Kisah Mahasiswa Asal Bima, Tempuh 17 Hari Jalan dari Jakarta ke NTB

Perjalanan Sarjan pulang kampung dari Jakarta ke Bima. (Suara NTB/ist)

Bima (Suara NTB) – Sejak pandemi corona melanda Indonesia, semua aktivitas dan kegiatan melibatkan orang banyak ditiadakan untuk sementara, termasuk aktivitas perkuliahan. Mahasiswa diarahkan untuk belajar di rumah dengan sistem daring (online).

Momen itu juga dimanfaatkan oleh sebagian mahasiswa perantuan memilih untuk pulang kembali ke daerahnya masing-masing. Salah satunya Sarjan, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta asal Kecamatan Parado Kabupaten Bima NTB.

Iklan

Namun, mahasiswa semester 8 jurusan Ilmu Perpustakan dan Informatika Fakultas Adab dan Humaniora ini memilih jalan pulang kampung yang tak biasa. Dari Jakarta menuju NTB ditempuhnya dengan jalan kaki selama 17 hari.

Selain tidak menentunya jadwal perkuliahan karena Covid-19, mahasiswa berusia 22 tahun itu mengaku pulang ke Bima lantaran rindu dengan keluarga besarnya setelah 4 tahun kuliah dan tidak pernah pulang kampung.

“Sebelum corona ini, saya berniat akan lebaran di kampung tahun ini. Karena sudah empat tahun di Jakarta dan tidak pernah pulang,” katanya kepada Suara NTB, Sabtu, 16 Mei 2020.

Sarjan mengisahkan dirinya berjalan kaki dari Jakarta menuju Bima. Ia mengaku berangkat dari Jakarta tanggal 26 April 2020 sekitar pukul 13.00 WIB, berbekal uang di ATM Rp200 ribu dan di saku Rp70 ribu, dengan menenteng dua tas berisi pakaian.

“Dua tas ini tas kecil dan ransel, beratnya ada sekitar 5 kilogram,” katanya.

Namun di pertengahan jalan, Ia menyesal telah membawa pakaian yang banyak karena berat. Sehingga sebagian pakaian (kaos) diberikan kepada para pemulung di sepanjang jalan.

Menurutnya di pertengahan jalan tepatnya di Daerah Subang Provinsi Jawa Barat, ia bertemu dengan tiga orang pejalan kaki dari Jakarta dengan tujuan beberapa daerah Jawa Tengah, seperti Cilacap dan Solo.

“Kalau tidak salah di Subang saya bertemu dengan tiga orang asal Jawa Tengah dan juga jalan bareng,” katanya.

Namun saat tiba di Cirebon, Ia mengaku diajak oleh ketiga orang itu untuk naik truk tronton hingga di Yogyakarta. Awalnya ia tidak mau ikut. Namun ia terus didesak rekan seperjalanannya karena tidak tega melihatnya berjalan sendiri.

“Saya juga tidak enak karena mereka ingin cepat-cepat tiba ke kampung dan tidak tega melihat saya jalan kaki sendirian,” katanya.

Sesampai di Yogyakarta, Sarjan mengaku melanjutkan perjalanan kaki hingga Banyuwangi Jawa Timur dengan melewati beberapa daerah seperti Sragen, Ngawi dan Lumajang.

“Selama perjalanan saya banyak temukan uang pecahan Rp500 perak hingga Rp2.000. Uang ini saya pakai untuk membayar naik angkot untuk meringankan perjalanan,” katanya.

Tiba di pelabuhan penyeberangan Banyuwangi-Bali setelah melewati hutan rimba, Sarjan mengaku sempat kebingungan lantaran tidak ada kapal penyeberangan (ferry.red), yang ada hanya kapal yang membawa kebutuhan logistik.

“Namun saat itu ada tukang ojek yang menawari saya naik truk pengangkut barang, tapi harus membayar Rp250 ribu. Tapi saya bisa sanggupi Rp200 ribu yang ada di ATM,” katanya.

Sesampai di Bali, selain jalan kaki, Ia mengaku juga sempat beberapa kali naik angkot, itupun saat siang hari, hingga sampai di pelabuhan penyeberangan Bali-Lombok.

“Disini saya menumpang truk pengangkut barang juga dengan gratis,” katanya.

Saat tiba di Lembar, lanjutnya, supir truk menurunkannya di daerah Labuapi Kabupaten Lombok Barat. Saat itu, Ia langsung menelepon saudara sepupunya yang tinggal di Mataram untuk menjemputnya.

“Kalau tidak salah 17 hari saya jalan kaki dari Jakarta sampai Lombok,” katanya.

Sarjan mengaku ingin melanjutkan perjalanan dari Lombok menuju Bima setelah dua hari istirahat di Mataram. Hanya saja tidak diizinkan oleh keluarga, karena kuatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Karena tidak dizinkan saya akhirnya pulang menggunakan sepeda motor menuju Bima bersama sepupu,” katanya.

Ia mengaku selama menempuh perjalanan selama 17 hingga kini, tidak merasakan sesuatu hal, seperti menurun kondisi kesehatannya. Hanya hari ketiga dan keempat merasakan pegal-pegal dan lelah karena banyak keluar keringat.

“Setelah itu tidak merasakan apa-apa. Lagipula selama perjalanan saya siapkan banyak air putih, tidak ada persediaan obat-obatan,” katanya.

Sarjan memperkirakan jalan kaki yang ditempuhnya tersebut beberapa hari sebelum lebaran atau paling mentok sebulan. Selama perjalanan sebagian diabadikannya melalui foto dan video.

“Saat ada baterainya saya foto dan video. Saya juga terkejut saat berada di Bali viral di sosial media,” katanya.

Ia menegaskan, jalan kaki yang dilakukannya tidak ingin mencari sensasi karena ingin viral di sosial media seperti yang dituduhkan netizen saat ini. Pasalnya jalan kaki sudah biasa dilakukannya selama ini. Bahkan dari kecil terbiasa jalan kaki menyusuri hutan lebat Parado untuk mencari madu.

“Kadang di hutan saya bisa sampai berhari-hari, ini juga yang membuat saya ingin jalan kaki dari Jakarta menuju Bima. Saya tidak mencari sensasi,” pungkasnya. (uki)