Kisah Gadis Berstatus ODP Menghadapi Stigma Masyarakat

Fegytia Rifianti. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Gadis muda asal Lingkungan Karang Tapen Kelurahan Cilinaya Kacamatan Cakranegara, Fegytia Rifianti mencoba melawan stigma miring masyarakat di lingkungannya. Sejak kepulangannya dari Jakarta pada Minggu, 29 Maret 2020, ia langsung berstatus orang dalam pemantauan (ODP) penyebaran wabah Corona Virus Disease (Covid-19) di Mataram.

Tia, sapaannya, harus pulang dari Jakarta setelah pihak perusahaan fashion levis tempat ia bekerja menutup sementara perusahaannya akibat pendemi Covid-19 kian mewabah. Hampir semua warga tetangga Tia di lingkungannya menduga, kedatangannya membawa Covid-19 ke lingkungan tempat tinggalnya. Ia pun merasa dikucilkan selama proses isolasi mandiri di dalam rumahnya.

Iklan

“Saya jadi tidak berani keluar halaman rumah. Orang-orang langsung takut,” sebutnya, kepada Suara NTB, Selasa, 31 Maret 2020.

Gadis usia 23 tahun ini bertutur, selama bekerja di Jakarta Pusat, ia tak banyak berkontak dengan warga di sana setelah isu merebaknya wabah Covid-19 di Jakarta awal Maret lalu.

Pasalnya, hingga hari ini, penduduk Jakarta yang terpapar wabah Covid-19 dari data BPBD Pusat, sebanyak 720 telah positif Covid-19. Ada pun yang meninggal sebanyak 76 orang. Sementara yang sembuh total dari Covid-19 sebanyak 48 orang.

Setelah turun dari pesawat, akhir pekan kemarin, Tia telah melewati pemeriksaan di bandara Lombok. Ia dinyatakan dalam kondisi sehat. Suhu tubuhnya menunjukkan 35 derajat celcius, dalam kondisi normal. Setelah sampai kota Mataram, ia pun diperiksa pihak Puskesmas Karang Taliwang. Wanita lajang ini mengatakan, dirinya diminta untuk tidak keluar rumah selama dua pekan.

“Iya begitu. Jadi saya tetap tidak bisa keluar halaman rumah. Juga kalau mau makan, piring dan gelas itu sudah dipisah oleh Mama. Jadi sudah benar-benar steril. Apalagi kalau sudah pegang sesuatu, Mama langsung cuci bersih dah,” cerita Tia. Perawatan yang diberikan Mamanya membuat ia merasa sebagai orang yang ditakuti. Katanya, keempat keluarga Tia tidak berani kontak langsung dengan dirinya.

Selama menjalani karantina mandiri di rumahnya, ia juga selalu menjalankan SOP yang diberikan pihak puskesmas. Setiap pagi ujarnya, ia berjemur di bawah terik matahari selama 15 menit pada pukul 10:00 Wita. Juga, selama masa karantina mandiri, ia tetap berada di dalam kamarnya.

“Saya selalu berusaha berolahraga secara mandiri di kamar. Intinya menjaga kebugaran tubuh,” katanya.

Dari usaha yang dilakukan Tia untuk menghindari sebaran Covid-19, ia merasa tak pernah keberatan dengan instruksi yang diberikan petugas kesehatan kota Mataram.

“Saya selalu lakukan. Katanya juga, kalau dalam beberapa hari saya ada gejala atau kondisi badan kurang sehat selama masa karantina, saya disuruh melapor ke Rumah Sakit,” pungkasnya.

“Saya keluar kamar juga seperlunya saja. Seperti ke toilet. Apalagi sudah ada perintah untuk tidak bersentuhan dengan anggota keluarga dan orang lain. Makan juga harus pakai piring pribadi gak boleh dipakai sama keluarga yang lain,” ujarnya.

Selama masa karantina mandiri ujarnya, beberapa tetangga Tia takut bila melihatnya. Ia juga pernah mendapat kucilan dari warga di lingkungannya. “Memang waspada dan takut itu wajar. Tapi jangan dong sampai ngucilin orang,” sesalnya.

“Toh saya selalu ikutin sesuai SOP karantina mandiri. Keluar rumah saja hanya untuk bejemur, saya juga tidak bersentuhan sama keluarga,” lanjut Tia. Setiap barang yang disentuh, ibunya juga selalu menyemprot dengan cairan disinfektan.

Ia pun meminta, kepada warga yang mengucilkan dirinya tidak membaca berita hoaks. Pasalnya, banyak warga di lingkungannya beranggapan bahwa, penyebaran Covid-19 bisa melalui pandangan. “Mereka paniknya karena nyerap berita hoax yang ngiranya Corona bisa nyebar dari tatapan mata. Ini kan hoax,” ujar Tia.

Wanita lulusan SMK 2 Mataram ini pun berpesan agar warga di lingkungannya tidak melebih-lebihkan sebaran wabah Covid-19 ini. Ia pun pernah mendengar, jika ia keluar halaman rumah akan membuat warga sekitar panik.

“Kalau di depan rumah, warga yang lihat ada yang langsung panik. Pesan saya, tolong jangan dilebih-lebihkanlah terkait kepulangan saya dari Jakarta. Warga juga jangan terlalu panik deh,” katanya berpesan melalui Whatsapp-nya. (viq)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional