid-19 di NTB cukup tinggi mencapai 486 orang. Sebagian besar anak yang terjangkit virus asal Wuhan China tersebut usia remaja atau umur 13 – 18 tahun.

Sementara itu, Satgas Covid-19 Nasional mengingatkan Pemda agar berhati-hati dalam membuka kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Pembukaan KBM tata muka harus memperhatikan data perkembangan kasus dan keselamatan siswa dan siswi harus diutamakan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A mengatakan, anak-anak yang terpapar Covid-19 di NTB puncaknya pada Oktober 2020. Kemudian menurun pada bulan November dan Desember.

‘’Dan yang terbanyak, terbesar kalau di NTB adalah anak umur 13 – 18 tahun. Nomor dua, anak umur 6 – 12  tahun, setelah itu anak umur 0- 5 tahun,’’ kata Eka dikonfirmasi di Mataram, kemarin.

Nurhandini Eka Dewi (Suara NTB/nas)

Total jumlah kasus Covid-19 usia anak-anak di NTB, sebut Eka, hingga saat ini sebanyak 486 kasus. Dengan rincian anak umur 13 – 18 tahun sebanyak 213 kasus, anak umur 6 – 12 tahun sebanyak 138 kasus, anak umur 1 – 5 tahun sebanyak 88 kasus dan umur 0 – 1 tahun atau bayi sebanyak 47 kasus.

‘’Kasus meninggal 7 orang. Paling banyak meninggal 0 – 1 tahun dan usia 13 tahun. Sekarang masih banyak dirawat,’’ katanya.

Eka menjelaskan, di NTB telah ditemukan kasus Covid-19 klaster sekolah atau pondok pesantren (Ponpes) sebanyak 78 kasus. Ia mengingatkan masyarakat jangan menyepelekan anak-anak yang terpapar Covid-19. Karena mereka adalah penyebar dalam diam.

‘’Orang merasa anak-anak itu aman. Anak-anak itu sama berisikonya dengan orang tua kalau sudah menjadi penderita,’’ ungkapnya.

Eka mengatakan, Dikes punya catatan, banyak anak yang menjadi penderita Covid-19 menularkan virus tersebut ke orang tuanya. Tanpa disadari, orang tua si anak kemudian menularkan ke teman-teman kantornya. ‘’Itu banyak. Jadi, jangan disepelekan,’’ ujarnya mengingatkan.

Sementara itu, Pemerintah Pusat telah mengizinkan sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) mulai 1 Januari 2021. Namun, pembukaan kembali sekolah harus mengutamakan keselamatan siswa-siswi yang masuk usia anak sekolah. Satgas Penanganan Covid-19 pun telah berkoordinasi dengan kementerian terkait, untuk kesiapannya.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisaswito mengatakan, PTM akan dilaksanakan jika persyaratan-persyaratan yang ditentukan sudah terpenuhi. Dan merupakan kewenangan Pemda, Kanwil atau Kantor Kementerian Agama dan persetujuan orang tua. Hal ini sesuai Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri pada tanggal 20 November 2020.

‘’Namun, kesiapan pembukaan pembelajaran tatap muka ini, juga perlu memperhatikan data perkembangan kasus Covid-19, khususnya pada usia anak sekolah,’’ jelas Wiku dalam rilis yang diterima Suara NTB, Jumat, 8 Januari 2021.

Karena terdapat kekhawatiran terhadap anak-anak rentang usia sekolah yang dapat tertular Covid-19. Secara persentasenya, rentang usia anak sekolah menyumbang sebesar 8,87% dari total kasus nasional. Atau usia sekolah menyumbang 59.776 kasus dari total kasus kumulatif.

Dari total kasus tersebut, anak pada usia setara pendidikan SD yaitu 7 – 12 tahun, menyumbang angka kasus terbanyak yaitu 17.815 kasus (29,8%). Diikuti usia setara SMA yaitu 16 – 18 tahun di angka 13.854 kasus (23,17%), usia setara SMP yaitu 13 – 15 tahun sebanyak 11.239 kasus (18,8%), usia setara TK yaitu 3 – 6 tahun sebanyak 8.566 kasus (14,3%) dan usia PAUD yaitu 0 – 2 tahun sebanyak 8.292 kasus (13,8%).

‘’Jika kita menelaah dari trennya, kita bisa melihat adanya peningkatan kasus konfirmasi pada setiap penggolongan umur bahkan terbesar setara TK, Paud dan SD. Kenaikannya di atas 50 persen hanya dalam kurun waktu 1 bulan,’’ lanjut Wiku.

Dari sebaran daerahnya, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Barat dan Banten konsisten menempati peringkat 10 besar daerah dengan konfirmasi tertinggi pada rentang usia sekolah. Dimana DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah konsisten menempati peringkat 4 teratas pada seluruh golongan umur rentang usia sekolah.

Dan secara nasional juga, terdapat 3 provinsi teratas dengan penyumbang kematian tertinggi rentang usia sekolah. Pada rentang usia PAUD, terdapat di Sulawesi Utara (6,78%), Nusa Tenggara Barat (4,72%) dan Nusa Tenggara Timur (4,35%). Rentang usia TK terdapat di Jawa Timur (4,6%), Riau (0,73%) dan Kepulauan Riau (0,72%).

Rentang usia SD terdapat di Jawa Timur (4,96%), Gorontalo (1,449), dan Sulawesi Tengah (1,47%). Rentang usia SMP terdapat di Jawa Timur (4,96%), Gorontalo (2,08%) dan Nusa Tenggara Barat (0,85%). Rentang usia SMA terdapat di Jawa Timur (4,62%), Gorontalo (1,64%) dan Aceh (1,53%).

“Data ini disampaikan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan bentuk transparansi Satgas kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Data ini selayaknya dijadikan dasar pertimbangan sebelum mengeluarkan izin pembelajaran tatap muka. Daerah yang merasa kasus positifnya tinggi, diharapkan fokus terlebih dahulu pada penangan pandemi,” tegas Wiku.

Namun, apabila ada daerah yang merasa siap membuat pembelajaran tatap muka, harus terlebih dahulu paham komitmen yang dibutuhkan untuk menerapkan disiplin protokol kesehatan serta mempunyai strategi yang jelas. Dibutuhkan peninjauan yang mendalam dan tidak hanya kesiapan dan kesepakatan pihak terkait.

Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB akan tetap membatasi pembelajaran tatap muka di daerah zona merah Covid-19. Meskipun dalam surat keputusan bersama (SKB) menteri, pembukaan pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021 sudah tak melihat zonasi penyebaran Covid-19.

H. Aidy Furqan (Suara NTB/nas)

“Khusus zona merah, seperti Sumbawa dan Kota Bima tetap kita buka pembelajaran tatap muka tetapi sangat terbatas. Mungkin kita polakan kayak simulasi, tapi tetap tata muka,” kata Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., dikonfirmasi usai rapat persiapan pembelajaran tatap muka jenjang pendidikan SMA/SMK dan SLB, belum lama ini.

Ia menjelaskan, Pemprov akan membatasi pembelajaran tatap muka di daerah dengan risiko tinggi penularan Covid-19. Karena, Pemprov juga mendengarkan masukan dari orang tua siswa yang masih khawatir anaknya masuk sekolah, di daerah zona merah Covid-19.

Bahkan, rencananya akan dilakukan rapid test bagi guru. Rapid test akan dilakukan tidak secara keseluruhan tetapi dengan mengambil sampel. “Usulan tadi tracking sampel oleh Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Berdasarkan SOP yang telah dibuat, pembelajaran tatap muka akan dilakukan secara bergiliran. Misalnya, dalam satu sekolah ada 100 siswa, maka dibagi menjadi dua sif. Sif pertama sebanyak 50 orang, dan sif berikutnya 50 orang. Masing-masing sif, lama pembelajaran sekitar 3,5 jam.

Dalam pembukaan pembelajaran tatap muka, pihaknya menekankan kerja sama sekolah dengan Puskesmas. Saat ini, baru 64 persen SMA/SMK dan SLB yang sudah kerja sama dengan Puskesmas.

Untuk memastikan penerapan protokol kesehatan benar-benar dilaksanakan di sekolah, Aidy mengatakan sudah dibentuk Satgas Covid-19 di masing-masing sekolah. Selain itu, juga dibentuk Tim Penegakan Disiplin. Pembentukan Tim Penegakan Disiplin dinilai penting karena hasil evaluasi simulasi pembejaran selama tiga bulan terakhir, masih ada 5 – 8 persen terjadi kerumunan di sekolah.

Jika nantinya ada siswa atau guru yang terpapar Covid-19 di sekolah, kata Aidy, tidak dilakukan penutupan sekolah secara keseluruhan. Tetapi penutupan hanya dilakukan di ruangan atau kelas tempat siswa atau guru tersebut terpapar virus Corona. Ruangan atau kelas akan ditutup selama 14 hari. (nas)