KLU dan Kota Mataram Tertinggi Kasus Stunting di NTB

H. Lalu Hamzi Fikri (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB mencatat kasus stunting mencapai 23,51 persen di tahun 2020 berdasarkan data yang diperoleh dari Aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM). Dari 10 kabupaten/kota di NTB, Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Kota Mataram tercatat memiliki kasus stunting tertinggi, masing-masing 33,8 persen dan 30,11 persen.

“Kasus stunting tertinggi di Lombok Utara, Kota Mataram dan Lombok Barat. Target kita bisa menurunkan sampai di bawah 20 persen stunting ini,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. H. Lalu Hamzi Fikri., M.M., MARS., dikonfirmasi usai rakor evaluasi program revitalisasi Posyandu di Kantor Gubernur, Senin, 19 April 2021.

Iklan

Fikri menyebutkan kabupaten/kota dengan kasus stunting tertinggi berikutnya, yaitu Lombok Barat 29,31 persen, Lombok Tengah 27,73 persen, Dompu 25,01 persen, Bima 22,65 persen, Kota Bima 21,04 persen, Lombok Timur 21,02 persen, Sumbawa Barat 16,56 persen, dan Sumbawa 11,05 persen.

“Kita harus keroyok ramai-ramai. Sarananya adalah memaksimalkan Posyandu Keluarga,” kata Fikri.

Menurutnya, Posyandu Keluarga akan cukup efektif untuk menekan kasus stunting. Karena berbagai persoalan kesehatan yang menjadi pekerjaan rumah (PR) saat ini, seperti stunting, terkait dengan faktor prilaku masyarakat.

Sehingga, bagaimana memberikan edukasi kepada masyarakat dari tingkat dusun lewat Posyandu Keluarga yang ada. Ibu-ibu hamil perlu diedukasi tentang bagaimana memberikan makanan pendamping Air Susu Ibu (ASI). Atau memberikan ASI eksklusif sampai dua tahun.

“Ada suatu persoalan terkait kualitas dan kuantitas makanan yang diberikan. Fenomena ini bisa terkait prilaku,” tutur Fikri.

Ketika memberikan makanan pendamping ASI, kadang-kadang seorang ibu lupa kualitasnya. Bayinya hanya diberikan nasi plus garam. Padahal, mereka  bisa menggunakan produk makanan lokal, seperti kelor dan ikan.

“Kita berhadapan dengan mitos. Ibu hamil tidak boleh makan buah yang menggantung. Sehingga gizinya berkurang. Inilah kenapa Posyandu Keluarga penting menjadi pusat edukasi. Makanya bagaimana Posyandu Keluarga ini kita dorong ditingkatkan. Nanti ada penyamaan persepsi dengan kabupaten/kota dengan seminar online. Kemudian apa kita perkuat, kita kolaborasi,” katanya.

Fikri menambahkan, masalah stunting bukan dipengaruhi persoalan kemiskinan. Tetapi banyak dipengaruhi oleh prilaku dan lingkungan.

“Ternyata di perkotaan juga banyak juga terjadi stunting. Misalnya ibunya sibuk, kemudian tidak sempat mengurus bayi, diberikan pola asuh ke asisten rumah tangga,” tuturnya.

Dalam penanganan stunting, kata Fikri, pihaknya menggunakan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang diupdate lima tahun sekali. Kemudian Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan e-PPGBM.

Berdasarkan Riskesdas terakhir  tahun 2018, kasus stunting di NTB sebesar 33,49 persen. Kemudian berdasarjan SSGI 2019 sebesar 37 persen dan e-PPGBM 2020 sebesar 23,51 persen. (nas)

Advertisement ucapan idul fitri ucapan idul fitri ucapan idul fitri Jasa Pembuatan Website Profesional