Kisah Memilukan Potret Nikah Dini di Desa Sade

Praya (Suara NTB) – Setiap hari, Inaq Joni berjualan di depan rumahnya yang ada di Dusun Sade Desa Rembitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. Rumahnya merupakan salah satu dari ratusan rumah tradisional yang ada di dusun yang belakangan semakin banyak dikunjungi wisatawan itu.

Hanya saja, penghasilan dari berjualan kain yang tak menentu membuatnya tidak dapat mengantarkan anaknya ke bangku sekolah. Sehingga anaknya menikah pada usia dini.

Iklan

“Saya punya tiga orang anak. Anak pertama sudah menikah, kedua masih SMK dan ketiga masih SD. Dulu saya sangat ingin mendaftarkan anak saya sekolah tapi karena tidak ada biaya jadinya dia tidak sekolah,” akunya kepada Suara NTB, di Dusun Sade, Rabu, 25 Oktober 2017.

Ia mengatakan anak pertamanya itu terpaksa harus menikah di usinya yang sangat muda dan kini sudah memiliki seorang putra. Saat ini usia anak pertama Inaq Joni sudah 20 tahun, namun anaknya menikah pada usia 16 tahun. Hal inilah yang paling disesali oleh Inaq Joni karena pada saat itu kondisi ekonominya sangat susah.

“Itu penyesalan terbesar dalam hidup saya. Saya sampai menangis karena sangat ingin menyekolahkan anak saya. Tapi karena tidak ada biaya, jadi terpaksa tidak sekolah,” ujarnya.

Ia tidak mengharapkan hal itu terjadi pada anaknya yang kedua. Ia berharap hasil penjualan kain tenun di Dusun Sade itu dapat membantu biaya sekolah anak-anaknya. Sehingga anak-anaknya bisa tumbuh menjadi anak yang pintar dan setelah dewasa bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

“Suami saya buruh tani, kadang-kadang ada buruhan kadang tidak ada. Kalau tidak ada, kami hanya mengandalkan hasil penjualan kain tenun saja. Itupun tidak menentu. Kadang seminggu tidak ada yang beli, kadang ada,” akunya.

Ia sangat berharap setiap wisatawan yang datang mau membeli kainnya. Paling tidak satu kain dalam sehari. Sehingga ia bisa menabung untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Sebab ia tidak ingin anak-anaknya menikah pada usia dini seperti yang terjadi pada anak pertamanya.

“Saya berharap wisatawan itu beli kain saya. Karena kadang wisatawan yang datang itu hanya melihat-lihat. Tapi kita tidak merasa gimana-gimana, namanya belum rejeki ya pasti tidak ada yang beli,” ujarnya.

Satu lembar kain tenun ia jual dengan harga Rp 300 ribu, tergantung dari motif kain yang diinginkan. Ada puluhan motif kain yang dijual Inaq Joni. Sebagian merupakan hasil tenunannya, sebagian lagi hasil tenunan kerabatnya yang dititipkan untuk dijual di lapaknya.

“Saya sudah berjualan kain tenun ini dari kecil, hampir 30 tahun. Saya merasakan perbedaannya, kalau sekarang sudah lumayan ada yang beli dibandingkan dulu. Tapi tetap saja, saya berharap bisa mendapatkan banyak pembeli. Jadi bisa nabung buat biaya sekolah anak,” harapnya. (lin)