KLU Potensial Dikembangkan Jadi Kampung Udang

Tanjung (Suara NTB) – Investasi tambak udang di Kabupaten Lombok Utara (KLU) belakangan mulai dilirik oleh sejumlah investor. Dari dua investor yang sudah membudidayakan udang vaname di Kabupaten Lombok Utara, Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH. MH., optimis Lombok Utara ke depan bisa dikembangkan menjadi kampung udang.

Di sela-sela panen udang di Desa Mumbulsari, Kecamatan Bayan, Kamis (5/4), Najmul Akhyar mengatakan dukungan investasi tambak udang di wilayah pesisir KLU potensial untuk dikembangkan. Terlebih komoditas yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan pasar sektor pariwisata di KLU.

Iklan

“Kita memiliki potensi yang semua tempatnya sangat cocok untuk tambak udang. Tinggal mana yang konsen dikembangkan. Di Mumbulsari, Kadesnya sudah berkomitmen. Bahkan di sini mau dibentuk Kampung (udang) Vaname, itu salah satu contoh,” ungkap Najmul.

Dikatakannya, Pemda KLU tidak akan ragu untuk mendukung kreativitas upaya masyarakat dalam membangun usaha ekonomi produktif sektor perikanan. Melalui wadah kelompok, masyarakat dapat berusaha mengembangkan budidaya udang. Tidak hanya udang air laut, melainkan juga udang air tawar.

Ia berharap, upaya kelompok masyarakat di KLU itu dapat didukung penuh oleh pemerintah desa melalui anggaran yang dikelolanya. Bagaimanapun, potensi KLU sebagai kampung udang akan mendorong tumbuhnya ide-ide kreatif masyarakat sekaligus mendukung tumbuhnya kesejahteraan masyarakat di tingkat desa.

Menurut Najmul, budidaya di Mumbulsari yang digalakkan oleh pengusaha dapat diikuti oleh masyarakat. Berhasilnya pengelolaan udang vaname di Mumbulsari ini bisa menjadi contoh untuk dapat dikembangkan di desa lain.

“Masyarakat yang usahanya hanya ikan saja, misalnya di Jambianom kita tawarkan nanti. Kalau dalam waktu dua, tiga bulan mereka tidak melaut, masih ada usaha udang yang bisa dikelola,” sambungnya.

Investasi tambak udang di Mumbulsari, awalnya dihajatkan untuk memenuhi kebutuhan sektor pariwisata di KLU. Ia bersyukur, upayanya membuka keran investasi di sektor perikanan ini berlangsung secara baik dan berhasil di kalangan pengusaha.

Untuk diketahui, pasar pariwisata khsusunya tiga gili saja membutuhkan komoditas udang sebesar 2,5 ton per minggu. Dengan pola panen periodik (2 bulanan) tentunya kebutuhan mingguan belum terpenuhi secara maksimal. Sehingga pasar udang harus diisi pula oleh peran serta masyarakat.

“Kekurangan kebutuhan udang masih sangat banyak, dan pengusaha kita di sektor pariwisata masih dibeli dari Bali dan Jawa. Kalau bisa ke depan, udang ini dipasok dari daerah kita saja,” tandasnya.

Sementara itu, Pengusaha Udang yang tergabung dalam Kelompok Aqua Culture, Hj. Aryani Rahmawati, menyebutkan budidaya udang di Mumbulsari menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Panen udang kali ini sengaja mengundang Bupati Lombok Utara, untuk memperlihatkan potensi yang dimiliki dari budidaya itu.

Dari hasil panen yang diperlihatkan, setiap 1 kilogram udang terdiri dari 30 ekor. Besaran udang bisa lebih besar apabila dibudidayakan lebih lama.

“Kami sudah mengirim udang hingga ke Surabaya dan memenuhi pasar tiga gili sebanyak 2,5 ton per minggu. Apa yang dikembangkan di sini hanya skala rumah tangga, tetapi hasilnya tidak jauh beda dengan pertumbuhan udang 7 gram,” sebut Aryani optimis. (ari)