Klinik Hamzar Gelar Workshop Khitan Modern

Peserta, panitia, dan pemateri workshop khitan atau sunat atau sirkumsisi modern dengan metode sunathrone klamp angkatan kedua di Lombok berfoto bersama, Minggu, 11 Oktober 2020.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Klinik Hamzar menggelar workshop khitan atau sunat atau sirkumsisi modern dengan metode sunathrone klamp angkatan kedua di Lombok. Kegiatan ini dilaksanakan di Same Hotel Lombok, pada Sabtu, 10 Oktober 2020 dan Minggu, 11 Oktober 2020.

Ketua panitia dari Klinik Hamzar dan pelopor pelatihan sunathrone klamp di NTB, Supriadi, S.Kep.Ns.,M.Kep., menjelaskan, metode tersebut merupakan metode terbaru yang digunakan di dunia khitan atau sirkumsisi. Pihaknya dari Klinik Hamzar yang beralamat di Jalan Jurusan Labuhan Lombok, Mamben Daya, Wanasaba, Lombok Timur, mengadakan workshop angkatan kedua, setelah sebelumnya di tahun 2019 telah dilaksanakan workshop angkatan pertama.

Iklan

Workshop khitan dengan metode sunathrone klamp angkatan kedua ini diikuti 36 peserta yang merupakan perawat dan dokter. Masyarakat antusias mengikuti workshop ini, yang awalnya ditargetkan 30 peserta, akhirnya melebihi target.

Ia menjelaskan, workshop ini berawal dari khitan metode konvensional yang dirasakan banyak kekurangan. Setiap anak yang dikhitan saat sunatan massal, tidak sedikit yang kembali dengan pendarahan. “Akhirnya kami berpikir bagaimana cara kami untuk mengurangi risiko terjadi pendarahan atau kembalinya masyarakat yang sudah dikhitan,” katanya.

Pihaknya berkoordinasi dengan pencipta alat sunathrone klamp, dr. Andi Berlian Tanwir, dan akhirnya berhasil mengundangnya. “Setelah ini kami bertanggung jawab pada peserta, setiap ada sunatan massal, tetap kami gunakan alumni saat kegiatan sunatan massal,” katanya.

Supriadi juga menyampaikan, angkatan pertama workshop khitan modern metode sunathrone klamp juga telah banyak yang mendirikan rumah sunat. Inilah yang dilihat oleh perawat maupun dokter, bahwa ada peluang terkait metode ini.

Peserta diberikan materi mengenai semua metode khitan, dari segi keuntungan dan kekurangan. Dalam workshop ini, peserta diberikan metode yang baru berupa sunathrone klamp. “Supaya menjadi alternatif pilihan masyarakat dan tentunya dengan harga yang tidak terlalu mahal dan terjangkau oleh masyarkat, tapi tindakannya aman,” katanya.

Pelaksanaan workshop ini juga menerapkan protokol kesehatan cegah Covid-19. Semua panitia dan peserta mengikuti tes cepat atau rapid test sebelum acara. Peserta juga selalu menggunakan masker, pelindung wajah, dan disediakan hand sanitizer. Di hari kedua, dilakukan sirkumsisi atau sunatan atau khitan ceria peduli umat gratis sebanyak 12 anak yang membutuhkan.

Pencipta alat sunathrone klamp, dr. Andi Berlian Tanwir hadir langsung sebagai pemateri di workshop ini. Ia menyampaikan materi mengenai metode sirkumsisi atau khitan yang merupakan metode sirkumsisi terkini atau modern yang sudah beredar di Indonesia. “Yang kita fokuskan menggunakan metode sunathrone klamp, jadi menggunakan sunathrone klamp alat yang sekali pakai, satu anak, satu alat. Dari sisi kebersihan lebih baik, dan juga murah,” katanya.

Sunathrone klamp ini merupakan pengembangan putra Indonesia, sudah beredar sejak tahun 2005 dan melanglang buana sampai luar negeri. Ia juga ikut andil dalam penelitian dengan WHO membahas HIV/AIDS yang bisa dicegah melalui khitan. Alat ini ikut andil dalam penelitian tersebut, dari tahun 2007 sampai 2009. “Di Indonesia sendiri, karena kesibukan di luar negeri, baru bisa kita hadirkan di akhir tahun 2016 sampai sekarang,” katanya.

Andi menjelaskan, target sunatrhone klamp hadir di Indonesia agar hasil karya anak Indonesia bisa memberikan arti di masyarakat Indonesia. Pihaknya memiliki target untuk menyebar teknologi ini di 34 provinsi, tepatnya lebih dari 515 kabupaten/kota di Indonesia.

“Kita ingin teknologi modern ini hadir tidak hanya untuk masyarakat yang mampu, untuk masyarakat yang tidak mampu sekalipun, sampai ke pelosok, teknologi ini hadir dari putra Indonesia untuk Indonesia,” katanya.

Ia juga menyampaikan, keunggulan dari sunathrone klamp ini, seseorang yang dikhitan bisa langsung mandi dan beraktivitas, karena tanpa jahitan dan tanpa perban. Dari segi perawatan berbeda dengan khitan konvensional. “Buktinya setelah sunat, anak bisa pakai celana dalam seperti biasa, ibadah, kecuali jangan melakukan aktivitas terlalu ekstrem,” katanya.

Pemateri lainnya, Cheif of Development and Education (CDE) Sunathrone Indonesia, Ns. Dian Tri Raharjo, M.Kep., menyampaikan pihaknya memberikan edukasi kepada praktisi khitan, baik dokter maupun perawat. “Kami menginformasikan cara penggunaan alat, nama alat ini sunathrone klamp. Di sunathrone, agak berbeda dengan klamp lain, karena habis disunat, anak harus mandi,” katanya.

Ia menyampaikan, di hari pertama pihaknya memberikan semua teori tentang sirkumsisi, salah satunya fokus pada sunathrone klamp. Di hari kedua, dilakukan sirkumsisi atau sunatan massal. “Pemikiran orang Indonesia, pakai klamp adalah untuk masyarakat menengah ke atas, tapi kami sunatan massal pakai klamp. Yang jelas, kami sampaikan, bahwa tindakan sirkumsisi modern sudah mulai berkembang, kita gunakan klamp terbaru biusnya tanpa jarum suntik,” katanya. (ron)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional