Kisah Mulia Guru Honor di Lobar, Gaji Tak Seberapa, Penuhi Kebutuhan Hidup dengan Kerja Sampingan

Dua guru honorer GTKHNK 35+ Husnul Khotimah dan Faizah saat mengadu ke Wakil Ketua DPRD Lobar Hj. Nurul Adha belum lama ini. (Suara NTB/ist)

Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer Non kategori  (GTKHNK) 35+ di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) masih berharap bisa dimudahkan menjadi PPPK. Pengabdian selama berpuluh tahun dengan honor jauh dari sejahtera tak dipikirkan demi kecerdasan anak bangsa. Ditemui media belum lama ini, mata dua orang guru terlihat sembab. Maklum, mereka baru mengadukan nasibnya ke para wakil rakyat di DPRD Lobar.

ADALAH Faizah Guru Honor SDN 1 Gerung Utara, salah satu GTKHNK 35+ yang merasa sedih skor nilai tes PPPK yang belum lama diikutinya belum memenuhi passing grade yang ditetapkan pusat. “Harapan untuk kehidupan lebih sejahtera seakan berangan-angan,”tuturnya belum lama ini.

Iklan

Honor yang diterima sekitar Rp 1,1 juta sebulan dari sekolah hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia pun memilih mencari tambahan pekerjaan lain.

Air mata berlinang ketika ia menceritakan tak ada waktu bersama anak-anaknya. Bagaimana tidak, selepas mengajar di SD ia lantas menjadi menjadi guru les dan guru mengaji bagi anak-anak lain. ”Setengah tiga siang pulang sekolah, tidur sebentar terus jalan lagi pergi ngeles nanti pulangnya jam empat sore, saya lagi ngeles di tempat lain, terus Magribnya saya ngajar ngaji. Itu setiap hari kecuali Sabtu-Minggu,” ungkapnya.

Kondisi hampir sama juga dialami Husnul Khotimah. Guru honor SDN 1 Labuapi ini bahkan harus menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Honor sebesar Rp 750 ribu per bulan untuk menambah biaya pendidikan kedua buah hatinya. Terlebih ia masih menumpang di rumah saudaranya. Menjadi penjahit pun dilakoni demi menambah biaya kehidupan. Meski tak seberapa namun cukup membantu. ”Alhamdulillah mungkin berkah dari kita mengajar tak besar biaya, tetapi alhamdulillah satu anak saya bisa lulus dengan murni tanpa biaya yang tinggi diterima di Poltekkes Mataram, sekolah yang bagus,” bebernya.

Ia pun sering mengenang bagaimana mereka bertiga tidur sekamar di rumah salah satu keluarganya. Kini anaknya yang paling kecil sudah masuk pondok pesantren. Kini kedua guru honor itu hanya bisa berharap adanya kebijakan pusat yang bisa meluluskan mereka dengan penambahan afirmasi dengan melihat lama pengabdian mereka. Sehingga bisa lolos PPPK. Karena selama tes itu banyak kendala yang dihadapi para guru usia 35 tahun ke atas itu. Mulai dari soal yang jauh dari kisi-kisi yang mereka terima padahal beberapa kali try out sempat digelar hingga membentuk kelompok belajar. Bahkan banyaknya yang kurang fokus mengerjakan karena lama mengunakan komputer mengingat usia yang sudah lanjut.

Mendengar cerita kedua guru itu, membuat Wakil Ketua DPRD Lobar Hj. Nurul Adha seperti merasakan kesusahan guru itu. Belum lagi begitu sulitnya para GTKHNK 35+ melaksanakan tes PPPK yang dinilai tak berpihak kepada guru yang sudah berpuluh tahun mengabdi.

Ia mengatakan akan menyampaikan aspirasi para guru usia 35 tahun ke atas itu kepada DPR RI. Sebab diakuinya ini bukan kali pertama guru itu hearing kepada dewan atas kondisi pelaksanaan PPPK. Di samping itu, pihaknya akan bersurat langsung kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. ”Perjuangan ini tidak boleh kita putus asa dan pesimis. Kita akan terus memperjuangkan dengan menyuarakan ke DPR RI, kalau yang menangani persoalan ini dewan PKS DPR RI ini ada Bu Ledia Hanifa,” ungkap Ketua DPD PKS Lobar itu.

Bahkan wanita yang akrab disapa Ummi Nurul itu mengaku sempat mendengar Anggota DPR RI Ledia Hanifa bersuara dan menekan menteri agar mengubah regulasi perekrutan guru PPPK itu. Agar regulasi itu lebih memberikan penghargaan kepada para guru honor itu yang sudah mengabdi hingga puluhan tahun.

“Sehingga tahapannya nanti, kalau tahun ini yang lulus hanya 25 persen se Indonesia, tahun depan harus masuk lagi sampai lulus seratus persen. Itu kata beliau Bu Ledia,” bebernya.

Karena ia menilai dengan hanya 2 persen guru kategori itu yang lulus, seleksi PPPK itu sangat berat bagi guru usia itu. Meski dari data kuota PPPK Lobar seluruhnya sebesar 1.752 formasi. Di mana 600 di antaranya kategori GTKHNK 35+. “Sebenarnya kuotanya cukup besar, tapi dari pengalaman (keluhan) atas tes itu yang tidak sesuai kompetensi mereka yang diujikan, soal-soal di luar ekspektasi mereka, apa yang mereka perkirakan soalnya tidak masuk,” jelasnya.

Tak hanya itu kendala bagi sebagaian guru itu agak kaku dengan komputer. Terlebih yang berusia di atas 40 tahun, dirasa Ummi Nurul, agak berat juga harus selama tiga jam di hadapan komputer dan akan membuat konsentrasi menurun.”Konsentrasi tidak fokus dan sebagainya, sehingga begitu melihat hasil nilai tidak sesuai harapan mereka. Yang diharapkan bagaimana kita advokasi supaya mereka diakomodir terkait afirmasi untuk point lama mengabdi mengajar,”pungkasnya. (her)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional